be curious with...

 

Showing posts with label bebas. Show all posts
Showing posts with label bebas. Show all posts





1. banci tampil
istilah ini paling banyak digunakan untuk menyebut profesi, kegemaran maupun kebiasaan seseorang. Dari MC, penyiar radio hingga mereka yang rajin ikutan audisi berbagai kontes menyanyi (AFI, Indonesian Idol) dan casting sinetron/film.

2. banci kamera
dengan adanya HP berkamera dan kamera digital yang praktis, orang bisa foto di mana-mana dan kapan saja untuk dipajang di blog, friendster atau facebook, dan jadilah mereka banci-banci foto.

3. banci mall
sesuai dengan namanya, mereka ini selalu beredar dari mall ke mall. kalau sehari aja nggak ke mall, rasanya badan pegel, perut mual, kehilangan keseimbangan diri dan susah berkonsentrasi.

4. banci budaya
kau akan ketemu mereka pada setiap acara pembukaan pameran (foto, lukisan),
launching buku, pentas pembacaan/musikalis asi puisi, diskusi filsafat. biasanya di pusat-pusat kebudayaan asing atau kantong-kantong kebudayaan lokal seperti TIM, TUK. dan biasanya pula ada seremoni minum bir/anggur.

5. banci premiere
mereka tak pernah absen menghadiri pemutaran perdana film baru dan pembukaan festival-festival film dari yang berkelas internasional sampai independen. pulangnya menenteng goody back bertuliskan produk rokok.

6. banci komen
selalu muncul di kolom komentar di berbagai blog orang, di urutan pertama dan hanya bilang: pertamax! (rada norak sih emang).

7. banci kaleng
suka ngumpulin kaleng bekas. hihihi boong ding. yang ini rada susah didefinisikan (alah!). tapi, kayaknya sih ini sebutan buat mereka yang banci "beneran".

8. banci taman lawang
semua pasti sudah tahu. hehehe



Imam Nurmawan wrote:


Assalamu'alaikum wr. wb.

Ketika menunaikan shalat Jum'at kemarin, Khatib menyoal homoseksualitas yang menyebabkan bencana. Beliau menyinggung tentang kaum Nabi Luth as, lalu merefleksikannya dalam konteks kehidupan masa kini. Menurut beliau, perilaku homoseks menyebabkan bencana yaitu menyebarnya HIV, virus yang sampai kini belum dapat disembuhkan.

Memang, jika membahas soal homoseks, bencana yang menimpa kaum Nabi Luth as selalu disinggung. Begitu pula dengan kebencian terhadap perilaku mereka. Hal ini wajar, apalagi Al-Qur'an secara tegas menyampaikan kisah itu.

Kaum Nabi Luth as tadinya adalah penduduk Babilonia (Nabi Ibrahim as juga pernah tinggal di sana). Karena mereka homoseks, mereka dikucilkan dan akhirnya diusir. Mereka lalu mendiriikan kota Sadum (sering juga disebut Sodom dan Gomorah). Karena keahlian mereka membangun gedung-gedung, kota Sadum menjadi megapolitan baru saat itu. Kaum homoseks berkuasa lalu balas menekan kaum heteroseks dengan menjadikan mereka budak. Kaum heteroseks dipaksa membayar upeti atau kalau tidak mereka harus menjadi homoseks.

Lambat laun, seluruh kota Sadum menjadi kaum homoseks dengan menjadikan kaum wanita sebagai budak-budak (dalam hal ini memang tidak disinggung sama sekali tentang lesbian). Karena tidak lagi mendapat upeti, mereka akhirnya merampok barang-barang pedagang. Kaum homoseks di kota Sadum memang memperlakukan diri sebagai elit dengan perlakuan istimewa. Mereka juga sering berpesta-pora dan melakukan tindak kejahatan lainnya. Kepada merekalah kemudian Allah SWT mengutus Nabi Luth as. Istri Nabi Luth as bukan lesbian seperti yang disampaikan sebagian orang. Tapi ia suka menerima bagian harta rampasan para pedagang sebagai imbalan menyebarkan informasi tentang dakwah Nabi Luth as. Akhirnya, istri Nabi Luth as juga menjadi korban dalam bencana yang ditimpakan kepada kaum Nabi Luth as.

Bencana yang terjadi di masa lalu itu menjadi momok yang menakutkan sehingga sering kali ditanggapi secara keliru. Bahkan HIV yang menurut penelitian mutakhir diketahui berasal dari monyet Afrika dianggap sebagai bencana homoseks. HIV seperti halnya virus flu burung yang berasal dari unggas memang penyakit mematikan. Tapi menyalahkan manusia dalam hai ini jelas keliru, karena virus memang berasal dari hewan atau tumbuh-tumbuhan tertentu.

Bagaimana pun hubungan seksual di luar nikah memang merupakan perzinaan, baik heteroseksual maupun homoseksual. Karena itu dampak yang ditimbulkan harus dicermati sebaik mungkin. Begitu pula jangan sampai terjadi eksploitasi secara vulgar sehigga menimbulkan kebencian, apalagi kebencian yang berlebihan tanpa didasari ilmu dan fakta-fakta yang jelas.

Membicarakan homoseksualitas memang riskan. Kemungkinannya muncul tuduhan yang macam-macam. Padahal hal ini harus disikapi dengan tepat untuk kebaikan bersama dalam kehidupan bermasyarakat dan sosialisasi lainnya.

Jalan terbaik adalah meninggalkan perilaku homoseks.lalu menikah. Tentu saja dengan pertimbangan yang benar-benar baik. Bukan untuk menghindari masalah sehingga muncul masalah baru seperti perselingkuhan atau malah menjadi biseksual. Pilihan ini mungkin saja sangat berat dan sulit meskipun bukan berarti tidak dapat dilakukan. Dalam praktiknya, pasangan bisa saling mengerti. Atau mungkin merahasiakan sambil terus melakukan terapi. Bagaimana baiknya jelas sangat bergantung pada situasi.

Jika tidak sanggup menikah, juga didasari kekhawatiran akan menimbulkan masalah maupun khawatir tidak dapat membahagiakan istri misalnya, mungkin saja menghindari hubungan seksual sama sekali. Tentu saja dengan pertimbangan untuk menghindari hal-hal yang tidak dibenarkan dan diinginkan.

Bagaimana jika akhirnya tetap melakukan hubungan seks? Memang ini sangat dipengaruhi beragam sebab, bermacam-macam pula faktornya. Karena hubungan seksual di luar nikah adalah zina, sedapat mungkin hindarilah. Setidaknya jangan menganggap sepele atau bersikap masa bodoh. Kesadaran hal ini menjadi penting karena dapat lebih mendekatkan diri kepada Allah Maha Pencipta. Dalam keyakinan sebagai makhluk-Nya, Allah Maha Pengasih Maha Penyayang. Jika tidak menyadari hal ini, sangat dikhawatirkan justru akan terlibat dan terjebak pada hal-hal lain yang justru malah lebih buruk. Tapi kemungkinan ini jelas sangat bergantung pada kondisi masing-masing individu.

Tulisan ini saya sampaikan mudah-mudahan untuk memberi gambaran yang lebih jelas. Bagaimana baiknya tentu saja terserah pendapat masing-masing. Saya hanya berharap semoa tulisan ini memberi manfaat dan wawasan yang lebih baik.

Salam.



New York, Sinar Harapan


Menonton blue film selalu identik dengan hobi kaum Adam. Publik menganggap wajar saja kalau ada lelaki yang mengoleksi puluhan atau bahkan ratusan CD yang mempertontonkan adegan seksual. Tapi sekali ada perempuan yang berhobi menonton blue film atau bahkan mengoleksinya, maka orang akan geleng kepala.

Padahal sama seperti lelaki, kaum Hawa juga punya keinginan menikmati sensasi yang muncul dari adegan dalam film-film tersebut. Dengan blue film ini, tim psikolog dari Northwestern University (NU) bisa mengungkap bahwa perempuan memiliki orientasi seks yang tak kalah hebat dari lawan jenisnya, demikian dilansir ABC News baru-baru ini.

Tidak seperti laki-laki yang gairah seksnya bisa dengan mudah bangkit karena menyaksikan perempuan berhubungan seks, ternyata perenpuan mempunyai lebih banyak hal yang mampu meningkatkan gairah seksnya. Dari penelitian Michael Bailey dan kawan-kawan di NU, gairah seks perempuan bisa timbul bukan hanya sekadar melihat adegan seks biasa. ”Orientasi seks perempuan sangat berbeda dengan lelaki. Mereka bisa menyukai adegan seks lesbian, gay, atau heteroseksual sekaligus,” ujar Bailey. Lebih dari itu, mayoritas para perempuan dalam studi penelitiannya ternyata biseksual.

Ide menginvestigasi masalah seks pada perempuan ini muncul di benak Bailey karena kebanyakan studi seks selalu terfokus pada lelaki. Selama beberapa tahun terakhir Bailey dan rekan-tekan melibatkan 121 relawan yang terdiri atas 69 lelaki dan 52 perempuan. Mereka semua dipertontonkan blue film, sementara para ilmuwan memonitor respons seksual mereka.
Pada awal wawancara, masing-masing relawan mengaku heteroseksual atau homoseksual, tak satu pun yang menyatakan diri sebagai biseksual. Untuk mengukur sejauh mana gairah timbul akibat menonton blue film, pada para lelaki dihubungkan sejenis alat yang bisa mengukur ketegangan penis. Sedangkan pada para perempuan diletakkan tabung plastik yang menyala ke dalam vaginanya. Alat ini akan mengukur ketegangan di sekitar organ tersebut dan merefleksikannya ke dalam sinar.

Sementara para ilmuwan memonitor mereka dari ruang lain. Para relawan menonton adegan selama dua menit. Video ini memperlihatkan adegan seks antara lelaki dengan lelaki, perempuan dengan perempuan, dan lelaki dengan perempuan. Hasilnya, respons antara relawan lelaki berbeda dengan relawan perempuan.

”Kaum perempuan memiliki respons yang baik pada adegan erotis lelaki dan lelaki, perempuan dengan perempuan dan lelaki dengan perempuan. Sedangkan para lelaki lebih berespons pada adegan perempuan dengan perempuan. Sementara para gay hanya tertarik pada adegan lelaki dengan lelaki,” papar Bailey dalam studinya yang dipublikasikan dalam jurnal Psychological Science ini.

Orientasi Biseksual

Hampir semua relawan lelaki lebih memberi respons hanya pada adegan seks lelaki dengan perempuan. Tapi hanya 63 persen relawan perempuan yang memberi respons serupa. Berangkat dari sini maka diketahui bahwa perempuan heteroseksual selalu tertarik pada adegan seks lelaki gay, perempuan lesbian atau yang normal-normal saja. Hal berbeda terjadi pada kaum Adam. Mereka jauh lebih tertarik pada adegan seks lesbian dibanding dengan adegan seks lelaki dan perempuan.

Lalu apakah ini berarti semua perempuan tersebut adalah biseksual? Menurut Bailey, berdasar orientasi seks yang terjadi mereka memang terbukti biseksual. Namun jika ditanyakan pada mereka apakah kehidupan seks mereka memang biseksual, tentu jawabannya adalah tidak. Biseksual di sini hanya berarti timbulnya gairah seks mereka saat menonton suatu adegan. Sedangkan kehidupan seks mereka sehari-hari bisa saja normal. ”Pola gairah seks perempuan tidak selalu relevan dengan orientasi seks mereka,” ujar Bailey.

Lisa Diamond, dosen psikologi dari University of Utah mengatakan studi Bailey merupakan refleksi dari penemuan pada riset terdahulu. Orientasi seksual sesungguhnya merupakan sebuah fenomena yang jauh lebih kompleks daripada yang terlihat di permukaan. Orientasi ini sangat dipengaruhi oleh berbagai variasi emosi dan faktor fisik, terutama pada perempuan.
”Pada kaum perempuan, pengalaman atraksi seks tidak tergantung pada gen pasangannya saja, tapi juga terpengaruh oleh segala sesuatu di sekitarnya,” komentar Diamonds. Dari sini dapat disimpulkan bahwa orientasi seks perempuan jauh lebih kaya dibanding kaum Adam. Maka jika ada perempuan yang hobi menonton blue film atau mengoleksi CD-nya, tidak perlu geleng-geleng kepala. Bahkan kita harus memakluminya.



taken from Kompas

EI (emotional intelligence) atau kecerdasan emosional, akhir-akhir ini menjadi sorotan masyarakat kita dan sering diperbincangkan. Apa sih kecerdasan emosional itu? Dan mengapa ia menjadi lebih penting dari pada IQ (Intelligence Quotient) atau sering hanya disebut dengan intelegensi (kecerdasan). Lalu apa kaitannya antara kecerdasan emosional dengan masalah pacaran?

Sering kita mendengar bahwa IQ atau kecerdasan menjadi patokan cerdas tidaknya seseorang. IQ juga menjadi syarat untuk memasuki dunia sekolah ataupun pekerjaan, tentu saja dengan jumlah IQ di atas rata-rata. Kata intelegensi berasal dari bahasa latin intelligere yang berarti menghubungkan atau menyatukan satu sama lain, sedangkan pengertian intelegensi memberikan bermacam-macam arti.

Ada yang mendefisinikan intelegensi sebagai daya atau kemampuan manusia untuk menyesuaikan diri dengan keadaan baru dengan menggunakan alat-alat berpikir (otak) yang dimilikinya. Di sini dapat kita lihat bahwa kecerdasan erat kaitannya dengan masalah penyesuaian diri terhadap masalah yang dihadapinya. Orang yang memiliki intelegensi tinggi akan lebih cepat dan lebih tepat di dalam menghadapi masalah-masalah baru bila dibandingkan dengan orang yang kecerdasannya kurang. Intelegensi seseorang dapat diungkapkan dengan sebuah alat yang disebut dengan tes intelegensi (tes IQ). Seorang ahli psikologi menggolongkan IQ sebagai berikut: kecerdasan rata-rata dengan angka IQ 90-109; di atas rata-rata dengan angka IQ 110-119; cerdas dengan angka IQ 120-129; dan IQ di atas 130 untuk kategori jenius (cerdas sekali).

Kecerdasan Emosional

Lalu apakah orang dengan IQ yang rendah atau rata-rata tidak akan seberhasil orang dengan IQ yang tinggi? Pemikiran inilah yang kemudian memunculkan pentingnya kecerdasan emosi untuk menandingi kecerdasan. Inilah tantangan bagi mereka yang menganut pandangan sempit tentang kecerdasan, dengan mengatakan bahwa IQ merupakan masalah keturunan atau bawaan (genetik) yang tidak bisa diubah lagi, sekalipun oleh pengalaman hidup seseorang.

Lalu bagaimana dengan adanya kenyataan bahwa orang yang ber-IQ tinggi pun bisa gagal sedangkan orang yang ber-IQ rata-rata menjadi sangat sukses dalam hidupnya. Apakah yang menyebabkan itu semua? Di sinilah kecerdasan emosional memegang peranan penting, di mana ia mencakup pengendalian diri, semangat dan ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri. Keterampilan-keterampilan seperti ini dapat diajarkan kepada anak-anak semenjak dini, untuk memberi mereka peluang yang lebih baik dalam memanfaatkan potensi yang ada dalam diri mereka.

Apakah emosi itu? Emosi adalah setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu atau setiap keadaan mental (psikologis) yang hebat atau meluap-luap. Walaupun bentuk emosi itu bermacam-macam yang bahkan terkadang sulit untuk kita definisikan karena terkadang emosi itu bercampur aduk menjadi satu. Berbagai macam emosi tersebut bisa dikategorisasikan menjadi amarah, kesedihan, rasa takut, kenikmatan, cinta, terkejut, jengkel, dan malu.

Walaupun demikian, daftar pengelompokan emosi ini tidak menjawab setiap pertanyaan bagaimana pengelompokan bermacam-macam emosi tersebut dimaknai. Misalnya, bagaimana tentang perasaan yang campur aduk seperti iri hati, variasi antara perasaan marah yang juga mengandung sedih dan takut? Hal
inilah yang masih menjadi tantangan bagi para psikolog untuk terus menemukan jawabannya.

Keterampilan mengelola emosi

Cinta yang merupakan bentuk emosi yang sangat populer terutama bagi kalangan remaja, mengandung unsur-unsur penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran, dan kasih. Pacaran adalah sebuah proses saling mengenal, memahami dan menghargai perbedaan diantara dua individu. Dalam proses ini tentu saja keterampilan mengelola emosi sangatlah diperlukan untuk kesuksesan dalam berpacaran secara sehat! Keterampilan mengelola emosi tersebut meliputi :

  • mampu mengidentifikasikan serta mendefenisikan perasaan yang muncul
  • mampu mengungkapkan perasaan, mampu menilai intensitas (kadar) perasaan
  • mampu mengelola perasaan
  • mampu mengendalikan diri sendiri
  • mampu mengurangi stres
  • mampu mengetahui perbedaan antara perasaan dan tindakan.

Selain keterampilan emosional, keterampilan yang berkaitan dengan kecerdasan (kognitif - dalam bahasa psikologinya) juga penting.

Keterampilan seperti melakukan monolog (berbicara kepada diri sendiri) atau melakukan dialog batin untuk menghadapi suatu masalah; dapat membaca atau menafsirkan isyarat-isyarat sosial, misalnya mengenali pengaruh sosial terhadap perilaku kita dan melihat dampak perilaku kita tidak hanya dengan kacamata pribadi akan tetapi dengan pandangan (perspektif) yang lebih luas yaitu masyarakat di mana kita tinggal; menggunakan langkah-langkah yang tepat dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan memperhitungkan risiko-risiko yang mungkin akan terjadi; mampu memahami sudut pandang orang lain; memahami sopan santun, perilaku mana yang dapat diterima dan mana yang tidak dapat diterima oleh orang lain atau masyarakat; bersikap positif dan optimistis; serta mampu mengembangkan harapan-harapan yang realistis tentang diri sendiri dan masa depan kita.

Keterampilan berperilaku

Untuk melengkapi keterampilan emosional dan kognitif, ada satu lagi keterampilan yang harus kita kuasai untuk dapat berhasil dalam kehidupan kita (termasuk dalam berpacaran... ) yaitu keterampilan dalam berperilaku. Perilaku kita mencakup dua hal yaitu perilaku verbal dan perilaku nonverbal. Perilaku verbal adalah perilaku yang diwujudkan dengan kata-kata, misalnya mampu mengajukan permintaan-permintaan dengan jelas (misalnya minta duit, minta cium, minta mobil...he..he..), menanggapi kritik secara efektif, mampu bersikap asertif (tegas dan terbuka) untuk menolak pengaruh-pengaruh negatif (no drugs ... no hubungan seks...), dan mampu mendengarkan orang lain. Sedangkan perilaku nonverbal adalah perilaku yang diwujudkan dengan sikap tubuh, ekspresi wajah (seperti cemberut, tersenyum, dan seterusnya..), pandangan mata (melotot, melirik, ...), dan lain-lain.

Manusia dikarunia Tuhan tiga kemampuan tersebut yaitu kecerdasan, emosi dan perilaku, tinggal bagaimana kita mengelolanya sehingga mampu melengkapi satu sama lain.

Kecerdasan emosi tidak hanya penting dan perlu untuk pacaran saja, akan tetapi juga untuk kesuksesan kita dalam mengarungi hidup ini. Sudah cerdaskah kita secara emosional? Ataukah kita justru berada dalam golongan orang yang tidak atau belum mampu mengendalikan emosi kita ...

Saatnyalah kita mulai melatih kecerdasan emosi untuk menghadapi tantangan hidup yang kian sulit dan .... Selamat Berlatih!!!


Nur Rokhmah Hidayati dan Yahya Mashum PKBI DI Yogyakarta dan PKBI Pusat



andra basangih wrote:


Yeaaaah!! Akhirnya aku kembali setelah hujan badai menerjang Jakarta, dan cuaca yang sangat tidak bersahabat membuat aku terkapar masuk angin (sungguh tidak elit sodara-sodara) tapi berkat jasa seorang ROCKER (maksud gue temen yang biasa ngerokin he..he..)akhirnya aku terbebas dari perut kembung dan kepala pusing2 (sebenernya sih karena gak ada duit.

............ ..Flash BAck........ .

26 Januari, Isman ngajak beli tiket Java Jazz...hmmm. ..tanggal tua krodit banget,,,sebenernya pengin sih nonton Jamie Cullum...but. .kayaknya gue musti jual diri dulu buat beli tiket (kakakakakak. ..)
Abis nganterin beli tiket..hujan datang tanpa pamit...terpaksa dan amu gak mau aku harus merelakan kepalaku basah dan...yakh.. .....pusing. ...
27.Januari.. ..Ini yang gue tunggu nonton pameran fotonya Jeri........
Bagus! Gue suka konsepnya dia, tapi gue lebih salut ke cara pendekatan dia kemodelnya. Gila artis papan atas mau aja di "bolak-balik' ma dia. Gratis lagi..yeaaahhh. ..gue kapan.....
Sehabis nonton pameran iseng-iseng kita nongrong di senayan city untung aja gue dah baca jampi2 jadi gue gak kesambet main di tempat yang baru gue jabanin....nongkron g di mall...kayaknya ABG banget!

............ ......... ......... ....jeda. ......... ........

Tapi seru juga melihat 'hal-hal' yang seger hilir mudik kekekekek... dan ini hasil pantauan kita
Rambut panjang berponi miring 50.........Rok mini 47......tas pinggang 61......and bla..bla...Iseng- iseng kita bikin riset asal-asalan tentang gaya berpakaian anak jakarta..dan ternyata...remaja indonesia dan (mungkin orang indonesia ) mempunyai kecenderungan untuk bergaya nyaris seragam.dan menurut kami sih udah mencapai level yang alarming! Kami lantas tergugah untuk membuat riset yang sok tau itu

saat itu kami tidak menyadari bahwa diantara kami berlima ternyata memakai pakaian yang nyaris seragam. Kaos itm, jins belel dan sepatu kets...hik.. hik..menyedihkan memang.
Brondong di seberang lautan terlihat duda di depan mata tidak nampak! (garing ya?!)
Yang gue heranin...konon industri fashion sedang berkembang hebat tapi kenapa masyarakat enggan berpisah dengan keseragaman? Padahal tak ada aturan resmi yang mengharuskan orang dengan profesi, usia, gender, ataupun kelas sosial tertentu harus berpakain sesuai peran yang mereka mainkan.

Ingin tampil berwibawa pakailah jas armani, ingin terlihat nyeni..pakailah celana sobek2..ingin terlihat sholeh, pakailah jilbab..hmmm. ...

Hal ini kemudian kami perdebatkan ..Temanku menilai bahwa ini tdk ada hubungannya dg image tapi dengan etika busana. Menurutnya kekantor pake baju renang kan gak etis..baju trenang buat renang...yang etis kan ke kantor pake jas dan dasi. Kata saya kalau bicara fungsi, apa fungsinya dasi dalam kinerja seorang karyawan? Malah lebih nyaman keraj paki kaos...bebas.

Yang pasti manusia sudah kehilangan keunikan dan identitasnya karena penyeragaman lewat propaganda produk2. Hasilnya banyak orang tak merasa keren ketika ia tak menggunakan produk2 yg di gunakan orang lain. menurut sebuah buku..setiap orang adalah pencipta situasi. Hidup adalah festival panjang. dan keragaman ekspresi setiap individu adl sesuatu yng berharga utk dirayakan. Sudah saatnya kita rebut kembali arah hidup kita, setelah selama ini diseret arus konsumerisme global!

nah temen2 sendiri gimana? Masih suka pakai seragam?



Adi Ki wrote:


Eugh... itu yang bisa gua ungkapin saat si bos dateng untuk mereview beberapa kerjaan. Bukan masalah kerjaannya yang bikin gua menggerutu. Mengingat fokus gua akan tersita banyak untuk perkejaan itu yang bikin gemes. Gak tau kenapa pas bangun pagi pas mau berangkat kerja tiba-tiba ada yang "hilang" dari hidup gua.

Sebanyak, sepadat dan separah apapun beban pekerjaan, gua masih merasa bisa untuk menyelesaikannya. Tapi kalo udah ada perasaan "hilang" yang teramat sangat, kayaknya cukup mengganggu juga.

Berangkat subuh, pulang hampir malam. Bisa dibilang gua gak pernah mampir kemanapun untuk yang namanya hang out. Sampe di rumah, beberapa baris daftar pekerjaan rumah sudah menunggu. Selanjutnya tidur. Wiken bisa dibilang mengurung diri di rumah atau pergi keluar kota untuk urusan yang serius. Kalau sudah mengurung diri di rumah pekerjaan gua percis kayak kebo, tidur makan boker mandi nonton tipi dan tidur lagi.

Alhasil tagihan telepon gua sangat minimal, jangankan nelepon, ngangkat telepon aja kadang-kadang males. Maen keluar, kalo bukan temen yang ngajak atau dipaksa kayaknya susah banget. Sering kali wiken gua gak menjejakan kaki keluar pintu rumah. Kata temen gua, gua ini terlalu tertutup dan tidak membuka diri. Apanya yang tidak membuka diri, kalo dirumah aja gua cuma pake "cd".. ehehehe... kurang apalagi coba.

Kira-kira temen-temen ada yang punya pengalaman serupa gak? Gimana caranya supaya lebih "cerah dan ceria". Masak hidup gua hanya didedikasikan buat kerjaan melulu.. gua pengen mendedikasikan diri gua untuk seseorang. But how?

gor BP26 wrote:

Gue mengandalkan teman gue kalau gue begitu Sepulang kerja, gue paling kagak ketemu sama temen utk berbagi informasi terbaru ttg apa pun dan bisa curhat ttg apa pun

kita berkumpul hampir lebih dari 8 tahun sejak kuliah hingga skrg diperkumpulan itu, kami tidak membiasakan diri untuk menghakimi rekan yang sedang curhat tapi menghujat, menghina, dan bergembira di atas penderitaan teman tsb akhir nya, yg curhat bisa mentertawakan masalah nya sendiri. jika sudah ke arah sana, jalan keluar mudah di
pikirkan dan di laksanakan

itu lah guna nya teman
tempat kumpul tdk perlu harus cafe gemerlap yg sekali duduk perorang harus menghabiskan minimal 150rb, tapi bisa juga warung kacang ijo dipinggir jalan sudirman atau makan mie pangsit di daerah benhill atau food court atau mengadakan mini buffet di dalam bus atau taksi

lokasi tidak penting asal nyaman, tdk mengganggu org & tdk ada yg ikut usil dari sana,paling tdk beban kerja agak berkurang, dan otak serta mental bisa dipakai utk menangani masalah lain nya

tidak ada waktu ?
elo harus pulang kan
dan kagak mungkin elo kagak ada kenalan yg se arah pulang

aldy zest wrote:

well....kondisi pertemanan itu naik turun just like the way life goes...people changes along d way...
yg bisa dilakuin skrg adalah cari temen baru yg banyak.biarkan waktu akan menyeleksi mana true frenz mana yg numpang lewat doang. carilah org yg mempunyai life direction yg sama.Jgn lupa di maintain tuh temen2 lama, keep emailing, calling, YMing, ngumpul bareng sebentar aja.

jadi inget omongan gw: anjing tuh ngumpul ma anjing. kucing ngumpulnya ma kucing. u dont mix dogs with cats......ntar jadinya catdog.... catdog......


Sky Above wrote:

Bener banget ttg pertemanan itu. There is the beginning there is the end. People comes and goes in our lives....... ......

Kalo pertemenan itu di ibaratin sebuah perjalanan (journey). Ada orang2 yang kita ktemu hanya untuk "just say hi", ada yang kita bertemu hanya untuk bertanya arah jalan dan ada pula kita bertemu dengan nya untuk suatu "one night stand".

Lalu ada orang2 yang menjadi teman kita karena arah perjalanan kita sama, karena tujuan kita sama. Tapi itu juga mungkin hanya untuk sampai belokan pertama, atau perempatan jalan besar di depan. Lalu setelah mencapai sebuah desa kita berpisah, atau setelah sampai di sebuah kota besar kita harus melakukan tujuan masing2 dan berpisah.

Lalu orang dan teman baru datang untuk sebuah perjalanan yang baru, karena life goes on, there is time to say hi and there is time to say goodbye..... ......

Saat untuk berpisah memang selalu tidak menyenangkan, terutama untuk orang2 yang telah mengisi kehidupan kita dengan kebaikannya dalam melakukan perjalanan yang disebut kehidupan. But then again that's life, people (we) changes along d way with their own purpose of life........ ...

Dedicated to all my good friends from the past and future...... .....it's been a wonderful journey with all you guys



By Julie Taylor


When you see a couple canoodling at a Chinese restaurant (on the same side of the booth, natch), do you ever think to yourself how freaking lucky they are? Even without seeing what message lies inside their fortune cookies, it’s clear that Lady Luck has smiled upon them and brought them together-which can be a little painful if you’ve recently been overlooked in the romance department. Well, we’ve got some good news. No matter how your love life has (or hasn’t) played out in the past, you can easily turn your love luck around when you employ our proven principles. We’ve consulted top experts in the field to find out how you can inject a little more fortune into your love life and once and for all win the Lotto of love. Jackpot!


Open your eyes to what’s around you

"Unlucky people are generally more tense than lucky people, and this anxiety disrupts their ability to notice the unexpected," says Richard Wiseman, Ph.D., author of The Luck Factor: Changing Your Luck, Changing Your Life and head of a psychology research department at the University of Hertfordshire in England. "As a result, they miss opportunities because they’re too focused on looking for something else." For instance, they might go to parties so intent on finding their "perfect partner" that they then miss their chance to meet anyone who doesn’t meet that ideal. Lucky people are more relaxed and open, and they therefore see what is there waiting for them rather than focusing solely on what they’re looking for in a mate. So the next time you go to a nightclub or party, throw your pursuit of Mr. or Ms. Perfect out the window and instead focus on talking to people who make you laugh and relax. That’s someone worth getting to know.


Tune into "gut feelings"
In his research, Dr. Wiseman has found that lucky people listen to their instincts because those instincts are normally right. So for the next week, try not only listening to your gut feelings but acting upon them: Email someone whose online profile seems to silently call out to you, or speak to that stranger in the produce section who’s giving you a strange sense of déjà vu. Elizabeth Bradford, 32, of Plano, TX, used this very strategy to find her now-boyfriend. "I was in line at a farmer’s market tamale stand, and a voice inside me told me to talk to the guy in front of me. I almost never make the first move, so I was nervous-but my gut told me if I didn’t say hi, I might regret it for the rest of my life. I went ahead and spoke up, and we ended up having tamales together on a park bench. We’ve been together for six months now, and the most important lesson this relationship has taught me is to always follow your inner compass. It will never steer you wrong!"


Shake up your daily routine
Transforming your luck can be as simple as changing where you buy your morning coffee, says Theresa Hoiles, co-author of Love, Luck, And Lore: A Guide To Superstitions, Prayers, Spells, And Taking Chances In Pursuit Of Love. "When you change your routine, you’ll be more likely to take note of what’s going on around you rather than walking around on automatic pilot, oblivious to potential partners in the vicinity," she explains. So take a different route to work. Hit the Laundromat on a Saturday afternoon instead of a Wednesday night. Mix things up to discover what (or whom) you’ll find off your beaten path.


Expect good fortune
"Luck is very often a self-fulfilling prophecy," Dr. Wiseman attests. "And visualization helps lucky people persist in the face of failure and positively shapes their interactions with other people." So before your next date, take a few moments to imagine yourself having the best date of your life. Close your eyes. Envision yourself smiling, connecting, and clicking with the other person. Then make it happen!


Keep a luck diary
In Dr. Wiseman’s Luck Lab, where he’s performed much of his groundbreaking research on luck, he asks people to keep a luck diary. At the end of each day, they spend a couple of moments writing down the positive and lucky things that happened to them in the past 24 hours. "After doing that for a month," he says, "it’s difficult for the participants not to be thinking about all the good things that are happening!" To give his technique a twist, try keeping a Lucky in Love Diary for 30 days. Write down all the lucky romantic things that happened to you throughout each day-noting the cute cashier who smiled at you in Starbucks or the way your date stroked your hand during dinner. By month’s end, you’ll feel like a luck (and love) magnet!


Transform bad luck into good luck
It turns out that lucky people have their share of rotten luck, too. But Dr. Wiseman says they are pros at looking at the bright side. "They automatically imagine how things could have been worse, and don’t dwell on their bad luck," Dr. Wiseman explains. "They have a strong conviction that everything will work out for the best." And it usually does. So the next time you have a bad date, remind yourself of the bright side: Dating is a numbers game, which means that every dud you meet only brings you closer to The One. And with the above advice, that may happen sooner than you think!

Julie Taylor is the co-author of How To Be A Dominant Diva. She also writes for Redbook and other publications.



okeman wrote:

well come on la....

like it or not.... being gay emank nga normal tuh....

yang normal yah tuh cowo sama cewe.... itu yang normal... u like it or not.... itu yang normal di society... buktinya pada jadi undercover... kalo being gay itu normal kenapa undercover?

ab-normal alias nga normal ngga harus berarti jelek!!!

sb_santosa wrote:

Boleh dong berhayal kalau suatu hari nanti masalah orientasi seksual jadi lebih dipahami dan di terima oleh masyrakat keberadaannya dan bisa di bedakan antara orientasi seksual dengan seks bebas..

Selama ini homoseksual selalu di berkonotasi dengan seks bebas..makanya selalu di anggap enggak normal atau sakitlah..

seperti yang sudah dibilang..boleh dong berhayal... suatu saat kita bisa ngomong kalau kita Gay tanpa harus mengalami pelecehan dan labelisasi sebagai budak nafsu..

Kapok...pernah coming out sama seseorang bahkan sudah terus terang soal status merried eh masih saja cari peruntungan ngajakin yang aneh-aneh walau ndak terus terang tapi cukup bikin
mual;(...celetuknya.."lah elo kan gay!!! " emang kalau gue Gay..so what???


pippo wrote:

udah kok,
skr gay udah ngga dibilang abnormal lagi.
penelitian membuktikan.
yg bilang ngga normal aja yg ngga mau buka mata.


1. suatu yang dianggap normal itu adalah sesuatu yang dianggap oleh orang yang punya kekuasaan sebagai sesuatu yang benar. Kalo yang berkuasa sudah mengatakan sesuatu kedaaan adalah tidak normal, maka orang-orang akan mematuhinya. Contohnya: jama dulu, orang yang berkuasa di Indonesia, mengganggap kalo gay itu penyakit dan tidak normal, buktinya ada UU yang mengatakan bahwa gay adalah orang sakit jiwa (gw lupa UU nya). Tapi skr UU itu udah dihapuskan, tapi knp orang2 masih membenarkan hal-hal yang oleh Orang yang berkuasa dihapuskan? Krn orang-orang itu masih menutup mata, dan ngga mau menerima perubahan. Orang-orang ini ingin seperti orang dulu, pemikiran jaman dulu. Orang yg ky gini biasa kita sebut orang kolot / orang dgn pemikiran
jama dulu (biasanya orang tua/ orang muda berjiwa tua kali ya hehehe). Ini buktinya banyak PLU yang ngga berani bilang ttg orientasi sex mereka ke orang tua, karena mereka tau kalau orang tua mereka masih menganut pemahaman jaman dulu (pemahaman yg kolot). Coba kalo orang tuanya udah open mided, berpikiran
terbuka, wawasan luas, pasti fine2 aja. Gue yakin.

2. dulu gay secara medis dikatakan sebagai penyakit, dan memang benar penyakit adalah suatu keadaan tidak normal dari manusia. Tapi sekarang, pendapat-pendapat
kuno spt itu udah dihapuskan dengan adanya penelitian2 dkter dan ilmuwan di dunia bahwa gay/homoseksualitas bukan suatu penyakit. Jadi gay sekarang bukan dianggap penyakit, dan gay bukan dianggap tidk normal lagi.

3. kata normal itu juga punya banyak arti sebenernya, dan ngga seharusnya dipake buat menggolong2kan manusia. Hari gini gt lho…. Karena manusia sebenernya sama. Kita sama dengan yg lain, kita manusia juga punya hak yang sama dengan manusia lain di dunia ini. Bukankah inti dari agama itu adalah kesetaraan yang bisa membuat kita menghargai satu sama lain, yang membuat kita menjadi manusia yang lebih baik. Ngga seharusnya kita membeda2kan manusia atas gender, orientasi sex, agama, etnis, dll. Kita semua manusia.

4. buka mata dan pikiran

5. ini bukan pembenaran, tapi kenyataan yang emang ada. Gw Cuma mau membuka mata kalian. Jangan berpikir seperti orang kolot dan awam lagi.

6. kita semua sama kok. love u all guys


sb_santosa wrote:

Saya kan melihat dari sudut pandang sosial bukan secara akademis dan memang secara sosial (masyrakat) Homoseksual masih di anggap sebagai sesuatu yang abnormal, ini dipandang dari sisi keumuman seperti yang dijelaskan sdr okeman.

henryfromhamzah wrote:

gak usahlah mikirin pendapat masyarakat atau umum ttg normal ga normal..tanyakan ke hati kecil kamu aja sendiri.

gay yg merasa dirinya ga normal biasanya sih:
1. terlalu didoktrin ajaran agama
2. kurang terbuka pikiran..kurang bacaan ..kurang wawasan
3. trauma krn terlalu banyak ditolak ga tau krn kepribadiannya atau penampilan fisik.

gw ga mau berdebat atas dasar agama atau apalah..tapi liat aja kenyataan sehari hari di masyarakat. apakah setiap manusia punya kecendurangan utk tertarik ke sesama jenis.jawabannya adalah YA 100%. cowo cowo yg cakep mungkin udah ngerasa gimana mereka berada ditengah sekumpulan manusia bermacam jenis. pasti decak kekaguman bukan berasal dari lain jenis doang tapi juga sesama jenis.

ttg gay berubah jadi straight...lo boleh survey jutaan gay/biseks yg married apakah mereka totally hilang nafsu ke sesama jenis. jawabannya adalah NO 100%. kalaupun mereka bilang mereka sudah ga pernah have sex lagi ama cowo sejak married bisa jadi itu karena :

1. sibuk urusan keluarga dan anak..
2. mereka udah tua, penampilan tidak menarik alias tidak laku lagi
3. pergaulan semakin sempit , tidak ada waktu utk cari cari temen cowo.

itulah kenyataan yg ada..terimalah dgn dada terbuka..terutama buat STRAIGHT YG BERJUANG KERAS UTK JADI GAY..sampe dibelain ikut milis ini.


sb_santosa wrote:

Enggak usah mikirin pendapat masyrakat?? how come?? bagaimana bisa??? kita ini makhluk sosial...dari semenjak kita gubrak lahir didunia sampaia kita meninggal akan selalu melibatkan keberadaan orang lain atau masyarakat sekitar kita...

Kecuali kalau kita memang hidup sendiri di hutan...

Apa yang kamu tulis tentang alasan Gay yang merasa dirinya ga normal mungkin ada benarnya hanya saja terlalu sempit jika hanya itu yang dijadikan tolak ukur yang jelas Gay yag tidak merasa nyaman dengan dirinya disebabakan oleh sudut pandang dia terhadap homoseksual yang mana setiap orang mempunyai sudut pandang yang didasari oleh ruang lngkup pengalamanya dan ini pastinya setiap orang mempunyai ruang lingkup pengalaman yang berbeda-beda.

Soal Gay yang berubah menjadi str8, ini bukan kepada orientasi seksualnya tapi lebih kepada PRILAKU sama saja seperti seorang heteroseksual yang tetap setia kepada satu pasangan walau ketertarikan secara seksual kepada lawan jenis lainya masih tetap ada.

Contoh saya sendiri, status merried...ketertarikan sama cowo jelas ada tapi tidak ada keinginan untuk berprilaku untuk have seks dengan cowo dan hanya melakukan seks dengan pasangan yang syah. Lagi pula kadar homoseksual itu bergradasi bisa bertambah dan bisa berkurang.

Dulu sebelum merried liat cowo kinclong bisa sampe berfantasi saking edannya tapi sekarang cuman sekedar "mengagumi" yang indah2 tanpa harus sampe mikirin yang jorok2;))


Survey yang diterbitkan oleh Harris Interactive dan Witeck-Combs Communications menunjukkan bahwa gay dan biseksual menggunakan internet social networks jauh lebih banyak dibandingkan kaum hetero, baik cowo maupun cewe. (Witeck-Combs mengkhususkan diri pada target konsumen kaum gay dan biseksual).

Menurut survei online pada 2.542 orang dewasa, 27% di antaranya diketahui mengunjungi youtube.com setidaknya satu jam per minggu, dibandingkan dengan 22% hetero; dan mengunjungi craiglist.com sejam atau kurang perminggu dibanding dengan 13% heteroseksual.

Melalui metodologi survei, para peneliti mencatat 2.205 orang dari mereka adalah heteroseksual, 267 mengakui dirinya gay, lebian atau biseksual.

Hampir dua kali lupatnya, para gay (32%) online antara 24 dampai 168 jam seminggu, dibandingkan dengan 18% heteroseksual.

Bob WIteck, CEO grup tersebut mengatakan, "Kami secara terus menerus mencatat penggunaan online yang kuat dari komunitas gay. Gay dan lesbian menunjukkan kebutuhan mereka untuk akan internetyang juga berarti kesempatan yang bagus untuk pemasaran. Jariangan sosial juga telah menjadi kebiasaan kedua bagi konsumen gay dan lesbian.

Internet digunakan untuk mencari partner seks.

Sebuah studi yang diterbitkan oleh The Journal Sex Research, 1 Fberuari 2005, mensurvei penggunaan internet oleh gay cowo di chat room, social networks dan tempat lainnya di internet untuk mencari partner seks.

Sharyn Burns, menulis dalam "Fotomu adalah Umpan: Arti dan Kegunaan Dunia Maya bagi Pria Gay," mencatat bahwa "Internet memiliki daya tarik unik bagi cowo gay karena seperti grup minoritas, dan terbatas, cowo gay memiliki sedikit tempat dimana mereka bisa saling bertemu tanpa rasa takut pada konsekuensi negatif dari lingkungan sosialnya."

Penulis mengatakan bahwa penelitian di AMerika dan Inggris mengindikasikan antara 17% dan 35% menggunakan internet untuk mencari teman ML.

Penelitan Burns mensurvei kebiasaan berinternet dari 790 cowo gay di Perth, Australia di tahun 2002. Dia juga mewawancari secara personal 25 orang cowo untuk mencaritahu bagaimana mereka menggunakan internet.

Cowo-cowo gay menggunakan internet untuk beberapa macam alasan: bersosialisasi, alat mencari informasi, keinginan untuk membentuk jaringan dan pertemanan, sebagai cara untuk menjaga kerahasiaan, dan menjadi tempat aman sebelum ketemuan, dan menggunakan internet untuk mencari perngalaman-pengalaman, hiburan, dan pelarian.

Burns menemukan: "Internet memberikan kesempatan bagi pria untuk terbuka soal status HIV mereka tanpa menunjukkan identitas mereka dan mencari pria lain dengan status HIV yang sama. Sementara banyak pria dari penelitan terebut melaporkan mereka penah melihat beberapa profil yang ada di internet yang menunjukkan status HIV positif yang dimiliki pemilik. Hanya sedikit pria yang mengatakan status HIV dibicarakan selama mengobrol di chat room di Perth."

Bunrs melanjutkan: "Secara Internasional, Internet turut mengembangkan norma-norma budayanya sendiri, dan pria-oria yang mengunakan internet merasakan perasaan yang lebih kuat akan anonimitas, rasa aman, dan kenyamanan dibanding yang mereka alami di dunia yang lain.

ANDY KONG wrote:

Dear qinkqonk

Mungkin karena para PLU lebih ada waktu surf tanpa hrs

menyisakan waktu untuk anak dan istri etc.

Regards

qinkqonk wrote:

yepp... it's a thing what u said..

dan kepikiran juga ngga di antara temen-temen
pada dasarnya kita makhluk sosial
kita selalu berusaha untuk bisa berkumpul
apalagi dengan orang yang merasakan hal yang sama dengan yang dirasakannya

trus ada juga yang bener-bener addicted
dalam sehari bela2in ke warnet 3-5 jam
nyari2 kenalan
kalo mungkin ketemuan, have sex, or even be a lover to each other

di sana kita ngerasain kenikmatan itu juga ngga sih
kenikmatan bisa melepaskan desire terhadap hal yang kita sukai, cowo

beda mungkin ama temen2 straight kebanyakan
mereka ga terlalu kepikiran ke arah sono
karena buat nyari pasangan, mereka bisa flirting di kampus, di mall, atau bahkan iseng lewat di jalan

gw sendiri online 8-14 jam sehari
gw juga bersosialisai di YM, milis, dan mIRC

sebelumnya gw minta maaf ma temen2, gw ga demen kalo ada yg nyapa gw cuman untuk nanya stat ama pic
atau miskalin gw mulu. nomor gw muncul di bawah, itu signature, untuk keperluan relation. so please be wise with it

di mIRC, kadang gw juga horny, kadang butuh pelampiasan
tapi mungkin karena gw ngerasa it's not me

gw ampir selalu ngebatalin janji ketemuan, pas dia udah mulai nanya, mo nunggu dimana, gw pake baju ini-itu
bukan karena apa, mungkin karena gw lagi ngerasa ga nyaman aja waktu itu

tapi jujur aja..
gw ngrasain hal yang sangat menyenangkan buat gw, bikin gw deg2an ampir kaya orang kasmaran
ketika cowo2 itu ngajakin ketemuan

yepp.. gw suka banget mengalami perasaan2 kaya gitu
makanya itu yang mungkin (menurut) gw, kita jadi makin addicted to internet

tapi itu sekaligus bikin sedih gw
karena kita jadi ga produktif
tiap hari kerjaannya cuman chatting mulu
ato donlot bokep

well... postif juga sih, kita dapet banyak temen baru dari chat
tapi apa yang bisa lo dapetin dari pertemenan itu

well, would u agree with me if i say.. come on gays, we got to something with our gay life
jangan cuman jadi orang yang bisanya menikmati kecanggihan teknologi doang
tapi kita juga bisa menghasilkan sesuatu dari sana

misal, bikin acara ketemuan.. buat yang seneng ngumpul, lalu bikin event bareng
diskusi, nonton, bikin hiburan

atau kenal dengan orang yang sama bidang kerjanya
terus bikin kolaborasi..

i'm sure it will be great

kalo temen-temen mikir terganjal dengan takut ketauan gay banget
humm.. yang bisa munculin atau nyembunyiin, cuman diri kita sendiri
kalo kita beneran serius dengan apa yang kita lakuin bersama
orang akan menilai dari apa yang bisa kita lakuin, bukan apa diri (dalam hal ini orientasi seksual) kita

i love u, gays!


PS: malem ini gw masih migren, dan kehilangan
but do share here, helped me on my pain
thx



sumber: Kompas

Bisa diterima atau tidak, dalam kehidupan kita ada sekelompok orang yang memiliki orientasi seksual berbeda.

Pada umumnya, manusia memiliki orientasi seksual terhadap lawan jenisnya. Seorang pria tertarik pada wanita, atau sebaliknya, wanita tertarik pada pria. Mereka jamak disebut sebagai kaum heteroseks.

Namun, pada orang-orang tertentu orientasi seks macam itu tidak ada atau berkadar kecil. Mereka justru (lebih) tertarik pada orang-orang sejenis. Bila pria, mereka tertarik pada sesama kaum Adam. Umumnya mereka disebut gay. Sebaliknya, yang wanita tertarik pada sesama kaum Hawa. Wanita dengan orientasi seks seperti ini disebut lesbian. Gay dan lesbian inilah yang kemudian dikelompokkan dalam kaum homoseks.

Perilaku homoseksual dapat bermanifestasi sebagai pola preferensi pasangan erotik (pembangkit libido) yang tidak pernah mengenal atau merasakan bangkitan erotik oleh pasangan berjenis kelamin lain. Semua minat afeksi (alam perasaan) dan genital (daerah erotik) tertuju pada pasangan sejenis kelamin. Perilaku macam ini dikenal sebagai homoseksual overt atau eksklusif. Pelakunya sadar akan nafsu homoseksualnya dan tidak berusaha menutupinya.

Di antara homoseksual eksklusif (homoseksual sejati) dan heteroseksual eksklusif (heteroseksual sejati) terdapat homoseksual dan heteroseksual dengan kadar berbeda. Seorang heteroseksual sejati tertarik dan terangsang hanya terhadap lawan jenis. Namun, ada pula heteroseks yang tertarik kepada sesama jenis, hanya saja kadar ketertarikannya sangat kecil sehingga hampir tak berarti. Seorang wanita heteroseks misalnya, mungkin saja mengagumi wanita seksi. Atau, pria heteroseks mungkin pula mengagumi pria lain yang berotot. Namun, bila seseorang mempunyai rasa kagum, tertarik, dan terangsang terhadap sesama jenis jauh lebih dominan, dia sudah dapat disebut homoseks.

Berdasarkan skala Kinsey, skala orientasi seksual itu bergradasi sebagai berikut:

0 = heteroseksual eksklusif

1 = heteroseksual lebih menonjol (predominan), homoseksualnya cuma kadang-kadang.

2 = heteroseksual predominan, homoseksual lebih dari kadang-kadang.

3 = heteroseksual dan homoseksual seimbang (biseksual)

4 = homoseksual predominan, heteroseksual lebih dari kadang-kadang.

5 = homoseksual predominan, heteroseksual cuma kadang-kadang.

6 = homoseksual eksklusif

Dari skala tersebut, terlihat homoseksual mempunyai berbagai bentuk. Hal yang sama juga terjadi pada heteroseksual. Selain itu ada pula yang disebut biseksual. Namun, tidak mudah untuk mengetahui seseorang biseks atau tidak. Seorang biseks sejati (melakukan hubungan seksual nyata baik dengan sesama jenis maupun dengan lain jenis) jarang sekali ditemukan. Yang biasa ditemukan adalah pria biseks yang menyukai sifat kelaki-lakian seorang wanita sekaligus menyukai sifat kewanita-wanitaan pria setipe wanita yang disukainya. Terdapat pula pria biseks yang cenderung homoseks, tetapi tertarik pada wanita dengan sifat yang sama dengan pria yang disukainya.

Juga dapat ditemukan kasus di mana seorang pria homoseks bertunangan dengan seorang wanita, namun menyukai saudara pria tunangannya. Seorang wanita biseks menyukai pria yang kewanita-wanitaan juga wanita yang kelaki-lakian. Ada pula wanita homoseks bertunangan dengan seorang pria dan menyukai saudara wanita tunangannya. Demikianlah kompleksnya relasi seorang biseks, homoseks, atau heteroseks.

Menurut Bloch, perbuatan homoseksual tanpa mentalitas homoseksual disebut pseudohomoseksual. Pada homoseksual, perbuatan merupakan produk mentalitas homoseksual. Istilah pseudohomoseksual menunjukan pada perbuatan orang-orang yang tidak bersumber pada mentalitas homoseksual tetapi dilakukan berdasarkan yang di luar impuls seksual. Heteroseksual, sebagai ciri utama kepribadian mereka, tetap bertahan. Akan tetapi, di antara mereka sering terdapat biseksualitas. Homoseksual didapat (acquired) dan temporer kebanyakan termasuk dalam kategori biseksual.

Kadang-kadang, terdapat seorang homoseksual melakukan hubungan heteroseksual untuk memperoleh keuntungan. Umpamanya terdorong perasaan berterima kasih atau kasihan. Atau, karena tidak tersedia pasangan sejenis kelamin.

Dari segi psikiatri ada dua macam homoseksual, yakni homoseksual ego sintonik (sinkron dengan egonya) dan ego distonik (tidak sinkron dengan egonya). Seorang homoseks ego sintonik adalah homoseks yang tidak merasa terganggu oleh orientasi seksualnya, tidak ada konflik bawah sadar yang ditimbulkan, serta tidak ada desakan, dorongan atau keinginan untuk mengubah orientasi seksualnya.

Hasil penelitian beberapa ahli menunjukkan, orang-orang homoseksual ego sintonik mampu mencapai status pendidikan, pekerjaan, dan ekonomi sama tingginya dengan orang-orang bukan homoseksual. Bahkan kadang-kadang lebih tinggi. Wanita homoseks dapat lebih mandiri, fleksibel, dominan, dapat mencukupi kebutuhannya sendiri, dan tenang. Kelompok homoseks ini juga tidak mengalami kecemasan dan kesulitan psikologis lebih banyak daripada para heteroseks. Pasalnya, mereka menerima dan tidak terganggu secara psikis dengan orientasi seksual mereka, sehingga mampu menjalankan fungsi sosial dan seksualnya secara efektif.

Sebaliknya, seorang homoseks ego distonik adalah homoseks yang mengeluh dan merasa terganggu akibat konflik psikis. Ia senantiasa tidak atau sedikit sekali terangsang oleh lawan jenis dan hal itu menghambatnya untuk memulai dan mempertahankan hubungan heteroseksual yang sebetulnya didambakannya. Secara terus terang ia menyatakan dorongan homoseksualnya menyebabkan dia merasa tidak disukai, cemas, dan sedih. Konflik psikis tersebut menyebabkan perasaan bersalah, kesepian, malu, cemas, dan depresi. Karenanya, homoseksual macam ini dianggap sebagai gangguan psikoseksual.

Faktor biologis dan lingkungan

Mengacu pada teori penyebab homoseksual, dr. Wimpie Pangkahila menyebutkan ada empat kemungkinan penyebab homoseksual. Pertama, faktor biologis, yakni ada kelainan di otak atau genetik. Kedua, faktor psikodinamik, yaitu adanya gangguan perkembangan psikoseksual pada masa anak-anak. Ketiga, faktor sosiokultural, yakni adat-istiadat yang memberlakukan hubungan homoseks dengan alasan tertentu yang tidak benar. Keempat, faktor lingkungan, yaitu keadaan lingkungan yang memungkinkan dan mendorong pasangan sesama jenis menjadi erat.

Sementara, menurut Budi, aktivis Gaya Nusantara , ada dua hal yang menyebabkan orang menjadi gay. Pertama, faktor bawaan atau gen, yaitu adanya ketidakseimbangan jumlah hormon pada diri seseorang sejak lahir. Jumlah hormon wanita cenderung lebih besar daripada laki-laki. Hal ini dapat berpengaruh pada sifat dan perilaku si laki-laki tersebut. Jati diri kewanitaan biasanya lebih kuat, sehingga mereka cenderung berperilaku feminin dan selalu tertarik terhadap aktivitas yang dilakukan wanita.

Laki-laki yang menjadi gay karena faktor tersebut biasanya tidak bisa kembali menjadi laki-laki dalam arti sebenarnya. Tapi, sifat gay tersebut bisa berkurang frekuensinya. Tentunya, diperlukan usaha yang keras. Misalnya, tidak bergaul lagi dengan kaum gay, punya keyakinan yang kuat, dan harus tahan segala godaan.

Kedua, faktor lingkungan, yaitu komunitasnya lebih sering bertemu dengan laki-laki dan amat jarang bertemu dengan wanita. Selain itu, ada juga dari mereka yang terlibat dalam kehidupan gay semata-mata karena gaya hidup dan materi. Biasanya mereka berawal dari coba-coba untuk berhubungan dengan sesama jenis dengan imbalan uang. Jenis gay ini bisa hilang bila mereka telah menemukan pasangan hidup wanita. Atau, mereka keluar akibat terkena penyakit kelamin. Dan juga, gay tersebut dapat kembali sebagai lelaki sepenuhnya bila punya komitmen kuat untuk menjauhi kehidupan gay.

Cemburu dan sukses

Dalam kehidupan sehari-hari, kalangan homoseks di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dan Australia, sudah berani tampil ke permukaan. Bahkan, setiap tahun mereka menggelar karnaval khusus bagi mereka. Namun, di negara berkembang, termasuk Indonesia, mereka masih malu-malu kucing untuk tampil terbuka dan memproklamasikan diri sebagai homoseks. Hanya beberapa orang yang secara terang-terangan mengaku sebagai homoseks.

Meski begitu, komunitas ini memiliki tempat-tempat tertentu, di seluruh Indonesia, untuk saling bertemu. Di sanalah mereka ngeber (mejeng, mangkal, ngumpul-ngumpul, Red.). Seperti halnya kalangan heteroseks, dalam berelasi mereka mengenal perasaan cemburu dan depresi jika pasangan homonya berbuat serong dengan orang lain. Perasaan cemburu dan depresi ini dapat sedemikian besarnya sehingga yang merasa ditinggalkan dapat bunuh diri akibat depresi. Malah bisa pula membunuh pasangannya yang berselingkuh tadi. Kasus macam ini umumnya terjadi pada pasangan gay, walaupun bukan tak mungkin terjadi pada pasangan lesbian. Seorang lesbian yang berperan sebagai suami (the butch) dapat membunuh seorang pria heteroseksual yang merampas pasangannya.

Perilaku macam itu bisa dipahami karena mereka manusia biasa seperti kaum heteroseks. Homoseksual bukanlah penyakit. Homoseksual hanyalah salah satu bentuk orientasi seksual seseorang. Yang pasti, menjadi gay bukan suatu ’mimpi buruk’ dan menjadi gay juga bukan kesalahan siapa-siapa. Gay hanyalah masalah orientasi seksual, sedangkan dalam kehidupan, kita tetap manusia yang bisa berpikir, berkarya, dan berprestasi seperti manusia-manusia lain. Tak heran bila seorang gay atau lesbian sukses di profesi masing-masing. Ada yang menjadi seniman, penyiar televisi, dosen, pengusaha, atau bahkan menteri. (Gde)


Stratosphere Giant wrote:

Saya sungguh tidak setuju kalo ada yang bilang homoseks ego-distonik selalu memiliki taraf kesehatan mental lebih rendah dari homoseks ego-sintonik. Hasil penelitian Sandfort dkk di Belanda (yg notabene amat suportif bagi para gay) menunjukkan bahwa justru sebagian besar gay atau homoseks ego-sintonik menderita 1 atau lebih ganguan mental sebagaimana yg tercantum dalam DSM III (buku daftar gangguan jiwa psikiatri), ini juga diperkuat studi Herrell di Selandia Baru, kesimpulannya sama seperti itu. Selandia Baru adalah negara yang memberikan perlindungan hukum atas hak-hak homoseks. Penyebabnya antara lain: Kebiasaan ganti2 pasangan, ketidaksetiaan, berhubungan lbh dgn 1 org bersamaan, sensitivitas berlebih dan kecemburuan

Selain psikis, fisik gay atau homoseks ego-sintonik juga dalam resiko tinggi. Hub seks dgn kondom pun bisa menimbulkan resiko kanker anus 40 kali daripada yg tidak melakukannya. Belum lagi resiko terpapar tinja baik bagi pemilik penis, anus, maupun mulut.

Sebaliknya, homoseks ego-distonik juga bisa hidup sehat mental. Ini contohnya:
"I've come to accept that there is a homosexual part inside that I may never be able to get rid of. But maybe I can learn to live with it. The other day I was at the swim club with my wife and sons. A man in a very tight bathing suit walked by and I caught myself staring and beginning to have fantasies. But just as quickly, I stopped myself, told myself it was not such a big deal, and dove in the water. And it didn't ruin my day."
http://www.narth. com/docs/ richfield. html



Adi Ki wrote:

Waktu ngumpul-2 sama keluarga besar, salah satu sepupu gua yang terkenal super playboy dengan bangga memperkenalkan pacar barunya. Ketawa sana, ketawa sini.. giliran gua dideketin, dia bilang "Eh, si jelek, dateng juga loe!"

Waktu pulang bareng temen kantor, si kupret bilang gini "Muka elo mirip org pesakitan.." hahaha

Eh, temen gua yang laen bilang... "tenang-tenang. .. jelek-jelek elu masih ada tampang..."

Aih aih... apa gua bener-bener jelek? Cakep itu yang kayak gimana sih?

Lantas gua berdiri di depan kaca?... "apanya yang jelek ya? perasaan biasa aja deh..?... hahahaha, narcis banget deh gua..."

Jelek atau cakep? sebenernya apa sih perbedaan mendasarnya?

Apakah gua emang bener-bener jelek, kalau kenyataannya gua selalu mendapatkan cewek yang jauh "lebih menarik (fisik)" dari sepupu gua yang playboy. Tanpa banyak bicara dan tanpa gua sadari juga sih... saat gua bawa cewek gua, yang ada semua keluarga dan temen-2 kantor pada ribut, gak percaya. Yang gua bawa, ya emang seorang model. Tapi apa itu membuat gua berpikir gua seorang yang cakep??? kagak juga tuh....

Kalo temen-temen bilang gua itu muka jauh dari harapan... kenapa tanpa gua kegenitan udah beberapa cewek kantor dan kolega bisnis diluar pada bilang ingin jadi cewek gua dan pada gua tolakin... Apa ini membuat gua berpikir gua orang yang super cakep?? kagak juga tuh...

Kalo gua jelek, kenapa juga beberapa cewek yang udah punya pacar bisa gua rampas (duh bahasanya vulgar dan jelek amat sih)... tapi apa ini bikin gua berpikir, gua cakep? lagi-lagi kagak juga...

Tapi pada saat gua menyadari kalo gua gak punya co sama sekali, gua jadi bener-2 percaya... "gua emang jelek bener"

Jelek atau cakep... apakah itu sangat penting ya?

johan pamungkas wrote:

bilang ga penting tar pasti dibilang munafik, tapi tho kl menurut saya pribadi sih apa gunanya cakep kl dah mati mendingan yang jelas jelek tapi hidup.. (hehehehe..hayo sapa berani pacaran ma orang cakep tapi mati????), cakep tapi pengganguran spa yang mau??? mendingan yang jelek tapi punya kepribadian (mobil pribadi, vila pribadi, rumah pribadi, deposito pribadi dll), cakep tpi bodoh sapa yang mau....(kl ini kayanya co2 or ce2 pada banyak yang mau..padahal kl menurutku sih co cakep bisa jadi keliatan kl dia pinter..auranya lebih terang, isi kepala ga ada..wah bisa2 kl ditanya apa tar jwabnyanya apa....) ....Sebenarnya ga seberapa penting orang cakep or secara fisik ga terlalu penting (orang yang merasa jelek pasti menganguk2.. .iya..bener. .betul..kan. .?? Hehehehe) Terus..buat apa cakep kl kepribadian minus, iman jelek, kelakuan n cara ngomong ga sopan, ga punya tata krama,tukang bikin onar, pengangguran, isi kepala ga ada. mendingan yang jelek tapi punya etika, berkepribadian baik, iman cakep, pekerja keras alias punya pengahasilan tetap ga cuma ngandelin ortu (ini yang kebanyakan dilakuin ma orang yang merasa,,,skali lagi merasa...digaris bawahi...merasa dirinya cakep) Biar ada yang bilang orang jelek itu mutlak dan orang cakep itu relatif...seberapa relatif ya tetep cakep, gitu mungkin itu maksudnya... .yang parang kl udah muka, kelakuaan, hati, iman sama2 jelek..ini yang berat....ga punya nilai sama sekali...cakep di mata orang belum tentu cakep dimata Tuhan kan??? cakep kata si A belum tentu cakep kata si B (beda cerita kl sama2 rabun ayam. hahahaha) ga penting orang cakep ato jelak yang penting ga ganggu orang lain dan merugikan orang lain..So what...apa masalaahnya. .Ga ada kan??? percaya pada diri sendiri itu yang terpenting.. .!


isit important wrote:

Kadang2 orang bilang lo jelek mungkin itu tanda sayang mereka sama lo, don't you ever think about that?, jelek ato cakep itu cuma a matter of taste, pernah ga suatu hari lo jalan ke mall, trus ngeliat ada cowok ganteng trus pasangannya mukanya pembokat abis, mungkin buat si cowok itu , ceweknya cantik walaupun ga secara fisik, gue ada temen cewek juga yang tampangnya biasa banget (nget..nget) tapi cowok pada ngantri buat dapetin dia, it's because she's talkative, gampang gaul deelel, there's so many things beyond those beautiful faces, beautiful heart and attitude penting juga loh.. but then again, this was just my opinion.. hope it'll help ..

Cheers!




Nice Guy wrote:


Weekend kemaren gw nonton film "Gw kapok jatuh cinta" Lumayan lucu juga critanya.
Dan ada satu adegan yang bikin gw ketawa tapi trus mikir!
Pas adegan pemeran utamanya (lupa namanya n lucu juga orangnya! : ) ) diledekin ma temennya kalo dia ngalamin halusinasi Handphone. Serasa suka denger Hpnya bunyi padahal ga da bunyi apa2! Sampe2 pernah dia lari2 dari kamar mandi ke kamer tidurnya pas lagi mandi krn ngerasa denger Hpnya bunyi padahal ga da bunyi apa2!

Gw jadi mikir kok gw banget yah (Sialan!:P) Kok gw kadang2 juga gituh yah suka ngerasa denger HP gw juga padahal ga ada bunyi apa2. Seneng aja kalo denger hp gw bunyi, kaya gw dulu seneng pas ada tukang pos dateng ke rumah gw nganter surat pas gw lagi nyari2 kerja. Padahal blom tentu suratnya panggilan kerja!

Ini jadi bikin gw “ketergantungan” , dikit2 nge-check hp gw. Kaya ga bisa hidup kalo ga ada hp. Padahal ini ga bener. Dulu pas hp gw ilang, selama lebih dr 2 minggu gw ga pake hp baek2 aja. Di rumah ada telpon, gitu juga di kantor. Semua bisa dipake. Malah kayanya lebih damai n tenang. Ga ada bunyi2an yang “menggangu” dan bikin “ketagihan”. N pastinya juga dapet tambahan duit extra karena ga perlu beli pulsa! : )



pernah ngimpi punya pacar angkatan bersenjata??
huehehehe... ternyata bahkan temen-temen di TNI AU juga ngomongin soal gay
bener ngga sih ada gay / lesbian yang bergabung di sana...

baca deh...


Panzerkampfwagen wrote:

Di suatu pertempuran yg sengit, seorang letnan memerintahkan salah satu anggota snipernya untuk menembak komandan pasukan musuh. Dengan sigap sang prajurit membidikkan senapan Mausernya ke arah musuh mencari sasaran. "I got it!"serunya. "Fire at will!"sahut si letnan. Tapi, tunggu punya tunggu, kok bedil si prajurit tidak bersuara. "Tembak!"perintah letnan. Dan senapan si prajurit tetap membisu. Letnan jadi marah dan berteriak,"Kenapa kamu tidak mau menembak?" Jawab si prajurit dengan tenangnya,"Saya tidak sanggup menembak dia. Orangnya gagah, tampan, dan kelihatan berotot. Duh, pingin juga kenalan dengan dia...."

Have fun


erys wrote:

Ternyata emang Kiamat Sudah Dekat (kayaknya ini judul film dech ).
Wahhh parah banget kalo Gay & Lesbi bisa masuk militer, ntar di kamp adanya cuma pesta seks doang. Dasar udah pada Gilaaa tuch militer Swiss & Belanda. Jangan2 Jendral-Jendral di Belanda & Swiss pada Gay makanya Gay & Lesbi bisa masuk militer .

Bravo Tentara Langit Indonesia


asukangeraktjepat wrote:

Menurut saya bila berkaitan dengan bela negara, hitamputihnya seseorang bukanlah suatu masalah utama.Saya berpendapat hak untuk membela negara haruslah dibuka seluas-luasnya bagi setiap warga negara.Yang terpenting apakah dia memenuhi syarat atau tidak.

PS : Merupakan rahasia umum di US Navy bahwa beberapa pelaut, yang bertugas berbulan-bulan di laut, adalah gay/lesbian.Dan kalau tidak salah ada film yang menceritakan hal ini cuma saya lupa judulnya.


novanjp wrote:

Kalau tidak salah di AS ada kebijakan "dont ask, dont tell". Sepertinya sih kebijakan baru karena dulu sempat ramai. Ini pendekatan kompromistis karena sebenarnya tidak mau terima.

Nyambung bung Agi, tampaknya yang dimaksud oleh mbak ukhtiwanti selaku thread starter adalah homoseksual be it gay or lesbian.

Ini memang dilema, karena kalau benar2 kita mau melihat performance maka tentunya mau straigth mau homo atau bahkan transgender/transeksual harusnya diterima yang terbaik. Dorce bisa laku bukan karena tampang tapi memang dia entertainer yang handal, bukan?

Tetapi ada kesan entah benar entah tidak, kalau ada anggota team yang homo(seksual) bisa mengganggu kinerja tim. Aku punya pengalaman pribadi waktu kerja di satu jaringan department store terkemuka di Indonesia sebagai visual merchandiser. Atasanku orang Filipina, gay dan memperlihatkan ke-gay-annya. Ada dua lagi Filipina gay tapi mereka tidak terlalu terlihat. Yang satu malah gagah sekali.

(Buat bung Agi, ada gay yang bisa dideteksi ada juga yang tampak normal2 saja. Mungkin tergantung perannya apakah sebagai "pria" atau sebagai "wanita").

Mula-mula sih tidak ada masalah tapi lama-lama dia mulai ngincar salah satu staff ku yang celakanya juga rada "melayang" karena lagi bingung. Akhirnya si bos Filipina itu melancarkan pre-emptive strike dengan berusaha nyosor staff ku itu tadi dan kaburlah si anak itu selama tiga hari padahal lagi ada proyek dekorasi toko. Mampus aku. Mana dia anggota tim yang paling canggih lagi. Eh, jadi ngagosip

Berdasarkan pengalaman ini, aku cenderung memilih untuk tidak memiliki anggota yang gay di unit tempur. Kebayang atuh lagi recce di belakang garis lawan, eh ada yang nyosor... No offense. Tapi tentunya sexual harassment bisa dilakukan oleh siapa saja kepada siapa saja di mana saja kapan saja.

Eh, tapi kabarnya kita juga punya jenderal yang gay lho..... Kalo mantan mentri tau kan... So, tampaknya prinsip "dont ask, dont tell" bisa dipakai asal semua pihak bisa menahan diri. Nah ini yang berat. As for me "You dont ganggu, I dont ganggu"


rsetiawan wrote:

sorry, tapi aku gak setuju banget....

soal alexander the great, saat itu memang homosexualisme udah jadi kebiasaan di Macedonia, sehingga homonya alexander justru meningkatkan kekompakan dengan bawahannya... sejauh yang aku tahu sampe-sampe bapaknya Alexander agung, si philips of macedonia homo juga.... juga beberapa jendralnya....

Dinegara kita ? sebaliknya deh, soalnya negara kita kan 99% orangnya normal nan agamis (semua agama resmi di Indonesia gak ada yang setuju dengan homo/lesbi).... jadi situasinya emang gak bisa dibandingin
mnrt saya seh yang homo sebaiknya bergabung dengan pasukan psikiater biar cepet sembuh, bukan gabung ke pasukan TNI...


Superbad wrote:


Sorry to disappoint you... kenyataanya tidak demikian. 99% dapat angka dari mana ? Jangan salah, kaum homosexual di Indonesia cukup banyak. Dan agamis ? ha..ha..ha..(sepertinya saya nggak usah komentar masalah ini) Yang membuat kaum homosexual terlihat sedikit di Indonesia adalah tidak adanya keterbukaan dan keberanian kaum ini untuk terbuka menyatakan eksistensinya (mana ada festival mardi gras di Indonesia ?) Karena setiap kali mereka mencoba terbuka, selalu ada resistensi terutama dari kelompok militan yang sering kali dengan cara kekerasan. Contoh kecil, saya setiap kali ke warnet bukan sekali dua kali nemu file film bokep homo yang didownload oleh seseorang. (Serta merta saya langsung cari "obat penawarnya"...ha..ha..


jingga wrote:

GAYs?? Dih... amit-amit!!
what the f**k is in their minds??

tapi... supaya fair... menurut saya... bole-bole aja sih gay di militer (TNI)...
selama mereka bisa maintain standard TNI di lapangan...
dan... jumlahnya tidak boleh lebih dari 0.005% dari jumlah personil...
kalau kebanyakan... martabat TNI bisa hancur lebur!!
karena... (bukannya menghina nih...) persepsi masyarakat luas...
Gay = pengecut (walaupun ini tidak semstinya benar)

tapi kalau banci di TNI... NO NO NO NO


miss_major wrote:

kalo menurut saya sih...
buat masalah bela negara setuju bgt ama bung long rifle
semua warga negara memiliki hak yang sama!!!
tapi yang masih jadi dilema...what about the gay's desire?
yang perlu dipertimbangkan lagi adalah..mampukah mereka lebih mendahulukan kecintaannya pada negara diatas self desire-nya (yang pada umumnya kaum gay memiliki desire yang "berbeda" dgn orang normal).
Kalo memang bisa...ya...let it be!!!

>>> win the war or lost forever



waktu gw lagi browsing-browsing artikel, ga dapet dua forum yang cukup menarik. dan ngomongin soal gay tentunya.

Liat aja temen-temen straight indo yang tinggal di aussie (www.indoz.com) komentar soal homo / lesbo..
beberapa gw kutip buat kalian...


bugzbunny wrote:

kalau menurut gue sich di western country yang open minded, mereka lebih cenderung balik ke basic, jaman sebelum manusia ngenal namanya Tuhan. yach liat aja monyet2 lah, sama aja.
kitanya doank yang dari indo (terutama) yang udah dapat doktrin mulai kecil, kalau nggak beragama itu jelek, dosa, dll. sehingga kalau liat ada yang aneh dikit, di anggap nggak beres.
gue inget banget ada temen sma gue tuch bilang kalau ada orang gay masuk ke tokonya dia, ortunya ngusir tuch orang, sebab katanya bawa sial. nah lho. dan ada nggak di sini yang pernah denger kalau orang cacat itu bawa sial? nah gitu2 lah gara2 orang di indo kebiasaan liat orang perfect, tapi nggak mau bergaul ama yang berkekurangan.

orang gay kalau menurut gue benernya perlu di bantu dalam hal pergaulan. mereka selalu mengelompok ke kelompok mereka, sebab lingkungan nggak menerima mereka. andai kamu aja jadi dia, dan setiap kamu deketin orang dan orang itu menjauh gimana? tentunya kamu akan mencari temen2 yang sejenis dengan kamu.

dan gue ngalamin dulu, sewaktu ngantor di mana majority bule di ktr, karena gue satu2nya asia, tapi gara2 waktu itu nggak ada asia yanglain gue jadi nggak bisa ikut kelompok asia. lama2 gue coba asimilasi ke bule, hasilnya, mereka welcome ke gue, dan improve skills gue dalam menjawab interview2 pekerjaan gue selanjutnya.


rainbowgirl wrote:

Menurut gue oke oke aja tuh dan btw gue ini straight lho ya... Gue bilang sih gak ada masalah asal gak merugikan. Cuma kalo loe religious, memang sih agama gak ajarin untuk jadi pacaran sama sesama jenis, malah terlarang banget!

Ternyata banyak sekali orang gay dan lesbi yang sukses. Ngga cuma jadi fashion designer atau chef saja, cuma banyak dokter atau lawyer yang making millions $$$ itu sebenarnya gay. Mereka mungkin ga bertingkah kemayu, tapi itu private life mereka.

Jadi gay or lesbo bisa jadi 2 faktor: dari lahir dan dari lingkungan.

Yang dari lahir tuh contohnya dia ngerasa seperti perempuan walaupun dia laki-laki.

Yang dari lingkungan, contohnya ya kayak yg bugsbunny bilang, atau seringkali ada cewe/cowo yang sering disakitin sama lawan jenis terus2 an, lama2 jadi benci lawan jenis dan jadi suka sama sesama jenis. Atau mungkin juga banyak army yg gay karena tiap hari liat laki2, atau remaja cewe yg lesbo karena ke sekolah anak cewek semua .


t3d wrote:

nah tuh... i cant deny that... tetap aja rasanya gimana tuh kalau aku lihat gay kissing... THINK
tapi yah yang pasti kita berusaha sebisa kita deh untuk perlakukan mereka dengan beda.


fx wrote:

apa menurut kalian sexualitas(homo/lesbo) juga suatu budaya/kultur? yang mana makin banyak orang yg mencari tahu budaya atau pingin tahu budaya lain(homo/lesbo kultur),khusus nya di kota kota besar dunia, is it a trend?

Adapun yg di katakan Rainbowgirl : banyak homo/lesbo yg sukses, menuruku sih itu alternative ,setiap orang punya potensi sukses whatever it is!



Sumber: Kompas


Taburan kelopak mawar merah di anak-anak tangga mengiringi para tamu naik ke ruang atas sebuah hotel bintang tiga di Jakarta.

Pasangan yang Jumat (6/1) itu merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke-12 menyambut dengan senyum cerah di puncak tangga. ”Terima kasih... ’thank you’...,” kata keduanya dalam bahasa masing-masing.

Acara dimulai sekitar pukul 20.00. Sekitar tujuh puluh tamu duduk di meja-meja bundar di ruangan siap mendengarkan kesan dan pesan dari pasangan yang berbahagia itu. ”Terima kasih telah datang dalam anniversary kami yang ke-12... tidak mudah waktu itu kami lalui....” Sejenak ia berhenti, tergugu dan menahan tangis. Semua diam....

Sebuah usapan di punggung dari sang kekasih dan pelukan ibu mertua yang berkebangsaan Belanda menyelesaikan sedu sedan itu. Pidato diteruskan. Tepuk tangan meriah menyambut lagu Ik houd van jou—Aku Cinta Padamu. Teman-teman dan kerabat berebut memberi salam. Tidak ada yang berbeda dari resepsi serupa, kecuali satu hal: mereka pasangan gay alias homoseksual.

Keterbukaan atas preferensi seksual ini, seperti gay, lesbian, dan biseksual, sekitar lima tahun belakangan ini memang semakin lebar. Bahkan, ketika membuat tulisan ini, beberapa gay dan lesbian meminta identitas mereka ditulis dengan jelas. Cerita pribadi mereka mengalir lancar. Jauh berbeda dibanding katakanlah sepuluh tahun yang lalu ketika tidak ada orang yang bersedia diwawancara tentang preferensi seksual.

”Keterbukaan dalam lima tahun terakhir ini sangat dipengaruhi internet, media massa, dan multikulturalisme di Indonesia,” kata Dede Oetomo, yang pada tahun 1982 mendirikan organisasi gay pertama, Lambda Indonesia, dilanjutkan dengan Gaya Nusantara pada tahun 1987. Liputan media membawa wacana tentang homoseksualitas masuk ke ruang publik. ”Dibicarakan aja, walaupun lebih banyak yang shock dan maki-maki sudah memberi ruang,” kata Dede, yang di tahun 1980-an menggunakan PO BOX dalam membangun komunitas gay.

Internet kini menjadi modus utama komunikasi dalam komunitas ini. Di ruang cakap (chatting room) program mIRC, misalnya, ada yang disebut saluran #gim di mana orang gay bisa berkenalan dan bercakap-cakap langsung secara pribadi. Kata-kata pembukaan seperti asl dan stats, langsung menanyakan age, status, dan location serta data fisik seperti tinggi badan dan data-data lainnya. Ada juga ruang cakap di www.gay.com yang menyediakan khusus ruang cakap untuk tiap negara termasuk Indonesia.

Selain situs web yang di antaranya berisi personal ads alias iklan diri yang berisi data, hobi, minat, dan foto di situs seperti www.gaydar.com.au, diskusi juga berkembang lewat berbagai mailing list dengan berbagai karakternya masing-masing. Sebut saja semua_lelaki, undercover_id, dan cybercloset-Indonesia tidak saja menjadi ajang perkenalan, tetapi juga menjadi ajang curahan hati.

Belasan jawaban muncul dalam beberapa hari saat seorang anggota di cybercloset-Indonesia bertanya, apa yang penting dalam sebuah hubungan? Belasan jawaban muncul, seperti Dear JS, when u deeply in relationship u found everything is important... dan Dear James, having a relationship is a commitment to a serious bonding between.... Begitu juga ketika judul sebuah surat elektronik memacu sebuah diskusi: Cinta (gay) anugerah Tuhan?

Seiring dengan gaya hidup kota besar, tempat-tempat pertemuan mereka juga didominasi dengan ruang-ruang publik seperti coffee shop di mal, kolam renang ataupun tempat kebugaran. Sebuah media cetak bahkan menyediakan iklan baris untuk kencan sejenis. ”Co, 26th, gemuk, kerja, tdk kemayu, tggl di Jaksel, cari co 25-40th, kerja, tdk kemayu” (dilanjutkan dengan nomor telepon genggam).

Kalau dulu ada ciri-ciri tertentu yang dipakai, seperti cincin di jari kelingking, anting di telinga kanan, atau sapu tangan di saku belakang, kini komunikasi hanya lewat tatapan mata saja. ”Ada yang kita istilahkan ’gay dar’ alias gay radar,” kata John Badalu Badalu.

John yang juga memprakarsai Q Film Festival—Q dari kata Queer, sebuah istilah untuk kalangan gay, lesbian, biseksual, dan transeksual—mengaku sempat juga mendapat ancaman. Dengan promosi masih pada kalangan terbatas, pemutaran film ditujukan untuk orang umum di pusat-pusat kebudayaan di berbagai kota. Tema-tema seperti konflik dalam diri seorang gay atau lesbian dan keinginan untuk mempunyai anak ditampilkan. ”Tujuannya sebagai ajang membuka diri, sekaligus membuat orang- orang tahu apa dan bagaimana sebenarnya orang-orang homoseksual,” kata John.

Beberapa klub malam yang walau tidak dengan nyata menyatakan dirinya sebagai gay club, tetapi secara rutin menggelar gay nite. Diskotek M misalnya, dikenal sebagai diskotek untuk para homoseksual. Suasana terasa sangat cair begitu berada di dalam diskotek yang mengutip Rp 15.000 untuk masuk ini. Pengunjung berpadu dalam musik disko dangdut dan progresif, Rabu (18/1). Saat acara puncak digelar, yaitu lipsync yang dibuka seorang waria dengan lagu Zaenal dari Rita Sugiarto, diiringi penari latar yang semuanya pria, penonton pun bersorak. ”Gile, yang sebelah kanan ganteng banget, bo !” teriak seorang pemuda dengan rambut di-spike dan kaos ketat.

Kalau selama ini stereotipe gay ditempelkan pada mereka yang kemayu, maka pemandangan malam itu di diskotek M membuyarkan semuanya. Pria-pria bergaya kantoran, mahasiswa, dan pria bertato marak di sini. Sama seperti klub H yang banyak didatangi kalangan atas dengan suasananya yang ultramodern. Pria-pria berbusana kasual saling memberi sun di pipi kiri dan kanan saat bertemu. Tino Mandagi, manajer, menyebut klubnya sebagai klub alternatif. Namun, ia membenarkan kalau 90 persen pengunjung adalah kalangan gay dan lesbian sesuai dengan judul acara yang ditawarkan seperti ”A Campus Nite for Gay” dan ”Pour Homme Saturday”.

Siap adu jotos

  • Keterbukaan di tingkat publik ini selalu didahului selesainya konflik dalam diri seorang homoseksual atau biseksual. Selanjutnya, bagaimana ia menghadapi lingkup terdekat, yaitu keluarga. Dan, itu tidak mudah.

Agustin (35), yang juga aktivis lesbian, biseksual, dan transjender di Koalisi Perempuan Indonesia, bercerita bagaimana lesbian mendapat tekanan, baik sebagai perempuan maupun gara-gara preferensi seksualnya. Sebuah penelitian terhadap 20 lesbian menghasilkan kalau 90 persen dari mereka mengalami kekerasan fisik dan seksual dari keluarga dekat. Ini dilakukan untuk mengubah orientasi seks lesbian dari perempuan ke laki-laki. ”Ada yang dipaksa berhubungan seks dengan kakak dan sepupu atas suruhan ayah,” cerita Agustin yang sempat bentrok dengan ayahnya.

Agustin bercerita, kalau ada perbedaan konsep lesbian generasi tua yang berusia di atas 40 tahun dan generasi muda yang berusia 15-25 tahun. ”Panggilannya Buci dan Femme, tidak Kantil dan Sentul lagi, relasinya juga lebih setara,” katanya.

Inge (34) sempat merasa lelah dengan hidupnya. Dua kali hubungannya kandas gara-gara tentangan orangtua kekasihnya. Pertama kali jatuh cinta di bangku SMA, Inge sempat memukuli diri sendiri karena merasa tidak mampu bersaing dengan laki-laki. Sempat mencoba pacaran dengan laki-laki, bagi Inge semua terasa hambar. Sementara keluarganya kini sudah bisa pasrah, Inge dan kekasihnya yang tidak punya orangtua lagi itu kini telah menikah dan tinggal di luar negeri.

Bagi para gay atau lesbian, preferensi seksual mereka tidaklah berhubungan dengan kinerja mereka di dunia kerja. ”Kami ini manusia biasa, juga punya hobi, selera dan profesi, yang beda cuma preferensi seksual kami saja,” kata Ade (35), yang bekerja di biro publikasi.

Jatuh cinta pada Bonnie dalam sebuah pertemuan para lesbi di Jakarta, mereka kini hidup bersama di sebuah rumah kontrakan. Sehari-hari, mereka saling memanggil dengan sebutan sayang babe atau baby. Penerimaan keluarga dan masyarakat cukup baik. Ketika mereka tampil dalam sebuah acara talkshow di televisi, para tetangga yang menonton memberi respons datar-datar saja.

”Waktu aku putus pacaran, ibu malah bilang, ya sudah masih ada perempuan yang lebih baik dari dia,” kata Bonnie yang sejak berusia 18 tahun telah ditanya oleh ayahnya apakah ia lesbian. Bagi Bonnie, keterbukaan membawa kepada kelegaan karena jadi tidak ada yang aneh-aneh, seperti gosip di kantor. ”Aku bilang aja aku lesbi, gosip itu hilang. I’m lesbian, so what ?” kata Bonnie.

Mamoto (42) dan Hendy (33) sempat mengalami masalah besar saat keluarga Mamoto pertama kali datang ke rumah pasangan ini untuk pertama kali. ”Saya kabur, membawa koper dan menangis di Bundaran HI. Sejak peristiwa itu, berangsur keluarga lebih dapat menerima,” jelas Mamoto.

Pasangan yang mengukir tanda pertemuan mereka 7/11/99 di depan rumah kini memandang diri mereka sebagaimana keluarga. Mereka suka bergantian, siapa yang menjadi suami atau menjadi istri hari ini. Kuncinya, kesetiaan pada komitmen. Lucunya, kalau bertengkar mereka siap adu jotos dan saling berteriak. ”Namanya juga laki-laki, pernah semua tetangga kumpul di sini melihat kami berantem ha-ha-ha-ha,” kata Hendy.

Tidak seks belaka

  • Sebagaimana kisah hidup kalangan heteroseksual, ada beraneka ragam kisah hidup homoseksualitas.

Kristiawan (34) mengaku menjadi homoseks gara-gara terbiasa berkencan dengan pria saat ia duduk di bangku kuliah. Kebiasaan yang dilatarbelakangi kebutuhan finansial itu membuatnya beralih menjadi homoseksual. ”Awalnya aku coba- coba, tertarik sama cowok karena ingin memiliki tubuh seperti itu juga, tetapi lama-lama rasa itu menjadi lain,” katanya.

Ia kini hidup di antara komunitas gay karena merasa lebih bisa mengekspresikan diri. Hidup di dalam komunitas membuatnya mudah mencari kenalan baru, baik untuk hubungan serius maupun untuk sekadar untuk selintas kemesraan. Baginya, berganti- ganti pasangan adalah hal yang wajar.

Inilah dunia homoseksualitas. Sebuah dunia nyata yang tidak lagi bisa kita nihilkan dari kenyataan karena mereka hadir dan nyata bahkan pada jarak beberapa meter saja dari tempat kita berdiri. Dunia ini begitu kompleks, sebagaimana yang dikatakan Samuel Wattimena. ”Dunia homoseksualitas itu seperti dunia hetero saja, tidak semua hedonis. Banyak pekerja kreatif yang mengisi hidupnya dengan bekerja. Juga ada kesetiaan dan cinta di sana, tidak sekadar hura-hura dan seks belaka,” kata Samuel.(XAR/DHF/IND/ARN/NMP/Edna C Pattisina)



Oleh: Prof.DR.Dr. Wimpie Pangkahila, Sp. And, Dokter Ahli Andrologi dan Seksologi

Kasus:

"Saya mahasiswa 22 tahun, ingin menanyakan beberapa hal tentang aktivitas seksual yang sehat. Teman sekos saya sering kali melakukan masturbasi, hampir setiap hari. Saya benar-benar tidak mengerti apakah tindakannya itu sehat atau tidak. Menurut dia, malahan menambah semangat dan menghilangkan stres dan tidak memiliki efek samping. Apakah benar demikian? Apakah melakukan masturbasi setiap hari dapat mengganggu alat kelamin di kemudian hari, dan menyebabkan ejakulasi dini seperti rumor yang ada di masyarakat?

Jika di kemudian hari menikah, apakah tidak berpengaruh terhadap kehidupan seksual? Apakah mungkin ada frekuensinya dalam sehari, misalnya 2 kali sehari atau seminggu sekali atau sebulan sekali? Menurut teman saya yang lainnya, masturbasi dapat menyebabkan sakit tulang belakang, sakit pada tempurung kaki, dan di daerah sekitar tempurung kaki terlihat seperti peot atau kulit tempurung masuk ke dalam tulang, seperti orang kurang gizi padahal keadaannya sehat. Benarkah? Apakah masturbasi dapat mengurangi kemampuan otak dalam berpikir dan terkesan lebih lambat?"

(E., Jakarta)

Jawaban:

Aktivitas Wajar

Mitos tentang masturbasi memang masih banyak beredar luas di masyarakat, sama seperti mitos tentang seks yang lainnya. Beberapa mitos dapat menimbulkan akibat buruk bagi sebagian orang karena memengaruhi perilakunya. Tidak sedikit korban yang mengalami akibat serius hanya karena informasi yang salah berdasarkan mitos tentang seks.

Masturbasi merupakan aktivitas seksual yang umum dilakukan, bahkan sudah dilakukan pada masa anak-anak. Dalam perkembangan psikoseksual anak, salah satu fasenya adalah fase genital.

Pada fase ini anak mulai menyadari bahwa kelaminnya merupakan bagian yang menyenangkan. Karena itu, anak, baik laki-laki maupun perempuan, senang memegang kelaminnya. Bahkan, sebagian anak dapat mencapai orgasme pada saat itu.

Perhatian terhadap kelamin semakin besar ketika manusia memasuki masa remaja. Karena itu, pada masa ini masturbasi kemudian merupakan aktivitas seksual yang umum dilakukan.

Sebagian orang yang telah menikah pun masih melakükan melakukan masturbasi karena alasan dan untuk tujuan tertentu. Lebih jauh, masturbasi bagi sebagian orang justru diperlukan sebagal bagian dari cara mengatasi gangguan fungsi seksual.

Sebagai contoh, wanita yang mengalami hambatan orgasme oleh penyebab tertentu, memerlukan latihan masturbasi sebagai bagian cara mengatasinya. Namun, bagi pria, masturbasi yang dilakukan tergesa-gesa agar cepat mencapai orgasme dan ejakulasi, dikhawatirkan dapat menjadi kebiasaan, sehingga mengakibatkan ejakulasi dini. Kekhawatiran ini tampaknya cukup beralasan.

Informasi Abad ke-18

Tidak ada akibat buruk apa pun karena melakukan masturbasi, termasuk informasi yang Anda dengar dari teman itu. Pada abad ke- 18 memang pernah beredar buku yang menyatakan bahwa masturbasi dapat menimbulkan berbagai akibat buruk secara fisik, tetapi kemudian terbukti anggapan itu tidak benar karena hanya berdasarkan mitos belaka.

Sayangnya, sampai sekarang masih ada orang yang memberikan informasi berdasarkan mitos, seperti yang Anda dengar itu. Bahkan, tidak sedikit orang yang dianggap mengerti, acapkali terpengaruh oleh mitos tentang seks. ***



Doni wrote:

Hello guys (and gals, maybe?). Gw mo sedikit cerita 'bout my life.

Sebelumnya gw ucapin met Idul Adha (buat yg ngerayain) n a very happy new year (agak telat ya? ^-^).

Gw tinggal di kota Malang, umur 27, single (n looking), n yg jadi inti crita ini adalah gw menganggap sexual preference gw as bi. Why is this become such a big deal buat gw (dan mungkin bg beberapa orang yg lain)? Well, here goes the story.

Sudah lama gw merasa diri gw berbeda dg orang2 di sekitar gw, mungkin sekitar masa2 SD dulu. Gw pernah bermain "role playing" dg tetangga gw yang usianya 2 thn lebih tua. Dia berperan sebagai seorang "wanita", sementara gw jd "pemerkosa", dan selalu berakhir dg gw isep barangnya n dia mainin barang gw. But that only last no more than one year. Sekarang dia dah nikah and punya dua anak yang lucu2.

Beranjak SMP mulai perkenalang dengan bokep. Gw selalu excited setiap membaca produk2 bokep yang gw pinjem dr temen2 gw (mulai dari stensilan, Enny Arrow, Nick Carter sampe majalah2 impor semacam Playboy, Penthouse, dll), tp terangsangnya beda dengan temen2 gw.

Mereka selalu berkomentar 'nice boobs', 'lovely cunts' and so on, tp buat gw the boobies n cuntz were just so so, coz I found the penises more exciting. Tentunya hal itu cuman gw simpan dalam hati saja (sperti lagunya Warna ^0^).

Semakin gw dewasa, semakin gw memahami perasaan gw. Dan seiring dengan pemahaman itu, sense of denying gw jg semakin kuat. Gw ga mau ditolak oleh lingkungan gw, so gw berusaha menekan perasaan itu, atau menyetirnya ke arah yang lebih "lurus". U know what I mean.

Singkat cerita, gw merasa saat ini gw udah lebih mendekati yang namanya "lurus". I feel the "straightness" now, compared to my "gayness" in my younger days. Until now, I never had any encounter other than mentioned above.

Oops, sorry, the last statement is not entirely right, and of course not entirely wrong either. Actually, I've had 4 encounters, all straight encounters, and I paid for each of them. I enjoyed them, mostly. The last hooker was completely out of my type, my friends picked her for me. NUTTS!!

On the other hand, gw msh tetep ngelanjutin kesukaan gw sejak SMA, masa2 di mana globalisasi merasuki kehidupan gw, n dunia maya (baca: internet) sdh dpt diakses dengan mudah. Koleksi stories, gambar2 dan movies bokep gay bejibun, semua dpt dari the net. Setiap JO koleksi tak pernah absen menemani.
.....

I'm waiting for the wind of change, hopefully to the better me....

JOMBLOlogy



Size Size wrote:


JOMBLOlogy adalah ilmu yang membahas tentang JOMBLO. Dalam bahasa latin jomblus artinya satu, sendiri atau single. JOMBLOlogy mempelajari sifat, kebiasaan, karakteristik, kelebihan, dan kekurangan berbagai tipe jomblo. Dimulai dari penampilan mereka dari luar sampai potensi mereka yang di dalam.Jomblo dibagi menjadi 4 tipe dasar. Dimana kita akan membahas satu per satu ke-4 tipe tersebut, dan mungkin kita dapat melihat adanya kesamaan atau kemiripan di diri kita masing-masing.

JOMBLUS UNDERDOGUS.

Yang pertama adalah jomblus underdogus, yang bisa kita sebut sebagai JOMBLO tipe-A. Jomblo ini cenderung mempunyai nasib buruk dalam segala hal yang berhubungan dengan perempuan. Ketika ada kesan bahwa nasibnya membaik jangan buru-buru bahagia sebab nasib baik tersebut akan berputar arah kembali menjadi buruk. Apa yang dimiliki jomblo ini sangat minim, baik kelebihan maupun kekurangan. Tidak ada yang terlalu menonjol dari jomblo ini, yang menyebabkan jarang bagi lawan jenis untuk melirik/melihat. Kunci jomblo ini dalam mencari pasangan adalah PeDe, karena hanya dengan percaya diri yang kuat disitu terletak perjalanan cinta yang nikmat.

Karakteristik dari jomblo ini adalah :

  • Penampilan pas pas-an
  • Aura negatif
  • Pribadi menarik
  • Harga diri rendah

JOMBLUS PLAYBOYNUS

Berikutnya adalah jomblus playboynus, atau kita sebut JOMBLO tipe-B. Jomblo tipe ini banyak ditemukan di sekitar kita. Jomblo yang terlihat nasibnya jauh lebih baik dari kita dalam hal mencari pasangan. Berbeda dengan tipe sebelumnya, jomblo ini mempunyai banyak kelebihan terutama bagian external. Seringkali kita bisa melihat jomblo tipe ini harus menyaring lawan jenis yang berdatangan kearahnya. Kelebihan jomblo ini dimulai dari penampilan fisik, kemampuan berbicara, kelihaian dalam pendekatan wanita dan lain-lain. Jomblo ini memilih untuk tidak mencari satu pasangan melainkan beragam pasangan. Meskipun terlihat serba hoky dari jomblo ini tetap mempunyai lemahan. Ketidakmampuan jomblo ini dalam membina hubungan one on one mungkin disebabkan karena kurangnya pengalaman berhubungan serius.

Karakteristik jomblo ini adalah :
  • Penampilan menarik
  • Aura magnetik
  • Jago speak-speak
  • Takut terikat

JOMBLUS MISTERIUS

Kepribadian yang tersembunyi adalah sifat jomblus misterrius yang paling menonjol. JOMBLO tipe-C ini sangat introvert. Dari 100% yang ada didalam pikirannya, hanya 10%-20% yang terekspresikan keluar. Jomblo ini kurang percaya diri hingga menyebabkan banyak sekali keinginan dan tekad yang tidak terlaksanakan. Sebenarnya potensi jomblo ini besar dan penampilan secara fisikpun tidak mengecewakan, namun jomblo ini tidak dapat menggunakan kelebihan-kelebihan nya sebagai alat komunikasi yang handal terhadap lawan jenis. Jomblo seperti ini cenderung menjadi pasangan yang setia karena perjuangan dan jerih payahnya untuk mendapatkan pasangan yang dia inginkan sangat berarti, sehingga beruntunglah untuk lawan jenis yang bisa melihat potensi jomblo yang satu ini.

Karakteristik jomblo ini adalah :
  • Potensi tinggi
  • Alat komunikasi lemah
  • Pemburu jarak jauh
  • Plin plan

JOMBLUS DITOLAKTERUS

Sulit sebenarnya untuk menjelaskan secara detail tipe jomblus ditolaktrus ini. JOMBLO tipe-D ini adalah tipe jomblo yang paling unik - namun bukan dalam arti positif. Perilaku dan motivesi jomblo ini sulit untuk diperhitungkan. Banyak sekali tindakan-tindakan yang tidak masuk akal yang dilakukan jomblo ini dalam mencari lawan jenis. Apa yang terlihat diluar kemungkinan itu juga yang akan terlihat dari dalam. Mungkin ini satu-satunya dimana kita bisa judge the book by its cover. Penampilannya yang kurang memadai menjadi suatu kelemahan yang mutlak dalam mencari pasangan. Namun jomblo ini tidak semuanya negatif, secara kepribadian dan sifat dasarnya jomblo ini adalah manusia yang jujur, setia dan baik hati.

Karakteristik jomblo ini adalah :
  • Penampilan tidak memadai
  • Invisible bagi lawan jenis
  • Perilaku tidak jelas
  • Lain dari yang lain

Sekian pelajaran tentang JOMBLOlogy, semoga ilmu ini dapat bermanfaat bagi para jomblo yang sedang mencari identitas dirinya dan berguna dalam menentukan cara dalam mendapatkan pasangan.

Blog Widget by LinkWithin
10% Off All Fragrances
Get 10% off every item you purchase at FragranceX.com!