be curious with...

 



Aa Uwi wrote:

aku bukan lah seorg aktifis AIDS, aku hanya seorang PLU yg mempunyai seorg sepupu yg meninggal karena AIDS bulan lalu. sebelumnya mama ku pernah mengatakan kalo sepupuku richard berobat ke singapore karena infeksi lambung. tapi saat aku mengantarkan mama ku menjenguknya di RS, yg kulihat phisically ciri tubuhnya yug sudah mulai lemah bukan karena infeksi lambung, tapi gejala AIDS......

mama membantah ku, mengatakan agar aku tidak sembarangan ngomong. ternyata ortunya Richard baru tau richard sekarat karena penyakit yg mematikan itu baru 5 bln yg lalu setelah dokter memberikan keterangan pada ortunya. tapi RICHARD meminta agar jgn diberitahukan kepada siapapun.

25 desember 06,
richard, seusai pulang dari kebaktian di gereja pada malam natal. aku melihat banyak sahabat2 nya sudah berkumpul di halaman kebun belakang rumahnya. ada apa dengan richard? oh... lega, ternyata mereka membuat acara pertukaran kado yg biasanya tidak pernah dirayakan richard dengan sebegitu meriah. dari mata richard, ku dapati senyumnya yg dipaksakan, dibalik menahan rasa sakit yg menerjang seluruh urat sarafnya.
26 desember 06, pukul 03.00 dini hari
waktu itu, aku dipanggil keluar oleh salah seorg teman richard utk menggeser mobil yg kuparkir menutupi jalan keluar ditepi gerbang. dan waktu aku kembali ke kebun belakang, ternyata udah sepi, lalu aku masuk kedalam rumah, kudapati richard sudah terbaring di sofa ruang tamu, dan teman2nya berdiri mengelilingi ric dengan muka penuh kecemasan. aku mendekati richard, sambil mengusap keningnya,

richard hanya tersenyum, tampak dengan wajah ke ikhlasannya menunggu ajal menjemputnya.
dia lemah, tak berbicara, hanya ekspresi penuh senyum melihat sahabat2 disekelilingnya. richard memberi ku pesan tertulis, 2 lbr kertas yg terselip disebuah buku agenda kecil. Ric memberi isyarat dengan bahasa tubuh agar aku membacanya.

24 MENIT SEBELUM RICHARD MENGHEMBUSKAN NAFAS TERAKHIRNYA.... (DI SALIN DARI PESAN TERTULIS RICHARD) :

Genegleas - singapore, 18 april 06

hari ini, bukan hari kematian ku.
hari ini, selagi ku mampu,
ku tulis pesan2 ku agar dikemudian hari nanti,
disaat aku sudah tak mampu lagi berbicara n nafas ku lemah,
pesan ini dapat mengiringi ku dengan tenang sebelum aku menghembuskan nafas terakhir ku.

papa, mama dan seluruh keluarga, sahabat dan teman2 yg ku cintai.
Ric minta maaf karena selama ini sudah menutupi kalo Ric
mengidap HIV + sejak 6 tahun yg lalu.
Ric baru tahu setelah 2,5 tahun atas saran instruktur
aerobic ric utk melakukkankan test HIV di perak - malaysia.
Ric tidak mampu menerima kenyataan ini,
karena harus hidup dalam kebohongan dan segala kekurangan fisik yg tak mungkin lagi ditutupi.
namun ric tetap bertahan utk tidak mengecewakan mama dan papa.

Dulu Ric punya prestasi bagus, Ric mempunyai segudang prestasi
olah raga di campus, Ric sudah membuat mama dan papa bangga saat
itu, mama pernah mengatakan sangat bangga melihat wajah ku sering
muncul di majalah2 di luar negeri sebagai model cover.
tapi kini, kebanggaan itu sesungguhnya adalah milik Eric,
Eric lah yg harus berbangga, bangga memiliki mama dan papa bisa menerima eric ketika mengetahui kalo eric seorg gay. thn lalu ric kembali ke rumah, membawa sejuta kesedihan setelah teman2 Ric di Malaysia mengucilkan Ric karena HIV yg bersarang di tubuh Ric dan sampai kondisi ku yg sebenarnya tak bisa kututupi lagi. Mama dan papa tetap berusaha memberiku semangat utk bertahan hidup meski aku tau bagaimana sedihnya mama juga papa mengetahui Richard tinggal menunggu ajal.

Sebelum Ric pergi, izinkan Ric memberikan pesan terakhir...
jgn pernah tidak mengindahkan resiko mematikan ini karena kenikmatan sesaat. aku sakit bukan karena penyakit, tapi yg paling menyakitkan adalah melihat papa dan mama menangis karena kondisi ku yg lemah, sakit karena selama menekuni profesiku di malaysia, semua teman2, sahabat2 ku serentak menjauhi ku. tapi inilah jalan hidup ku, aku harus pergi tanpa di beri kesempatan utk memilih,

aku juga minta kepada teman2 ku yg pernah berhubungan dekat dengan Richard, segeralah periksakan diri. Ric bukan bermaksud jahat, Ric baru 2 thn yg lalu tau kalo ric telah mengidap HIV sejak 4 thn sebelumnya. tapi sungguh Ric tidak tau, karena saat itu belum ada gejala pada
tubuh Eric sampai 2,5 thn yg lalu ric melakukkan test.

dan Eric sangat berharap dengan nafas terakhir eric memohon, agar teman2 jgn pernah menjauhi dan mengucilkan org2 seperti Eric. kadang tubuh kami sakit dan masa hidup kami menjadi lebih singkat, bukan karena penyakit mematikan ini, tapi karena kami harus menahan sakit karena orang2 yg kami sayangi, menjauh dan tidak pernah mau mengerti kesunyian hati kami. orang mencibir, mengucilkan Eric dan bahkan mengucilkan keluarga Eric.

( belum habis aku membacakan isi pesan Eric di hadapan orang2 yang berkumpul di ruangan itu, tiba2 mama eric menangis dan memeluk Richard yg telah menghembuskan nafasnya)

ya, Juan Richard Salim, telah pergi...........


########

teman - teman undercover,
aku melihat dan merasakan detik2 yg menyayat hati malam natal dini hari itu. aku sungguh kaget, hubungan ku dengan Richard sebenarnya tidak terlalu dekat, kami dekat waktu masa kami remaja, dulu setiap minggu kami sering bertemu di rumah nenek, kami sering pergi mancing di sungai, setelah itu kami mandi bareng berbugil ria, tapi aku sekarang baru sadar mengapa masa itu Eric sangat suka memperhatikan mas Eko ( supir pribadi )yg juga suka mandi bugil bareng kami di tepi sungai sebelum mengantar kami kembali ke rumah nenek. hm... richard, aku sungguh kaget karena Richard sendiri jg adalah seorang PLU, aku masih ingat waktu thn 2001 aku mengunjungi Richard di Kuala Lumpur, seusai kami Gym di apartmentnya,
habis mandi dan aku bugil keluar dari toilet, dia menarik tangan ku dan massage seluruh tubuh aku, karena dia mengaku sedang mempelajari massage di tempat yoga. aku nurut saja, tapi tentu aku menjaga agar jgn sampe ketahuan siapa aku sebenarnya.

sejak dia menamatkan bangsu SLTP, kami sudah jarang bertemu. namun aku sangat berterima kasih kepadanya, semasa dia menekuni karier catwalk dan modelling di Malaysia, dialah yg menjaga ke dua adik ku yg kebetulan juga skul di sana.

aku jadi bertanya-tanya, mungkin aku juga sudah mengidap HIV, hanya saja aku belum tau karena gejala nya baru akan muncul setelah menjadi AIDS. tapi syukurlah dan Thanks Richard,
sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, dgn segenap kekuatan yg masih tersisa, dia masih berusaha menyadarkan org2 seperti kami yg tidak tau diri. aku sangat gugup waktu minggu lalu aku mengambil hasil test ku yg ternyata hasilnya HIV negatif. thank GOD! jika aku terus melakukkan petualanganku, mungkin suatu ketika aku akan bernasib sama dengan Richard. setelah Richard pergi, teman2 Richard banyak yg melakukkan test HIV, karena sedikit ku dengar beberapa teman yg datang pada malam natal itu. adalah teman sesama PLU yg pernah melakukkan hubungan intim dengan Richard sebelum Richard menyadari dirinya telah mengidap HIV +.

teman2 undercover,
story nyata di atas tadi, adalah sebuah hikmah penting yg kusaksikan dgn mata kepala ku sendiri.
dan selama ini, apakah teman2 pernah bertanya pada diri sendiri :

  1. apakah tidak mungkin kalo tanpa di sadari, saat ini pun sebenarnya didalam tubuh kita sudah mengidap HIV + ?
  2. apakah selama ini bukan tidak mungkin kita sudah mengidap HIV + dan tanpa disengaja telah menyebarkan HIV ke pasangan intim kita?
  3. apakah kita pernah mengucilkan dan menjauhi mereka penderita HIV + seperti mayat hidup di tengah masyarakat yg harus melewati hari
penuh dengan kepedihan dan kesakitan?

aku berharap dengan email ku yg panjang ini dapat menggugah perasaan dan kesadaran teman2 semua, bahwa cinta adalah hubungan yg universal, tumbuhkan rasa cinta itu selagi kita mampu dan bisa, dengan menyadari bahaya HIV dan memberikan cinta dalam kondisi apapun kepada penderita HIV + / AIDS. sebab penderitaan akibat AIDS bukan hanya dirasakan si penderita,
tapi juga keluarga dan saudaranya. maka berikan mereka ruang dan waktu yg lebih panjang untuk menikmati secerca harapan didalam penantian ajalnya.

Taufik Hidayat wrote:

Hmm,
Kita semua adalah aktifis AIDS, Sekalimat kata yang kita ucapkan pada teman kita: "Sebaiknya hindari ML sebelum menikah", atau "Setia lah pada satu pangan tetapmu", atau "Jangan lupa pakai kondom dan pelicin berbahan dasar air ya" adalah cukup untuk mengangkat diri anda menjadi seorang aktifis. Apalagi jika anda menangis sedih jika anda sampai tidak bisa menyelamatkan orang yang suspect (spt flu burung) pengidap AIDS..

Dan seorang aktifis sejati adalah sukarelawan yang bersedia bekerja demi kemanusiaan dari pencegahan tertular HIV sampai penanganan jenazah pengidap AIDS (jika tidak ada yang mau menanganinya). :) Saya percaya, banyak dari kita.. jangankan mbungkusi mayat pakai kain kafan, melihat bentuk mayat yang terbungkus kafan aja gak berani ya. Its okay2 ajah -itu sangat manusiawi. Takut liat orang mati, tapi kita sendiri sering gak ingat kalo kita akan berbentuk seperti itu kelak kalo mati.

Saya ikut prihatin! Tapi, yang jadi pertanyaan saya: Apa yang Richard lakukan sejak 2,5 tahun lalu, sejak dia pertama kali tau kalo udah positif HIV? 2,5 taun adalah waktu yang cukup lama untuk melakukan konsultasi dan terapi2 pengobatan HIV.

Saya sedih, satu lagi PLU yang meninggal muda gara2 tidak ada keterbukaan tentang penyakitnya... Padahal seandainya dia terbuka tentang penyakitnya.. dengan segenap usaha dan optimisme kemungkinan besar sekarang si Richard masih hidup dan tetap berbugil ria (¿?) :)

Hidup mati di tangan Tuhan, tapi manusia harus berusaha untuk tetap survive. Untuk teman-teman yang lain: Jangan putus asa, harapan besar untuk sembuh dan bisa beraktifitas seperti biasa terbuka lebar jika kita mau terbuka dan merenung bahwa jika kita masih diberi umur panjang, maka kita bisa melakukan hal yang terbaik yang bisa kita lakukan untuk semua orang.

Banyak macam terapi untuk pengidap, dari yang sangat medik sampai pake ramu2an dan jamu2an tradisonal. Dari terapi psikologi sampai terapi "tetap tersenyum walau ajal sudah menjemput'. Semua saling menunjang, dan saya melihat sendiri banyak yang bisa berumur panjang bertahun2 dan belasan taun karena rajin terapi dan disiplin.

Masalahnya adalah, maukah anda terbuka dengan orang yang tepat dan bersedia berjalan bersama dengan teman2 yang peduli dengan anda? Teman yang tepat adalah pelita anda dalam kegelapan, dimana anda meraba2 dalam ketidak pastian. Temukan itu, dan jangan patah semangat!!! Jangan mau mati muda padahal anda bisa menghindarinya!!

(ih gw kok jadi galak) merdeka!

To Rudyanto: saya ikut berduka atas kehilangan teman anda.



Posted by arifkurniawan
(diambil dari http://arifkurniawan.wordpress.com/2006/12/14/gaymilid/)

Tulisan ini, dipengaruhi oleh komentar saya sendiri di situs kelola, sebuah situs yang berhubungan dengan nama-nama domain di internet.

Judul pada sebuah artikel di kelola amat jelas. “Jangan Remehkan Gay!”

Artinya cuma satu: “Ada yang meremehkan Gay”

Setelah itu, muncul pertanyaan di benak saya?
1. Siapa yang meremehkan Gay?
2. Kenapa Gay diremehkan?

Dua pertanyaan diatas ga bisa saya jawab. Kalau rocker boleh jadi manusia, boleh punya harga diri, boleh punya pride about themself. Kenapa Gay tidak?

Hari ini saya baca koran SPITS, salah satu koran terbesar, gratis pula, di negeri antah berantah yang saya tinggali saat ini. Bahwa tiga organisasi gay mendapat penghargaan dari salah satu organisasi PBB yang mengatur sosial dan ekonomi, Economic and Social Council (ECOSOC). Mereka adalah Ilga Europe, Deense LBL dan Duitse LSVD.

Kenapa dapat penghargaan? Karena tiga organisasi ini berjuang keras untuk mengatakan “Hei, GAY juga manusia! Punya hak untuk hidup!”. Mereka berjuang agar kaum gay tidak disisihkan dilingkungannya.
Emang benar, gay disisihkan dari lingkungannya?

Astaga man! Coba sekarang kalo gue bilang gue gay… apa koment lo pada tulisan ini?
Terus coba kalo gue bilang yang baca tulisan ini adalah gay… apa koment lo pada tulisan ini?
Atau coba saat baca ini, lo bilang pada bapak lo bahwa lo gay?

Kontraversi?
PASTI!

Gay adalah kaum yang tersisihkan di Indonesia. Atau di beberapa negara-negara yang mayoritas penduduknya religius. Saya ingat, dulu waktu kecil, ketika mengaji di rumah Wak Haji Tile (serius man, guru ngaji gue dulu namanya Pak Tile. Betawi aseli. putera Cilincing 100%, sama kayak gue). Beliau menceritakan mengenai sebuah kisah dalam kitab suci bertema Sodom Gomorah. Ahh, begitu pedihnya kisah tersebut. Satu kaum yang dilaknat Tuhan. Begitu mengerikan…
Toh, cerita Sodom Gomorah begitu menakutkan di setiap telinga anak kecil… bahkan ketika sudah dewasa pun cerita itu masih menakutkan.

Lantas apa yang terjadi?
Yang saya tahu, sejak saya kecil… julukan “bencong” adalah julukan yang paling hina yang pernah ditujukan buat laki-laki!
Setiap anak laki-laki… selalu pantang disebut banci!
Setiap anak laki-laki, terlahir sebagai pemberani?

Loh bagaimana kalau dia cengeng?
Bagaimana kalau dia lebih suka main boneka-bonekaan ketimbang pistol-pistolan?

Lebih jauh lagi…,
Bagaimana kalau dia ternyata suka laki-laki?

Pasti dianggap “sakit”!
Lalu, Hetero dianggap sehat?
Astaga!
Loh terus bagaimana yang menganggap Gay itu juga manusia?
Pasti dianggap… “Ahh dasar lo banci!”
Terus bagaimana dengan orang-orang yang menganggap gay adalah sebuah penyakit?
Hah, masak lo ga tau… itu penyakit juga man… namanya Homophobic!

Terus apa hubungannya dengan Gay.Mil.Id?

Hubungannya adalah…
“Coba bayangkan, apabila semua orang di Indonesia menyisihkan kaum Gay. Dan ternyata, dalam lingkungan militer (yang kebanyakan cowok dan jarang ceweknya) ternyata banyak gaynya. Dan suatu ketika mereka kesal. Dan marah, tersisihkan dari lingkungan. Lalu, mulai mengangkat senjata membuat perekrutan melalui website gay.mil.id… Dan lalu mempunyai misi suci…, membunuhi semua hetero di Indonesia. Apa yang terjadi? Balkanisasi episode 2 atau Timorisasi versi baru? Tinggal pilih”

Ahh… itu mah paranoia yang nulis aja…

Hahaha… lo ga tau yee. Militer saja membantai PKI sampe habis. Apalagi cuma hetero!


  1. ricorea Says:

    “Hahaha… lo ga tau yee. PKI aja dibantai ama militer ampe abis. Apalagi cuma hetero!”

    Hahahahaaa… Nice quote.

    Gw juga pernah nulis artikel serupa di blog gw jg waktu gw ngomentarin film “Brokeback Mountain”.

    Intinya, klo masalah hak/asasi (sebagai manusia), gw pasti jamin dan gw ga akan/ga pernah menyisihkan kaum gay. Cuman hak asasi berkeluarga/menikah yg gw TOLAK KERAS! Bukan dgn latar belakang agama. Tp latar belakang manusia MESTI berketurunan sebagai ketentuan evolusi.

    Trus ada argumen “suatu saat manusia mempunyai hak utk tidak mempunyai keturunan”. Itu artinya ada aturan yg mesti diamandemen. Kta gw mah ENGGAK! Itu bunuh diri jek. Nah, siapa yg setuju dgn bunuh diri? Ini beda banget ame eutanasia. Hehehehe…

    Rukun yee…

  2. harry Says:

    Gay, sebagaimana makhluk hidup lainnya, tentu punya hak untuk hidup. Tapi kalau kemudian lantas dilanjutkan menjadi hak untuk mempromosikan gaya hidupnya, ini sudah tidak benar.

    Secara alami, homoseksualitas jelas adalah penyimpangan.

    Saya cerita sedikit; ada kawan saya yang gay. Tapi karena tekadnya kuat untuk berubah, maka dia bisa menikah dengan wanita. btw; kebetulan istrinya juga rada tomboy sih hehehe :)

    Saat ini anak-anak mereka justru sudah lebih banyak daripada kebanyakan pasangan lainnya. Alhamdulillah mereka, setahu saya dan pengamatan kawan2 yang lain, hidup dengan bahagia.

    Kalau gay dipromosikan, takutnya yang tidak gay pun jadi terjerumus.
    Lha yang gay saja bisa berubah jadi straight, tentu kebalikannya pun bisa saya kira.

    Tapi yang paling vital adalah agar kita dapat merangkul mereka. Jangan dimusuhi !
    Dalam kasus kawan saya diatas, walaupun terpergok basah oleh saya (kaget banget saya mas, hehehe), saya bertindak seperti biasa saja.
    Saya tetap menjadi kawannya, saya bantu jika dia ada masalah, saya beri saran kalau dia meminta, memberikan dukungan ketika dia sedang stress, dst. Sedikit2 juga memberikan nasehat2 seputar pernikahan jika sedang ada masalah.
    Alhamdulillah sampai sekarang perkembangannya terus semakin bagus (tendensi gay nya terus berkurang).

    Summary; gaya hidup gay please jangan dipromosikan. Nanti malah jadi menjerumuskan yang sebetulnya bukan gay.
    Dan jika kita tahu ada kenalan kita yang gay - jangan dikucilkan ! Rangkul dan dukung mereka dalam usahanya untuk menjadi semakin baik.

    btw; nice blog, artikel2nya walaupun baru sedikit tapi bagus-bagus ! saya paling suka yang tentang free-pitch, good stuff.
    Salam kenal dari saya.

  3. bram Says:

    halo..
    salam kenal

    ada benernya juga sih untuk ga mempromosikan gaya hidup gay.

    kadang gw juga males gaya penyiar radio jaman skg, yang malah gayish.. atau presenter di tivi-tivi yang dipikirnya makin centil makin banyak job..

    tapi sebenernya buat kalangan gay sendiri. terutama temen-temen gay yang udah bisa menrima diri bahwa, “yess, i’m gay, and there’s nothing i (nor u) could do about it,”

    bukan status orientasi mereka sebagay gay yang ingin mereka tunjukkan pada masyarakat. tapi, gay people lebih ingin membuktikan, “i’ve got something more for u to see, despite my sexual orientation. so please don’t you close your eyes on that”

    maka di sana kaum gay butuh kesempatan yang sama. dalam bidang apapun, untuk bisa menunjukkan prestasi mereka.

    saya bersyukur sebenernya sistem kita sudah mendukung persamaan hak itu. (atau mungkin sebenarnya belum pernah menyentuh pengaturan hak kaum gay)sehingga gay people masih bisa menunjukkan kebiasaanya di berbagai kesempatan.

    sayang pandangan negatif masyarakat terasa lebih kuat, sehingga banyak gay people malah menutup diri, dan tidak bisa berkembang karena alasan takut tidak diterima masyarakat.

    hampir sama kaya manusia sama ular. semua punya cara masing2 untuk mempertahankan diri. manusia takut dengan ular terus bilang ular itu jahat karena bisa melukai. sementara ular cenderung malas bertemu dengan manusia.

    sayangnya setiap manusia bertemu dengan ular, selalu berusaha membunuh ular. atau kabur sejauh mungkin. hal ini karena pemahaman yang sudah lama ditanamkan pada diri manusia. bahwa ular adalah musuh.

    sehingga ular terpaksa selalu bersikap agresif. meski hanya untuk mempertahankan diri.

    padahal kalo manusia bisa menyesuaikan diri dengan ular tersebut. atau setidaknya tidak saling mengganggu. kontak yang disertai dengan kekerasan antara ular dan manusia, akan lebih sedikit terjadi.

    well cukup dengan cerita manusia ularnya

    yang sekali lagi pengen saya tekankan. ngga pernah ada niat gay people untuk menyebarkan orientasi seksualnya. atau juga promosi. mereka ngga pernah sampai minta diadakan pride parade kaya di luar2 sana kok.

    gay people cuman ingin lebih diterima. lebih bisa saling menyesuaikan. dan tidak dipandang sebelah mata ketika kamu tau orientasi seksualnya

    they have more than that..
    and it’s good

    more about gay life
    www.queercurious.blogspot.com
    (bukan promosi, sekali lagi. hanya sekedar berbagi pendapat)




gugun wrote:

Masih ingat tentang kisah seorang gadis jatuh cinta ama pria g? Nggak tahu kenapa, katanya pria g itu pedulian, baik hati, tidak sombong dan suka menolong..hehehe (nggak semua sich). Tapi itulah, bahkan ada yang nekat ngaku-ngaku sebagai g agar bebas berdekatan dengan cewek pujaannya... masa sih?

Eating Out adalah film komedi yang aneh! Caleb, seorang cowok straight berpura-pura menjadi g agar bisa berdekatan dengan seorang cewek cantik. Si cewek hanya mau 'hang out' dengan cowok-cowok g (aneh ya?). Mungkin masuk akal juga. Si cewek, Gwen merasa aman berada di komunitas tersebut, ya.... karena yang tadi itu... katanya co g : pedulian, baik hati, tidak sombong, suka menolong dan nggak bakal nyosor atau berbuat tak senonoh. Hahaha.

Bersama temannya yang g, Caleb datang ke pesta untuk menemui sang cewek. Gwen langsung tertarik hang out dengan Caleb. Pada awalnya Gwen tak langsung percaya bahwa laki-laki se-macho Caleb adalah seorang g. Beberapa kali Caleb lolos dari godaan Gwen.. bahkan ketika dimacam-macamin, Caleb berusaha untuk tak terpengaruh. Lalu apa yang terjadi kemudian? Gwen menjodohkan Caleb dengan temannya, Marc, yang kemudian tergila-gila pada Caleb. Caleb terpaksa harus berpura-pura nge-date dengan Marc agar penyamarannya tak terbongkar...

Eating out (2004) di bintangi oleh pendatang baru Scott Lunsford sebagai Caleb. Scott belum banyak membintangi film dan aktinyapun masih datar-datar saja. Cenderung kaku. Untungnya doi punya tubuh yang aduhai (husss!). Sang cewek, Gwen diperankan oleh Emily Brooke Hands, lagi-lagi aktris pendatang baru. Hanya Ryan Carnes (sebagai Marc) yang cukup di kenal
disini. Ryan pernah bermain sebagai Justin, pacarnya Andrew, anak Bree di "Desperate Housewives" sesion 1 & 2.

Secara umum film komedi ini tidak lucu. Cerita dan akting pemainya tak sedikitpun memancing tawa. Kalaupun akhirnya kamu-kamu tertawa, akan terasa garing. Tapi ya sudahlah, tetap ada hal yang masih bisa kamu nikmati di film ini. Minimal kamu jadi lebih termotivasi untuk ke gym dan salon (idih) ketika melihat tubuh dan wajah Caleb dan Marc!
Huwahahahahahaa......

gugun
gmovies multiply com



anda wrote:

eh,skg gw lg suka bgt ma temen ma
temen gw, dia straight...

gimana donk...

Nugroho Setiatmadji wrote:

Berteman boleh aja. Tapi kalau mo lebih dari sekedar berteman ama orang straight jangan deh. Belum tentu dia bisa menerima dunia gay dan bisa2 kaget kalau akhirnya tahu kau gay.


qinkqonk wrote:

hehehe...
gw pernah lebih dari sekedar berteman ma straight

dua kali pacaran ma mereka
well.. ga bener2 pacaran siy..
but we had a commitment

gw bilang i need u, he said he would be always be there for me

yang pertama pergi karena dia ngeliat gw gaul dengan PLU di internet
"lebih baik satu aja yang rusak, jangan dua-duanya"

yang kedua ninggalin gw karena didesak ama lingkungannya
"gw ga bisa cuek kaya elo, gw masih punya keluarga yang musti gw turutin"

but they kept their straightness
paling banter kami cuman curhat, ngobrol, sentuhan2 kaya sodara aja
meski ama yang kedua gw sempet tinggal bareng ma dia

tapi udah masa lalu...

tentu aja gw gay normal.. gw suka cowo
ga peduli apa dia straight atau gay..
kalo buat gw menarik, tentu gw penasaran

tapi dari awal gw selalu menegaskan ke dia
okay gw tertarik ama elo, tapi bukan berarti gw horny ama kont*l lo

di pertemuan kedua, bisanya gw kasi tau ke dia alasan kenapa gw suka dia
"hum, lo orangnya asik yah.. gw pengen kenal lo lebih deket, kapan2 jalan bareng yo!"

kalo dia ngga keberatan, tentu gw akan punya kesempatan tau siapa dia lebih banyak
mungkin malah bisa menetralisir rasa penasaran gw ke dia

end up as good friends forever

atau malah dia mungkin juga nemu sisi yang menarik dari diri gw
dan will have something special in between

"I appreciate people who appreciate me"

kalo misal mereka keberatan, kaget, atau ga bisa nerima keadaan gw being gay
sure it's okay. gw juga ga maksa dia temenan ma gw kok

yang jelas gw males banget kalo trus sok ketinggian
ngira gw demen ma tampang dia atau sexually attracted and just looking to be in adultery section

itu juga sering terjadi ma gw..
ada yang sempet GR, trus berusaha mancing gw untuk bilang gw gay, dan gw suka ma dia
lalu ngata2in gw..

haha.. but i always have a reason why i came to him.. in diplomacy

dan beberapa hari terakhir ini..
ada lima straight people, who message me
and said, they ere sorry..
it was indecent behavior to treat me like that
and that they should give some appreciation after my friendship offer

and they want to be friends again..

jadi, selama kita bisa menjaga dignity, mereka ga punya alasan merendahkan kita


sstrrong wrote:

e-mail ini aneh, what is he trying to imply???...
katanya lebih dari bertemen kan artinya pacaran: pacaran mengikutsertakan love and sex, kalau gak pernah have sex ataupun minimal ciuman dan tidak ada ada rasa sexual namanya bukan pacaran nah kalau yang straight pacaran sama sesama jenis namanya bukan straight lagi dong, (jadi jangan bangga bisa have sex sama straight karena diboongin, he is not straight after all for sleeping with am man is he?)

kalau pada intinya dia pengen cerita bahwa dia bisa berteman akrab sama orang yang bukan gay tapi dua2nya menghormati satu sama lain, gw ngerti deh, tapi ini aneh....

ANYWAY! percaya deh, gak susah kok membuat orang menerima kita asal kita gak aneh dan gak merugikan orang. Gini deh, teman yang tulus dan emang beneran mau berteman harus bisa menerima kita apa adanya. Gw juga dulu begitu dan kemudian gw capek boong2 toh ternyata
setelah gw ngasih tahu temen2 gw bilang mereka udah menduga (jadi bisa jadi temen2 kalian juga sudah menduga2) dan mereka (alhamdulilah) emang berteman karena tulus mau temenan dan otaknya gak sempit. Nah emang sih pasti ada ketakutan gak punya temen, tapi gini deh, elo mau temenan sama otaknya sempit dan nerima lo cuma karena ini itu bukan karena elo apa adanya? alhamdulilah juag temen2 gw sekarang bisa nerima dan kalau yang gak bisa nerima WHO CARES!?

gw masih bisa nyari temen yang lain. tapi sih emang ekstrem banget heheheh, kalau memang belum merasa sanggup ya jangan dulu, nanti shock dan depresi pada awalnya. pokoknya anyway "TREAT PEOPLE THE WAY THEY TREAT YOU" aja dengan "RESPECT EACH OTHER" gw yakin kedamaian akan ada di bumi
(sayangnya belum terjadi)


qinkqonk wrote:

hummm... ada yang salah nggak ya dengan pola pacaran jaman skg... selalu mengikutsertakan sex
buat gw pribadi sih pacaran itu lebih pada cinta dan komitmen
perasaan cinta yang mendasari dua orang untuk bikin komitmen saling setia dan membahagiakan

terus.. pernah denger nggak
straight man who has sex with man??

dari penelitian di luar negeri sono, emang ada kok cowo straight yang pernah / suka having sex dengan cowo lain
dan itu nggak mempengaruhi orientasi sexualnya, jadi gay / bisexual
coba googling deh.. gw lupa alamatnya

dan di sana disebutin
kadang buat seorang cowo
bisa jadi dia jatuh cinta pada seorang cowo juga
tapi dalam kondisi tersebut dia melupakan status sex pasangannya
karena dia udah ngalamin perasaan nyaman ketika berada di samping pasangan tadi

dalam hubungan ini, cowo straight tersebut jatuh cinta pada sisi personal sang pasangan
dia tetep ngga horni ngeliat pasangannya telanjang, dia ngga horni ngeliat model cowo bugil
tapi dia haus banget afeksi yang diberikan oleh pasangan

guess that's similiar with what's on my mind..


Size Size wrote:

kingkong.. lu dr kmrn terobsesi bgt dah ama co str8..........! cape dehhhh!

dan tolong bedakan antara pacaran dgn sahabat.......! oh ya gmn kmrn jadi ketemuan ama pacar str8 km beserta dgn cewenya? 3some ga jeng? wekekeke!


qinkqonk wrote:

hehe... iya nih...
kalo lo baca blog gw..
gw emang terobsesi ama cowo str8 dan jarang bgt naksir PLU
kelainan di diri gw kali yah

kmaren tuh cowo akhirnya dateng ..tanpa pacar cewenya
we had a nice dinner for two
and sent me message after night

wish me luck ya


sstrrong wrote:

Lah kalau dia nge-date atau pacaran sama elo (yang juga laki) berarti dia bukan straight (hetero) dong... nah, apa elo masih mau sama dia?


qinkqonk wrote:

hehe..
selama hubungan kami
gw masih ngehargain statusnya being straight
jadi gw berusaha ga mikir ke hal-hal yang mungkin bakal disesali bareng

tapi kalo ternyata dia jadi beneran suka cowo, sexually.. and it wasn't me
KYAAAA!!! it's realy-really over man

he has became gay, so it means goodbye
hahahahahahaha

Nice Guy wrote:

Menurut loe "kelaianan" lo itu normal pa ga? Napa normal ato napa ga normal?

N lo bilang "wish me luck" yang berarti loe berharap jadian ma dia. N walo kata lo pacaran ga musti berarti sex (yang gw agree juga), tetep kan itu namanya gay relationship, hubungan co suka ma co. So, let say lo mang "normal", pastinya lo ga ada yah yang namanya "guilty pleasure" make him turn to gay relationship karena itu normal?

Ato jangan2 lo malah merasa berjasa make him find his true sexual identity?
Good for you then.


qinkqonk wrote:

hihihi...
sambil gw baca postingan ini

cewenya sms gw
halo bram, ni gw cewenya yogie.. sorry ya klo gw mau nanya ma lo, soal profile lo yg di YM, stlh dinner ma ogie lo nulis 'i had dinner with d one' gw siy ga khawatir apa2, tapi gw ngrasa ada yg aneh aja ttg lo.. gw nanya langsung aja biar ga slh paham aja. sorry bgt ya.. thanx jg
--

wekks..
gw ma temen gw langsung ketawa
akhirnya kejawab juga kenapa gw mpe migren tadi seharian mikirin soal status
relationship gw ma tuh cowo

taun lalu gw sempet penasaran ma dia
tapi karena dia mundur, not interested, he's straight, etc..
gw juga got over him..

tau2 minggu lalu dia sms gw
dia minta maaf ke gw
salah menilai gw
dan pengen ngenal gw lebih deket

so he arranged that dinner
di awal dia sempet mo ngajakin cewenya juga
gw becandain "kalo lo bawa cewe lo, gw bawa siapa dong?"
taunya dia dateng sendiri
jemput gw di kantor

we had dinner, we had chat
sampe dia kepikiran besoknya dia mo stay di tempat gw
sekalian pengen nyobain ruangan kosong yang bakal dipake studio di tempat gw

gw sempet mikir.. wahhh this was a smooth progress
sebalik kami makan,

gw sms dia;
"thx for dinner. it's been a great evening. kalo lo ngrasa ga nyaman, you speak ok!"

dia bales;
"just let it flows, man!"

....

besoknya gw sengaja pulang kantor siangan
beres2 kamar kasih wangi2an
xixixixi....

ampe gw cape sendiri dan ketiduran
gw bangun kaget, karena sempet ngimpi dia udah dateng
tapi pas gw melek, ga ada sapa2 di kamar gw

gw sms dia;
"lo jadi ke sini kan? kalo mo keluar kasi tau oks! hehe.. gw jadi addicted neh"

trus gw nelp dia, dia bilang ga bisa malem ini. dan ada yang pengen dia omongin.
tapi ga bisa skarang
dubbb...

wah.. udah ada yang ga beres nih..
gw kepikiran itu spanjang malam

gw sms ke senior gw di tempat gawe, cewe
karena cuman dia yang tau soal hubungan gw ama si yogie ini..

(ini gw copy+paste dari blog gw aja yah... bukan gue= gw sendiri; temennya=senior gw)

Bukan Gue:
Hehe.. lagi dimana? Sedih nih. Smalem pas dia ngajak makan bareng, gw jadi ngrasa bisa temenan lagi ma dia. Makanya gw cerita banyak disana. Tapi malam ini dia bilang ada yang pengen diomongin, dan ga bisa skarang. Well, gw pikir dia udah berubah pikiran lagi. Jadi gw ngerasa kehilangan banget. Wah, padahal baru skali ketemu. Damn, gw kecolongan.

Bukan Gue:
Aduh.. Kirain gw dah aman dari perasaan spt ini. Tapi malah nglepas smua bahkan pas pertama kali ketemu orang yang gw kira bakal bertahan lama. Mau merem dulu deh. Siapa tau besok lupa.

Temennya:
hey hey, siapa ni skg?

Bukan Gue:
Huehehe. kalo cowo gay sih gw dah ga ngarepin

Temennya:
Tau ga apa yang dia bilang ke aku tentang kamu? Dia bilang kagum sama kamu. Sebagai teman dia biang telah salah menilai kamu. Mungkin dia mau ngomong itu ke kamu.

Bukan Gue:
Yeah.. kalo itu dia dah bilang sebelumnya. Tapi kalo tadi sore dia bilang pengen ngomong sesuatu. Apalagi setelah semalem ngobrol banyak. Tentunya dia dah berubah pikiran lagi. Perhaps I'm too freaky to be friends. hehehe..

Temennya:
Positive Thinking aja. Biar ga parno. Ntar hal-hal yang tak kau harapkan malah terjadi kalo parno. Emang ada sesuatu yang disengaja maupun tidak, mengganggu kalian?

Bukan Gue:
Yang jelas setelah dia minta maaf minggu lalu. Aku kepikiran terus. Seneng karena bisa deket lagi. Bingung karena ga tau mau dibawa ke arah mana pertemanan ini. Sekaligus takut bakal berakhir ga enak kaya yang udah-udah. Setelah semalem, gw sms ke dia. Say thx n bilang kalo bisa-bisa gw jadi addicted ke dia

Temennya:
Hehehe. Sepeti addicted to blog? :D Ya kalo kamu tau itu problemnya, minta dia untuk bantu kamu membangun pertemanan yang sehat. Yang ga jadi candu satu sama lain.

Bukan Gue:
I guess so. Hehe. Thx Mau merem dulu, Pusing kepikiran ini mulu dari tadi.

Temennya:
Udah istirahat dulu, Tarik nafas. Hembuskan pelan-pelan. Biar tidurnya enak. dan besok bangun pikiran udah seger. Have a nice dream - big hug-

...

terus gw mutusin buat udahan..
smua sms / call record dan nomor dia gw apus
biar gw ga bisa ngubungin dia lagi
....

besok paginya (today)
gw masih kepikiran
gw offline msg di YM dia;
"Aku kepikiran terus. Seneng karena bisa deket lagi. Bingung karena ga tau mau dibawa ke arah mana pertemanan ini. Sekaligus takut bakal berakhir ga degan rasa kehilangan yang lebih besar. mungkin ga kita kembali ke masa pas lo sms ke gw minta maaf. i'll keep admire u like that. kecuali lo ga akan pergi lagi, gw bakal berusaha belajar banyak dari lo. take care!"

gw migren seharian..
makanya tadi siang tidur aja di kantor
baru bangun (terus nemu message ini)

dan balik ke cewe itu sms..

gw bales sms cewe itu;
"oh nothing personal. just a tagline. lagian gw baru baikan ma dia. jadi ga ada masalah apa-apa lagi. lam kenal yah!"

cewenya bales;
"ya gapapa.. cuma lo jadi jangan salah sangka juga kalo dia ga ngangkat telp lo. kmaren katanya nelp ga keangkat ya? dia juga ga nyangka lo mace,2 juga koq.. nice2know you :)"

gw tutup dengan sms lagi;
"yepp2. toh skg juga dah ga ktemu lagi. hav a nice day. take care both of u"

---

so skg gw officially off of him

gw ga pernah ngerasa salah dalam making relationship ama cowo straight
karena selama ini yang gw lakuin gw cuman expressing my feeling to someone i like ..or loved
terserah itu berbalas atau ngga.. bukan gw yang maksa

dan beberapa kali hav had relationship with straight people
ngga selalu pacaran, meski gw akuin udah nyangkut pribadi ama perasaan

gw selalu ngerasa gw mendapat banyak hal dari hubungan kami
ama yang pertama, dia bantuin gw lulus sekloah dengan nilai bagus
ama yang kedua, kami kerja bareng bikin event di kampus
ama yang lain, kami sempet ngerjain web bareng and made money of it
ama yg cowo ini.. gw masih bingung mo dibawa ke mana

gw tau hubungan cowo ama cowo pastinya ga akan bisa dianggap normal ama straight people
makanya gw selalu nekenin, gw cuman berusaha jujur ma diri gw
untuk ngga ngebohongin diri gw soal apa yang gw rasain
and i respect u, if u dont agree with my feeling
but if u do, don't make it any worse, we can have something mutual from our
relationship

and again, during our relationship
we never had sex
i wont offer him something we could regret
well, i wont deny if they offer me their body, i'd like to taste it sexually..
hehe

we just talked our opinion, shared our feeling, did something good together
and it was adequate for me
to having someone beside me, so i don't get lonely

and when we finished our relationship
they're back to have another relationship with girl
without forgetting what we had been trough together

so, gw pun sampai ke statement
gw ga ngrasa salah ngajak cowo itu ke dalam hubungan ini
gw juga ga ngrasa bangga bikin mereka bisa berbelok seperti itu

tapi gw ngerasa seneng, karena dalam setiap hubungan kami
gw selalu punya hal baik untuk dikenang

yepp.. it's so good for me..
despite all the emotion and distress i had after my big losts
hehehe

thx for share with me



The wrote:

Halah... males juga sebenernya cerita2x coz gw termasuk anggota milis yang pasif selama ini...

Tapi okelah gw cerita ajah... Pada dasarnya mungkin gw adalah Gay tapi sebenernya apa yang gw lakukan saat ini bisa dibilang Bi.. Gw memang berencana menikah (dengan Cewek tentunya) dalam waktu dekat dan ini membuat gw berfikir dua kali atas jalan yang bakalan gw tempuh nantinya.

Gw merasa apa yang gw jalanin selama ini tidak sepenuhnya salah, karena gw jarang juga sih menjalani hubungan sesama, cuma dulu ajah gw pernah ML tapi gak sampe analsex seh dan itu sudah 2 tahun yang lalu. Jadi gw gak pernah merasa menghianati cewek gw padahal hubungan gue sudah berjalan 10 tahun. Gw beruntung ajah dapet cewek yang pengertian sama gw jadinya semua rahasia hidup gw pun dia tahu..

Cuman nieh, berhubung mau nikah koq gw jadi merasa bingung yah?? takut ajah kalo keputusan gw untuk nikah ini salah meskipun gw yakin bahwa cewek gw itu bener2x yang gw cari selama ini.

Dan baru ajah 4 bulan terakhir gw kenal cowok yang rada reseks, gw gak nyangka dia bakalan ganggu idup gw ajah, dia selalu telepon de el el.. dan barusan 2 hari yang lalu akhirnya gw memutuskan untuk bertindak tegas sama tuh cowok, gw bilang ajah bahwa hubungan ini salah dan gak semestinya kayak begini dan lagian juga gw punya planning untuk nikah,

gw sih bilang sama dia bahwa udah saatnya kita gak saling bicara lagi coz gw gak mau pernikahan gw gagal nantinya. Untungnya nieh cowok bukan tipe yang tempramen dan dia ngerti2x ajah.. cuma sih perasaan was was dalam hati gw tetep ajah ada, takut ajah kalo dia tiba2x berani mengatakan smuanya didepan orang2x yang gw kenal...

Gimana yah? mungkin gak sih kalo saat ini gw lagi bingung menentukan identitas diri sendiri? kira2x gw udah bener lom yah???

i wrote:

selamat atas rencana lo bakal nikah
saran gw sih.. go for it
it would bering u a new happy life
may god be with u both..

soal cowo itu
saran gw paling gampang sih..
cuekin aja

tapi alo sisal dia beneran udah mulai masuk ke kehidupan lo
lo musti bilang ke istri lo ntar
soal ada cowo yang pernah deket ama lo

lo bilang aja, selama ini lo ga nyangka arahnya ke hubungan gay kaya gitu
makanya begitu tau, lo langsung ga mau urusan lagi ma dia
(termasuk bohong ngga sih, hehehe.. cuman yang jelas smua bakal baik-baik aja. istri lo ngga tersakiti. dan toh lo juga bener-bener nyeselin hubungan lo ama tu cowo)

jadi pas tuh cowo itu muncul, dan ngerusak smuanya
lo bisa yakin, istri lo ada di pihak lo

This summary is not available. Please click here to view the post.



okeman wrote:

well come on la....

like it or not.... being gay emank nga normal tuh....

yang normal yah tuh cowo sama cewe.... itu yang normal... u like it or not.... itu yang normal di society... buktinya pada jadi undercover... kalo being gay itu normal kenapa undercover?

ab-normal alias nga normal ngga harus berarti jelek!!!

sb_santosa wrote:

Boleh dong berhayal kalau suatu hari nanti masalah orientasi seksual jadi lebih dipahami dan di terima oleh masyrakat keberadaannya dan bisa di bedakan antara orientasi seksual dengan seks bebas..

Selama ini homoseksual selalu di berkonotasi dengan seks bebas..makanya selalu di anggap enggak normal atau sakitlah..

seperti yang sudah dibilang..boleh dong berhayal... suatu saat kita bisa ngomong kalau kita Gay tanpa harus mengalami pelecehan dan labelisasi sebagai budak nafsu..

Kapok...pernah coming out sama seseorang bahkan sudah terus terang soal status merried eh masih saja cari peruntungan ngajakin yang aneh-aneh walau ndak terus terang tapi cukup bikin
mual;(...celetuknya.."lah elo kan gay!!! " emang kalau gue Gay..so what???


pippo wrote:

udah kok,
skr gay udah ngga dibilang abnormal lagi.
penelitian membuktikan.
yg bilang ngga normal aja yg ngga mau buka mata.


1. suatu yang dianggap normal itu adalah sesuatu yang dianggap oleh orang yang punya kekuasaan sebagai sesuatu yang benar. Kalo yang berkuasa sudah mengatakan sesuatu kedaaan adalah tidak normal, maka orang-orang akan mematuhinya. Contohnya: jama dulu, orang yang berkuasa di Indonesia, mengganggap kalo gay itu penyakit dan tidak normal, buktinya ada UU yang mengatakan bahwa gay adalah orang sakit jiwa (gw lupa UU nya). Tapi skr UU itu udah dihapuskan, tapi knp orang2 masih membenarkan hal-hal yang oleh Orang yang berkuasa dihapuskan? Krn orang-orang itu masih menutup mata, dan ngga mau menerima perubahan. Orang-orang ini ingin seperti orang dulu, pemikiran jaman dulu. Orang yg ky gini biasa kita sebut orang kolot / orang dgn pemikiran
jama dulu (biasanya orang tua/ orang muda berjiwa tua kali ya hehehe). Ini buktinya banyak PLU yang ngga berani bilang ttg orientasi sex mereka ke orang tua, karena mereka tau kalau orang tua mereka masih menganut pemahaman jaman dulu (pemahaman yg kolot). Coba kalo orang tuanya udah open mided, berpikiran
terbuka, wawasan luas, pasti fine2 aja. Gue yakin.

2. dulu gay secara medis dikatakan sebagai penyakit, dan memang benar penyakit adalah suatu keadaan tidak normal dari manusia. Tapi sekarang, pendapat-pendapat
kuno spt itu udah dihapuskan dengan adanya penelitian2 dkter dan ilmuwan di dunia bahwa gay/homoseksualitas bukan suatu penyakit. Jadi gay sekarang bukan dianggap penyakit, dan gay bukan dianggap tidk normal lagi.

3. kata normal itu juga punya banyak arti sebenernya, dan ngga seharusnya dipake buat menggolong2kan manusia. Hari gini gt lho…. Karena manusia sebenernya sama. Kita sama dengan yg lain, kita manusia juga punya hak yang sama dengan manusia lain di dunia ini. Bukankah inti dari agama itu adalah kesetaraan yang bisa membuat kita menghargai satu sama lain, yang membuat kita menjadi manusia yang lebih baik. Ngga seharusnya kita membeda2kan manusia atas gender, orientasi sex, agama, etnis, dll. Kita semua manusia.

4. buka mata dan pikiran

5. ini bukan pembenaran, tapi kenyataan yang emang ada. Gw Cuma mau membuka mata kalian. Jangan berpikir seperti orang kolot dan awam lagi.

6. kita semua sama kok. love u all guys


sb_santosa wrote:

Saya kan melihat dari sudut pandang sosial bukan secara akademis dan memang secara sosial (masyrakat) Homoseksual masih di anggap sebagai sesuatu yang abnormal, ini dipandang dari sisi keumuman seperti yang dijelaskan sdr okeman.

henryfromhamzah wrote:

gak usahlah mikirin pendapat masyarakat atau umum ttg normal ga normal..tanyakan ke hati kecil kamu aja sendiri.

gay yg merasa dirinya ga normal biasanya sih:
1. terlalu didoktrin ajaran agama
2. kurang terbuka pikiran..kurang bacaan ..kurang wawasan
3. trauma krn terlalu banyak ditolak ga tau krn kepribadiannya atau penampilan fisik.

gw ga mau berdebat atas dasar agama atau apalah..tapi liat aja kenyataan sehari hari di masyarakat. apakah setiap manusia punya kecendurangan utk tertarik ke sesama jenis.jawabannya adalah YA 100%. cowo cowo yg cakep mungkin udah ngerasa gimana mereka berada ditengah sekumpulan manusia bermacam jenis. pasti decak kekaguman bukan berasal dari lain jenis doang tapi juga sesama jenis.

ttg gay berubah jadi straight...lo boleh survey jutaan gay/biseks yg married apakah mereka totally hilang nafsu ke sesama jenis. jawabannya adalah NO 100%. kalaupun mereka bilang mereka sudah ga pernah have sex lagi ama cowo sejak married bisa jadi itu karena :

1. sibuk urusan keluarga dan anak..
2. mereka udah tua, penampilan tidak menarik alias tidak laku lagi
3. pergaulan semakin sempit , tidak ada waktu utk cari cari temen cowo.

itulah kenyataan yg ada..terimalah dgn dada terbuka..terutama buat STRAIGHT YG BERJUANG KERAS UTK JADI GAY..sampe dibelain ikut milis ini.


sb_santosa wrote:

Enggak usah mikirin pendapat masyrakat?? how come?? bagaimana bisa??? kita ini makhluk sosial...dari semenjak kita gubrak lahir didunia sampaia kita meninggal akan selalu melibatkan keberadaan orang lain atau masyarakat sekitar kita...

Kecuali kalau kita memang hidup sendiri di hutan...

Apa yang kamu tulis tentang alasan Gay yang merasa dirinya ga normal mungkin ada benarnya hanya saja terlalu sempit jika hanya itu yang dijadikan tolak ukur yang jelas Gay yag tidak merasa nyaman dengan dirinya disebabakan oleh sudut pandang dia terhadap homoseksual yang mana setiap orang mempunyai sudut pandang yang didasari oleh ruang lngkup pengalamanya dan ini pastinya setiap orang mempunyai ruang lingkup pengalaman yang berbeda-beda.

Soal Gay yang berubah menjadi str8, ini bukan kepada orientasi seksualnya tapi lebih kepada PRILAKU sama saja seperti seorang heteroseksual yang tetap setia kepada satu pasangan walau ketertarikan secara seksual kepada lawan jenis lainya masih tetap ada.

Contoh saya sendiri, status merried...ketertarikan sama cowo jelas ada tapi tidak ada keinginan untuk berprilaku untuk have seks dengan cowo dan hanya melakukan seks dengan pasangan yang syah. Lagi pula kadar homoseksual itu bergradasi bisa bertambah dan bisa berkurang.

Dulu sebelum merried liat cowo kinclong bisa sampe berfantasi saking edannya tapi sekarang cuman sekedar "mengagumi" yang indah2 tanpa harus sampe mikirin yang jorok2;))



From stingwood

Sometimes its hard to maintain your pick-up artist consciousness. Just today I started chatting up the guy behind me in the coffee line. Forgetting my training, I made some lame observation about the weather- a topic, you might imagine, quickly exhausted. Needless to say, I soon found myself sipping coffee alone.

What happened? I had failed to successfully navigate the crucial "first minute" of the pick up encounter. When I look back at my disasters, most of my crash-and-burns have been in the first 60 seconds.

In the first 60 seconds, you're being sized up. Your target is giving you a one minute audition. That's how long you get to pique their interest.

Your goal in that first minute is attraction in the broadest sense. You have to reach a point where your target wants to continue talking to you.

Then you can launch into the next phase of seduction, building rapport and sexual interest.

Of course there are dozens of ways to create an attraction between you and the guy you're trying to open. You can use humor, innuendo, bubbly openness, cattiness, strategic touching, or simply rely on your good looks. The point is to get the guy involved and give him a chance to be attracted to you.

Fortunately, not all of my pick ups are as lame as the one in the coffee shop. Just the other day I hooked up with an extremely hot guy in the aisle of my local supermarket. I caught him checking me out, approached and opened him, and pretty soon we were laughing and exchanging phone numbers. What went right?
  1. I didn't hesitate. The single biggest thing you can do to improve your pick up game is to learn to approach guys that interest you without hemming and hawing.

  2. My body language was relaxed. Guys like guys who are self confident. If you look nervous or anxious, your social fear will destroy your chances even before you open your mouth.

  3. I smiled. My grin may be goofy but I've learned to use it with abandon. A smile makes you friendly and non-threatening, disarming your target's wariness, and as often as not your smile makes your target smile back.

  4. I spoke up (you're approaching him, remember?) and I had an opener ready. An opener is any comment that gets your target immediately involved. In this case I used my favorite, which is...

  5. "I noticed something about you." This is a great opener not only because it's totally irresistible (who doesn't want to know what you've noticed about them?) but also because it forces you to be spontaneous about whatever comes next. Because I never know what it is that I supposedly noticed about my target until I'm actually talking to him. "I noticed something about you... your head is shaven, why did you do that? You're really tall, does that intimidate people?" Or, in the case of my supermarket guy, "That's a really weird tattoo--what's it supposed to be?"

  6. I didn't fawn or shown neediness. Complimenting a guy you just met puts him in a position of power and makes you a supplicant. I always try to work a neg into the first minute of conversation--a kind of half-compliment, half-insult that puts my quarry off-base. With the supermarket guy, I "noticed" his cool tattoo (why else would he have a tattoo if he didn't want to get it noticed?), but I took back the compliment by calling it "weird" and indecipherable.

  7. I indicated I could only talk for a minute. Adding a time limit helps your target to tolerate your approach, since, after all, they're only investing a minute of their time.

  8. I kept rifting. Being talkative in a natural way gives you an opportunity to draw in your quarry and gives your guy a chance to start to feel comfortable with you. "I love tattoos! I'm going to get one... the design is going to be... afraid of the pain... a friend got a shoe tattooed on his chest..." Like a good jazzman, rift and improvise on the subject at hand, circling back at appropriate times to ask a few relevant questions.

  9. I watched for the connection. If you handle everything right and your pick up is going smoothly, about a minute into the opening you'll notice a subtle change come over your target. His guard will drop and his wariness will turn to interest and attraction. The signs are subtle but definite: his eyes will hold yours, his smile will become broader and less forced, and his body will relax. If you're doing really well, he'll laugh hard at your jokes, make his own efforts to keep the conversation going, and may even reach out to touch you.
  10. All that means you're "in."[style] You've passed your one[style] minute audition and are on your way to a successful pick up. Now keep exploring your target's loves and life and get him involved in the conversation.



From Ramone Johnson, Your Guide to Gay Life.

Patience is one of the hardest things to learn in life, especially while building relationships. It's known that gay relationships mature at an accelerated rate, often much faster than relationships between straight couples. Nonetheless, one thing heteros and homos have in common is the time it takes to find the right mate.

If you've fallen head over heels for a guy you had a date with, met online or in any other situation, just be patient! Take your time getting to know him. Be sure not to panic if he doesn't call you on a daily basis or if you two aren't picking out china patterns after a week of romance. If you guys hit it off, chances are he's into you as much as you are into him, but any potential relationship will be much better off if you take it slow and get to know him.

First impressions are great, but you can only get to know a person well after spending time with them. Who knows, he may turn out not to be the person you thought he was. On the other hand, he might just be the man of your dreams. Only time will tell!



Sumber Kompas Cyber Media

BENARKAH Mbak Dorce Gamalama melawan kodrat? Pertanyaan ini mungkin timbul dalam hati saat membaca wawancara Kompas dengan artis Dorce (Kompas, 27/7/2003). Pada tanggal yang sama, Suara Pembaruan Minggu mengetengahkan kisah Liz Riley, seorang ayah yang berubah menjadi ibu.

ADA orang yang terlahir lelaki namun sejak kecil merasa dirinya perempuan sehingga mereka hidup layaknya perempuan. Contohnya, dalam wawancara dengan Kompas, Mbak Dorce mengungkapkan bahwa ia sejak kecil merasa dirinya perempuan. Liz Riley terlahir lelaki, bahkan ia sempat kawin dan memiliki anak, namun ia selalu merasa dirinya perempuan, sehingga akhirnya memutuskan untuk hidup sebagai ibu.

Sebaliknya, ada juga orang yang terlahir perempuan tetapi merasa dirinya lelaki sehingga mereka hidup sebagai laki-laki. Contohnya Brandon Teena, yang hidupnya dikisahkan dalam film pemenang Oscar, Boys Don’t Cry. Contoh lainnya Billy Tipton, musisi jazz Amerika, yang dikenal sebagai lelaki ramah, suami dari empat istri, dan ayah bagi sejumlah anak. Namun, ketika ia meninggal, petugas jenazah mendapati ia memiliki alat genital wanita.

Mereka merupakan contoh kaum transseksual. Ada yang disebut male-to-female transsexual (MFT), yaitu transseksual dari lelaki ke perempuan. Sebaliknya, Brandon Teena dan Billy Tipton disebut female-to-male transsexual (FMT), yaitu transseksual dari perempuan ke lelaki.


Hakikat transseksual

Selama ini alat kelamin fisik, berupa alat reproduksi, sering dianggap satu-satunya penentu perilaku jenis seseorang. Padahal, masih ada variabel lain, yaitu identitas jenis kelamin (sex identity) atau identitas jender, yang ditemukan pada tahun 1972 oleh Money dan Erhardt setelah meneliti ratusan individu. Menurut Kessler dan McKeena, dalam Gender: An Ethnomethodological Approach (1978), identitas jenis kelamin adalah perasaan mendalam atau keyakinan dalam batin seseorang yang membuatnya merasa sebagai lelaki atau perempuan. Dengan kata lain, identitas jenis kelamin adalah keyakinan mendalam pada seseorang tentang apakah dia itu pria atau wanita.

Sex identity, yang dapat disebut jenis kelamin jiwa, semata-mata tergantung dari perasaan orang bersangkutan dan tidak selalu sejalan dengan penilaian orang, pakar sekalipun. Jenis kelamin jiwa merupakan variabel mandiri terhadap seks fisik, artinya dapat sejalan atau bertolak belakang dengan kelamin fisik. Jenis kelamin jiwa mulai tertanam pada usia dua tahun, namun biasanya mulai disadari dengan kuat menjelang remaja.

Mayoritas warga memiliki sex identity sesuai dengan jenis kelamin fisiknya. Namun, transseksual memiliki sex identity berbeda dari seks fisiknya. Jadi, MFT bertubuh lelaki tetapi merasa dirinya perempuan. Sebaliknya, FMT bertubuh perempuan namun merasa dirinya lelaki (bukan sekadar tomboi, karena seseorang yang tomboi, sekalipun berperilaku kelaki-lakian, masih tetap merasa perempuan). Karena itulah, MFT berperilaku sebagai perempuan. Masalahnya, masyarakat sering menyalahkan, mengapa orang yang terlahir laki-laki sampai merasa dan berperilaku sebagai perempuan dan sebaliknya pada FMT.

Sebelum sex identity ditemukan, para pakar menganggap transseksual merupakan orang abnormal yang perlu disembuhkan dengan aneka terapi, termasuk kejutan listrik. Namun, kini disadari bahwa sex identity lebih kuat daripada kelamin fisik. Karena itu, jika seorang transseksual diminta menyelaraskan perilaku dengan bentuk fisiknya, yang lebih banyak terjadi bukan perubahan perilaku, melainkan perubahan fisik.

Penyebab transseksual belum dapat ditentukan secara pasti. Sebagian menduga pengaruh hormon dalam kandungan. Misalnya, kekurangan testosteron pada janin dengan kelamin fisik lelaki dapat menyebabkannya memiliki kelamin jiwa perempuan. Sebaliknya, kelebihan testosteron pada janin dengan kelamin fisik perempuan dapat menyebabkannya memiliki seks jiwa lelaki. Namun, sebab sebenarnya masih merupakan misteri.

Variabel yang juga menentukan perilaku adalah orientasi seks, kecenderungan mencari pasangan. Umumnya, transseksual tertarik terhadap lawan jenis sehingga mirip warga masyarakat umumnya. Namun, ada juga transseksual yang tertarik kepada kaum sejenis. Contohnya Julie Peters, politisi Australia, yang terlahir sebagai lelaki tetapi memiliki sex identity perempuan. Setelah usia 40 tahun Julie memutuskan menjalani operasi dan menjadi perempuan. Namun, Julie mengaku tetap tertarik kepada perempuan.


Lorong kegelapan?

Seorang bijak pernah mengatakan, "Apakah gunanya seseorang mendapatkan seluruh dunia tetapi kehilangan dirinya sendiri?" Banyak orang mengamini sabda tersebut, tetapi tidak mau menerima bahwa bagi transseksual, diri sendiri itu adalah jati dirinya sesuai dengan sex identity yang dimiliki. Dengan demikian, transseksual yang terpaksa menutupi atau mengingkari jati dirinya bisa saja kelihatan sukses, tetapi dari hari ke hari ia hidup dalam kehampaan, karena mendapatkan dunia tetapi kehilangan dirinya sendiri.

Sungguh beruntung jika seorang transseksual diterima lingkungannya, baik keluarga, sekolah, pekerjaan, maupun masyarakat. Namun, sebagian besar transseksual masih belum diterima lingkungannya, bahkan oleh keluarganya sendiri. Para transseksual ini terpaksa memilih satu di antara dua pilihan yang sama pahitnya, yaitu terbuang dari lingkungannya atau berpura-pura menutupi jati dirinya.

Pada pilihan kedua, seorang MFT, yang memiliki jati diri perempuan, akan berpura-pura menjadi "lelaki biasa", agar diterima lingkungannya. Namun, ia akan hidup dalam tekanan batin yang luar biasa dan tiada hentinya. Selagi mayoritas warga bangsanya mensyukuri nikmatnya hidup di alam kemerdekaan, banyak transseksual belum dapat merasakan apa makna kemerdekaan itu sesungguhnya. Jutaan transseksual hidup dalam lorong kegelapan, menunggu kapan sinar terang akan muncul pada akhir lorong tersebut.

Masyarakat demokratis mensyaratkan asas pluralisme dan egalitarianisme. Setiap orang, sekalipun berbeda, mendapat perlakuan sederajat, sejauh yang bersangkutan tidak melakukan hal-hal yang merugikan orang lain. Kaum transseksual hanyalah orang yang berbeda, yaitu pada identitas seksualnya. Seyogianya, perbedaan ini tidak dijadikan dasar untuk meminggirkan atau mendiskriminasikan mereka, sebagaimana masyarakat juga tidak boleh mendiskriminasi orang yang berbeda warna kulit, keyakinan, atau status sosialnya.

Di lain pihak, kaum transseksual perlu menghindari perilaku yang menimbulkan citra negatif, seperti berdandan terlalu mencolok, memperlihatkan obsesi berlebihan terhadap lelaki, dan menjadi pekerja seks komersial. Penting sekali agar para transseksual dapat membangun citra yang positif, di antaranya lewat prestasi, seperti telah diperlihatkan Mbak Dorce dan mendiang Billy Tipton.

Semoga seiring dengan meningkatnya pemahaman, masyarakat dapat menerima dengan wajar kaum transseksual, baik yang telah operasi maupun belum, sesuai jati diri yang mereka miliki, agar mereka dapat berdarma bakti secara optimal. Negeri ini sedang dilanda krisis multidimensi dan untuk mengatasinya diperlukan kerja sama seluruh komponen bangsa. Lebih dari itu, Prof Vern Bullough dari California State University, dalam "Transgenderism and the Concept of Gender" (International Journal of Transgenderism, Special Issue, tahun 2000), menyatakan pemahaman terhadap kaum transseksual akan bermanfaat besar untuk memahami konsep jender secara lebih komprehensif, hal yang sangat diperlukan guna membangun masyarakat dunia yang lebih manusiawi.

Bambang Suwarno Aktivis Perempuan dan Relasi Jender, Tinggal di Bengkulu


Survey yang diterbitkan oleh Harris Interactive dan Witeck-Combs Communications menunjukkan bahwa gay dan biseksual menggunakan internet social networks jauh lebih banyak dibandingkan kaum hetero, baik cowo maupun cewe. (Witeck-Combs mengkhususkan diri pada target konsumen kaum gay dan biseksual).

Menurut survei online pada 2.542 orang dewasa, 27% di antaranya diketahui mengunjungi youtube.com setidaknya satu jam per minggu, dibandingkan dengan 22% hetero; dan mengunjungi craiglist.com sejam atau kurang perminggu dibanding dengan 13% heteroseksual.

Melalui metodologi survei, para peneliti mencatat 2.205 orang dari mereka adalah heteroseksual, 267 mengakui dirinya gay, lebian atau biseksual.

Hampir dua kali lupatnya, para gay (32%) online antara 24 dampai 168 jam seminggu, dibandingkan dengan 18% heteroseksual.

Bob WIteck, CEO grup tersebut mengatakan, "Kami secara terus menerus mencatat penggunaan online yang kuat dari komunitas gay. Gay dan lesbian menunjukkan kebutuhan mereka untuk akan internetyang juga berarti kesempatan yang bagus untuk pemasaran. Jariangan sosial juga telah menjadi kebiasaan kedua bagi konsumen gay dan lesbian.

Internet digunakan untuk mencari partner seks.

Sebuah studi yang diterbitkan oleh The Journal Sex Research, 1 Fberuari 2005, mensurvei penggunaan internet oleh gay cowo di chat room, social networks dan tempat lainnya di internet untuk mencari partner seks.

Sharyn Burns, menulis dalam "Fotomu adalah Umpan: Arti dan Kegunaan Dunia Maya bagi Pria Gay," mencatat bahwa "Internet memiliki daya tarik unik bagi cowo gay karena seperti grup minoritas, dan terbatas, cowo gay memiliki sedikit tempat dimana mereka bisa saling bertemu tanpa rasa takut pada konsekuensi negatif dari lingkungan sosialnya."

Penulis mengatakan bahwa penelitian di AMerika dan Inggris mengindikasikan antara 17% dan 35% menggunakan internet untuk mencari teman ML.

Penelitan Burns mensurvei kebiasaan berinternet dari 790 cowo gay di Perth, Australia di tahun 2002. Dia juga mewawancari secara personal 25 orang cowo untuk mencaritahu bagaimana mereka menggunakan internet.

Cowo-cowo gay menggunakan internet untuk beberapa macam alasan: bersosialisasi, alat mencari informasi, keinginan untuk membentuk jaringan dan pertemanan, sebagai cara untuk menjaga kerahasiaan, dan menjadi tempat aman sebelum ketemuan, dan menggunakan internet untuk mencari perngalaman-pengalaman, hiburan, dan pelarian.

Burns menemukan: "Internet memberikan kesempatan bagi pria untuk terbuka soal status HIV mereka tanpa menunjukkan identitas mereka dan mencari pria lain dengan status HIV yang sama. Sementara banyak pria dari penelitan terebut melaporkan mereka penah melihat beberapa profil yang ada di internet yang menunjukkan status HIV positif yang dimiliki pemilik. Hanya sedikit pria yang mengatakan status HIV dibicarakan selama mengobrol di chat room di Perth."

Bunrs melanjutkan: "Secara Internasional, Internet turut mengembangkan norma-norma budayanya sendiri, dan pria-oria yang mengunakan internet merasakan perasaan yang lebih kuat akan anonimitas, rasa aman, dan kenyamanan dibanding yang mereka alami di dunia yang lain.

ANDY KONG wrote:

Dear qinkqonk

Mungkin karena para PLU lebih ada waktu surf tanpa hrs

menyisakan waktu untuk anak dan istri etc.

Regards

qinkqonk wrote:

yepp... it's a thing what u said..

dan kepikiran juga ngga di antara temen-temen
pada dasarnya kita makhluk sosial
kita selalu berusaha untuk bisa berkumpul
apalagi dengan orang yang merasakan hal yang sama dengan yang dirasakannya

trus ada juga yang bener-bener addicted
dalam sehari bela2in ke warnet 3-5 jam
nyari2 kenalan
kalo mungkin ketemuan, have sex, or even be a lover to each other

di sana kita ngerasain kenikmatan itu juga ngga sih
kenikmatan bisa melepaskan desire terhadap hal yang kita sukai, cowo

beda mungkin ama temen2 straight kebanyakan
mereka ga terlalu kepikiran ke arah sono
karena buat nyari pasangan, mereka bisa flirting di kampus, di mall, atau bahkan iseng lewat di jalan

gw sendiri online 8-14 jam sehari
gw juga bersosialisai di YM, milis, dan mIRC

sebelumnya gw minta maaf ma temen2, gw ga demen kalo ada yg nyapa gw cuman untuk nanya stat ama pic
atau miskalin gw mulu. nomor gw muncul di bawah, itu signature, untuk keperluan relation. so please be wise with it

di mIRC, kadang gw juga horny, kadang butuh pelampiasan
tapi mungkin karena gw ngerasa it's not me

gw ampir selalu ngebatalin janji ketemuan, pas dia udah mulai nanya, mo nunggu dimana, gw pake baju ini-itu
bukan karena apa, mungkin karena gw lagi ngerasa ga nyaman aja waktu itu

tapi jujur aja..
gw ngrasain hal yang sangat menyenangkan buat gw, bikin gw deg2an ampir kaya orang kasmaran
ketika cowo2 itu ngajakin ketemuan

yepp.. gw suka banget mengalami perasaan2 kaya gitu
makanya itu yang mungkin (menurut) gw, kita jadi makin addicted to internet

tapi itu sekaligus bikin sedih gw
karena kita jadi ga produktif
tiap hari kerjaannya cuman chatting mulu
ato donlot bokep

well... postif juga sih, kita dapet banyak temen baru dari chat
tapi apa yang bisa lo dapetin dari pertemenan itu

well, would u agree with me if i say.. come on gays, we got to something with our gay life
jangan cuman jadi orang yang bisanya menikmati kecanggihan teknologi doang
tapi kita juga bisa menghasilkan sesuatu dari sana

misal, bikin acara ketemuan.. buat yang seneng ngumpul, lalu bikin event bareng
diskusi, nonton, bikin hiburan

atau kenal dengan orang yang sama bidang kerjanya
terus bikin kolaborasi..

i'm sure it will be great

kalo temen-temen mikir terganjal dengan takut ketauan gay banget
humm.. yang bisa munculin atau nyembunyiin, cuman diri kita sendiri
kalo kita beneran serius dengan apa yang kita lakuin bersama
orang akan menilai dari apa yang bisa kita lakuin, bukan apa diri (dalam hal ini orientasi seksual) kita

i love u, gays!


PS: malem ini gw masih migren, dan kehilangan
but do share here, helped me on my pain
thx

Excerpted from "The Complex Interaction of Genes and Environment: A Model for Homosexuality" by Jeffrey Satinover,M.D.

It may be difficult to grasp how genes, environment, and other influences interrelate to one another, how a certain factor may "influence" an outcome but not cause it, and how faith enters in. The scenario below is condensed and hypothetical, but is drawn from the lives of actual people, illustrating how many different factors influence behavior.

Note that the following is just one of the many developmental pathways that can lead to homosexuality, but a common one. In reality, every person's "road" to sexual expression is individual, however many common lengths it may share with those of others.

(1) Our scenario starts with birth. The boy (for example) who one day may go on to struggle with homosexuality is born with certain features that are somewhat more common among homosexuals than in the population at large. Some of these traits might be inherited (genetic), while others might have been caused by the "intrauterine environment" (hormones). What this means is that a youngster without these traits will be somewhat less likely to become homosexual later than someone with them.

What are these traits? If we could identify them precisely, many of them would turn out to be gifts rather than "problems," for example a "sensitive" disposition, a strong creative drive, a keen aesthetic sense. Some of these, such as greater sensitivity, could be related to - or even the same as - physiological traits that also cause trouble, such as a greater-than-average anxiety response to any given stimulus.

No one knows with certainty just what these heritable characteristics are; at present we only have hints. Were we free to study homosexuality properly (uninfluenced by political agendas) we would certainly soon clarify these factors - just as we are doing in less contentious areas. In any case, there is absolutely no evidence whatsoever that the behavior "homosexuality" is itself directly inherited.

(2) From a very early age potentially heritable characteristics mark the boy as "different." He finds himself somewhat shy and uncomfortable with the typical "rough and tumble" of his peers. Perhaps he is more interested in art or in reading - simply because he's smart. But when he later thinks about his early life, he will find it difficult to separate out what in these early behavioral differences came from an inherited temperament and what from the next factor, namely:

(3) That for whatever reason, he recalls a painful "mismatch" between what he needed and longed for and what his father offered him. Perhaps most people would agree that his father was distinctly distant and ineffective; maybe it was just that his own needs were unique enough that his father, a decent man, could never quite find the right way to relate to him. Or perhaps his father really disliked and rejected his son's sensitivity. In any event, the absence of a happy, warm, and intimate closeness with his father led to the boy's pulling away in disappointment, "defensively detaching" in order to protect himself.

But sadly, this pulling away from his father, and from the "masculine" role model he needed, also left him even less able to relate to his male peers. We may contrast this to the boy whose loving father dies, for instance, but who is less vulnerable to later homosexuality. This is because the commonplace dynamic in the pre-homosexual boy is not merely the absence of a father - literally or psychologically - but the psychological defense of the boy against his repeatedly disappointing father. In fact, a youngster who does not form this defense (perhaps because of early-enough therapy, or because there is another important male figure in his life, or due to temperament) is much less likely to become homosexual.

Complementary dynamics involving the boy's mother are also likely to have played an important role. Because people tend to marry partners with "interlocking neuroses," the boy probably found himself in a problematic relationship with both parents.

For all these reasons, when as an adult he looked back on his childhood, the now-homosexual man recalls, "From the beginning I was always different. I never got along well with the boys my age and felt more comfortable around girls." This accurate memory makes his later homosexuality feel convincingly to him as though it was "preprogrammed" from the start.

(4) Although he has "defensively detached" from his father, the young boy still carries silently within him a terrible longing for the warmth, love, and encircling arms of the father he never did nor could have. Early on, he develops intense, nonsexual attachments to older boys he admires - but at a distance, repeating with them the same experience of longing and unavailability. When puberty sets in, sexual urges - which can attach themselves to any object, especially in males - rise to the surface and combine with his already intense need for masculine intimacy and warmth. He begins to develop homosexual crushes. Later he recalls, "My first sexual longings were directed not at girls but at boys. I was never interested in girls."

Psychotherapeutic intervention at this point and earlier can be successful in preventing the development of later homosexuality. Such intervention is aimed in part at helping the boy change his developing effeminate patterns (which derive from a "refusal" to identify with the rejected father), but more critically, it is aimed at teaching his father - if only he will learn - how to become appropriately involved with and related to his son.

(5) As he matures (especially in our culture where early, extramarital sexual experiences are sanctioned and even encouraged), the youngster, now a teen, begins to experiment with homosexual activity. Or alternatively his needs for same-sex closeness may already have been taken advantage of by an older boy or man, who preyed upon him sexually when he was still a child. (Recall the studies that demonstrate the high incidence of sexual abuse in the childhood histories of homosexual men.) Or oppositely, he may avoid such activities out of fear and shame in spite of his attraction to them. In any event, his now-sexualized longings cannot merely be denied, however much he may struggle against them. It would be cruel for us at this point to imply that these longings are a simple matter of "choice."

Indeed, he remembers having spent agonizing months and years trying to deny their existence altogether or pushing them away, to no avail. One can easily imagine how justifiably angry he will later be when someone casually and thoughtlessly accuses him of "choosing" to be homosexual. When he seeks help, he hears one of two messages, and both terrify him; either, "Homosexuals are bad people and you are a bad person for choosing to be homosexual. There is no place for you here and God is going to see to it that you suffer for being so bad;" or "Homosexuality is inborn and unchangeable. You were born that way. Forget about your fairytale picture of getting married and having children and living in a little house with a white picket fence. God made you who you are and he/she destined you for the gay life. Learn to enjoy it."

(6) At some point, he gives in to his deep longings for love and begins to have voluntary homosexual experiences. He finds - possibly to his horror - that these old, deep, painful longings are at least temporarily, and for the first time ever, assuaged.

Although he may also therefore feel intense conflict, he cannot help admit that the relief is immense. This temporary feeling of comfort is so profound - going well beyond the simple sexual pleasure that anyone feels in a less fraught situation - that the experience is powerfully reinforced. However much he may struggle, he finds himself powerfully driven to repeat the experience. And the more he does, the more it is reinforced and the more likely it is he will repeat it yet again, though often with a sense of diminishing returns.

(7) He also discovers that, as for anyone, sexual orgasm is a powerful reliever of distress of all sorts. By engaging in homosexual activities he has already crossed one of the most critical and strongly enforced boundaries of sexual taboo. It is now easy for him to cross other taboo boundaries as well, especially the significantly less severe taboo pertaining to promiscuity. Soon homosexual activity becomes the central organizing factor in his life as he slowly acquires the habit of turning to it regularly - not just because of his original need for fatherly warmth of love, but to relieve anxiety of any sort.

(8) In time, his life becomes even more distressing than for most. Some of this is in fact, as activists claim, because all-too-often he experiences from others a cold lack of sympathy or even open hostility. The only people who seem really to accept him are other gays, and so he forms an even stronger bond with them as a "community." But it is not true, as activists claim, that these are the only or even the major stresses. Much distress is caused simply by his way of life - for example, the medical consequences, AIDS being just one of many (if also the worst). He also lives with the guilt and shame that he inevitably feels over his compulsive, promiscuous behavior; and too over the knowledge that he cannot relate effectively to the opposite sex and is less likely to have a family (a psychological loss for which political campaigns for homosexual marriage, adoption, and inheritance rights can never adequately compensate).

However much activists try to normalize for him these patterns of behavior and the losses they cause, and however expedient it may be for political purposes to hide them from the public-at-large, unless he shuts down huge areas of his emotional life he simply cannot honestly look at himself in this situation and feel content.

And no one - not even a genuine, dyed-in-the-wool, sexually insecure "homophobe" - is nearly so hard on him as he is on himself. Furthermore, the self-condemning messages that he struggles with on a daily basis are in fact only reinforced by the bitter self-derogating wit of the very gay culture he has embraced. The activists around him keep saying that it is all caused by the "internalized homophobia" of the surrounding culture, but he knows that it is not.

The stresses of "being gay" lead to more, not less, homosexual behavior. This principle, perhaps surprising to the layman (at least to the layman who has not himself gotten caught up in some pattern, of whatever type) is typical of the compulsive or addictive cycle of self-destructive behavior; wracking guilt, shame, and self-condemnation only causes it to increase. It is not surprising that people therefore turn to denial to rid themselves of these feelings, and he does too. He tells himself, "It is not a problem, therefore there is no reason for me to feel so bad about it."

(9) After wrestling with such guilt and shame for so many years, the boy, now an adult, comes to believe, quite understandably - and because of his denial, needs to believe - "I can't change anyway because the condition is unchangeable." If even for a moment he considers otherwise, immediately arises the painful query, "Then why haven't I...?" and with it returns all the shame and guilt.

Thus, by the time the boy becomes a man, he has pieced together this point of view: "I was always different, always an outsider. I developed crushes on boys from as long as I can remember and the first time I fell in love it was with a boy, not a girl. I had no real interest in members of the opposite sex. Oh, I tried all right - desperately. But my sexual experiences with girls were nothing special. But the first time I had homosexual sex it just 'felt right.' So it makes perfect sense to me that homosexuality is genetic. I've tried to change - God knows how long I struggled - and I just can't. That's because it's not changeable. Finally, I stopped struggling and just accepted myself the way I am."

(10) Social attitudes toward homosexuality will play a role in making it more or less likely that the man will adopt an "inborn and unchangeable" perspective, and at what point in his development. It is obvious that a widely shared and propagated worldview that normalizes homosexuality will increase the likelihood of his adopting such beliefs, and at an earlier age. But it is perhaps less obvious - it follows from what we have discussed above - that ridicule, rejection, and harshly punitive condemnation of him as a person will be just as likely (if not more likely) to drive him into the same position.

(11) If he maintains his desire for a traditional family life, the man may continue to struggle against his "second nature." Depending on whom he meets, he may remain trapped between straight condemnation and gay activism, both in secular institutions and in religious ones. The most important message he needs to hear is that "healing is possible."

(12) If he enters the path to healing, he will find that the road is long and difficult - but extraordinarily fulfilling. The course to full restoration of heterosexuality typically lasts longer than the average American marriage - which should be understood as an index of how broken all relationships are today.

From the secular therapies he will come to understand what the true nature of his longings are, that they are not really about sex, and that he is not defined by his sexual appetites. In such a setting, he will very possibly learn how to turn aright to other men to gain from them a genuine, nonsexualized masculine comradeship and intimacy; and how to relate aright to woman, as friend, lover, life's companion, and, God willing, mother of his children.

Of course the old wounds will not simply disappear, and later in times of great distress the old paths of escape will beckon. But the claim that this means he is therefore "really" a homosexual and unchanged is a lie. For as he lives a new life of ever-growing honesty, and cultivates genuine intimacy with the woman of his heart, the new patterns will grow ever stronger and the old ones engraved in the synapses of his brain ever weaker.

In time, knowing that they really have little to do with sex, he will even come to respect and put to good use what faint stirrings remain of the old urges. They will be for him a kind of storm-warning, a signal that something is out of order in his house, that some old pattern of longing and rejection and defense is being activated. And he will find that no sooner does he set his house in order that indeed the old urges once again abate. In his relations to others - as friend, husband, professional - he will now have a special gift. What was once a curse will have become a blessing, to himself and to others.



armanachbar wrote:

bagian 1:
=========
suatu hari di pertengahan tahun lalu ketika gw harus berangkat pagi tiap hari. berhubung naik angkutan umum..disanalah kesempatan utk sekalian cuci mata. 1-2 hari masih belum ada apa apa..gw biasa duduk di bangku nunggu angkutan dateng sambil baca koran. sampe suatu hari
tiba tiba ada cowo bermata bulat, bibir tipis , putih muncul...hmmm. .akhirnya dateng juga penyegar mata di pagi hari hehehe. beberapa kali aku coba liatin tapi dia ga ada reaksi. ok
deh..mungkin dia dari golongan lain. aku coba beberapa kali deketin dia ...kasih sinyal ke dia..tapi ga ada satupun sinyal balik. akhirnya gw putus asa dan coba lupain dia.

bagian 2:
=========
disaat gw mulai jauh dan cuekin dia ..ternyata sekarang berbalik..malah dia yg curi pandang ke gw..suka mancing utk kasih senyum. tapi gw kan jadi bingung..maunya dia apa. kenapa dulu dia
cuekin aku. akhirnya sekarang gantian..dia kirim sinyal..tapi aku ga kasih sinyal balik .

bagian 3:
=========
datenglah orang ke 3..seorang cewe..yg tiba tiba duduk di bangku yg biasa aku dudukin. si cewe coba cari perhatian aku..main lirik..tapi aku ga tahu..apa dia udah punya suami..atau coba main api. jelas aja si cewe susah utk dapet sinyal balik dari aku. akhirnya si cewe ngeliat cowo itu juga..dan dia mulai mengalihkan sasaran ke cowo itu. akhirnya mereka kenalan..suka ngobrol bareng dan jalan bareng. aku suka curi curi ngeliatin mereka ber2. aku yakin mereka ga tahan
lama. ternyata emang bener..ga berapa lama...mereka diem dieman. yg biasanya duduk bareng sekarang mulai pisah sendiri sendiri.

bagian 4:
=========
tahun baru..kisah baru. tahun baru dibuka dgn aku yg selalu kesiangan shg selalu muncul bareng dgn cowo itu . dia masih suka ngeliatin aku..ngarepin dapat perhatian dari aku. tapi aku masih
bingung apa yg mesti kulakukan. si cewe itu juga masih ada. apa sih yg sebenarnya terjadi. apa si cowo itu emang pingin kenal aku..atau dia cuma pingin temenan. gimana dgn cewe itu..siapa dia sebenernya. apa cowo itu bakal balik dgn cewe itu. terus terang cowo itu meskipun cakep tapi bodynya agak ceking..not my type. tapi kenapa aku selalu terbayang bayang pandangan dia..wajah dia.

Blog Widget by LinkWithin
10% Off All Fragrances
Get 10% off every item you purchase at FragranceX.com!