be curious with...

 

Showing posts with label gay support. Show all posts
Showing posts with label gay support. Show all posts


YouTube just launched a viral campaign on here, propagated via Google+ to affirm their support for Gay Marriage. Google is #ProudToLove the LGBT community!

In their own words, "At YouTube, we believe that everyone has the right to love and be loved. We strive to make YouTube a place where all communities can feel proud to express themselves and connect through video. That's why we're proud to stand with the LGBT community and support equal rights and marriage equality for all."

Share this message with your friends.


see video below...




Humm... barusan kita dapet kunjungan dari temen yang punya blog sangat menarik yang bisa dijadiin alternatif bagi temen-temen pengunjung queercurious. kalo di sini ditujukan buat para queer dan yang curious about gay stuff, justru blog baru yang beralamat di http://kembalikejalanlurus.blogspot.com/ ini malah ditujuin buat temen-temen yang curious about how to back to straight.

balik ke awal mulanya dibikin queercurious adalah buat ngasih alternatif jawaban temen-temen yang bingung tentang kehidupan people like us. di sini bukan sebuah pelarian, atau eksploitasi seks semata yang cnderung marak di dalam kehidupan maya people like us. kita berusaha ngasih solusi buat nunjukin bahwa being queers is not just about sex.

nah, kalo temen-temen yang penasaran punya pikiran back to straight, disaranin maen ke http://kembalikejalanlurus.blogspot.com/:

sebuah web blog yang diperuntukan untuk sharing mengenai berbagai hal tentang Same-Sex attraction (SSA). Blog ini bertujuan mengubah mindset teman-teman semua mengenai SSA. Bagaimana menyikapi, bagaimana agar tetap berada di jalan lurus dan tetap mempertahankan kebenaran. Dengan sebuah fundamental bahwa Same-Sex Attraction adalah satu dari sekian cobaan yand diberikan oleh Tuhan. Dan menekankan bahwa menjadi seorang gay/lesbian/biseksual bukan satu-satunya pilihan dalam hidup anda. Tapi yang jelas, masih ada cara untuk memahami diri anda sendiri dan anda bisa berubah, atau setidaknya anda bisa mengendalikan diri anda untuk tidak mengikuti kecenderungan tersebut.
selain blog tadi juga ada blog satunya yang beralamat di ttp://www.hijrah.web.id/:

Cikal bakal Komunitas Hijrah dimulai oleh seorang lelaki muslim yang mempunyai SSA dengan nick name Semperfy atau Paraclytos. Dirinya prihatin dengan adanya site, forum dan mailing list group khusus dunia homoseksual di Internet yang cenderung tidak adil dalam memberikan informasi mengenai dunia tersebut serta menjadi ajang ‘kencan’ terselubung. Padahal tidak sedikit muslimin yang mempunyai SSA namun ingin tetap berjalan teguh di jalan Allah SWT sesuai dengan tuntunan Rasulullah Muhammad SAW.

nah.. sekarang is up to you... you decide!

Support World AIDS Day

Berikut adalah blog instansi dan personal yang juga concern terhadap HIV/AIDS terutama di Indonesia..




Akses Universal dan Hak Asasi Manusia merupakan isu utama yang diangkat pada HAS tahun 2009. Akses universal tersebut mencakup berbagai aspek, baik akses informasi, pencegahan, maupun akses pengobatan. Pemaknaanya  adalah bahwa semua warga dari berbagai latar belakang ekonomi, budaya, tempat tinggal harus mendapatkan akses informasi HIV dan AIDS yang sama, akses pencegahan yang sama, serta akses pengobatan yang sama.
Penyelenggaraan berbagai kegiatan dalam peringatan Hari AIDS Sedunia Tahun 2009 ini, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pencegahan penularan HIV dan penanggulangan  AIDS yang dapat terjadi pada seluruh lapisan masyarakat. Disamping itu khusus untuk mereka yang membutuhkan, mampu memperoleh akses universal terhadap informasi, pencegahan, dukungan dan pengobatan terkait HIV dan AIDS.  Walau bagaimanapun juga, kesehatan adalah hak asasi manusia yang pertama.

Tujuan Umum
Meningkatkan pemahaman dan kepedulian masyarakat terhadap permasalahan HIV dan AIDS, sehingga mampu melindungi dirinya dari infeksi HIV serta memberikan dukungan kepada orang yang terifeksi HIV.
Tujuan Khusus
  1. Meningkatkan akses universal seluruh unsur masyarakat khususnya mereka yang memerlukan sehingga mampu memperoleh akses terhadap informasi, pencegahan, dukungan dan pengobatan.
  2. Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat dan pemerintah bahwa kesehatan adalah hak asasi manusia yang pertama.
  3. Meningkatkan komitmen dan kepedulian pemerintah dan pemerintah daerah terhadap upaya pelaksanaan program dan kegiatan penanggulangan HIV dan AIDS dalam konteks menekan laju epidemi HIV.
  4. Meningkatkan kepedulian berbagai sektor pemerintah, swasta, dunia usaha, lembaga pendidikan, LSM, dan masyarakat dalam penanggulangan HIV dan AIDS.
Tema
Tema peringatan Hari AIDS Sedunia Tahun 2009 telah ditetapkan secara internasional yaitu:
”Akses Universal dan Hak Asasi Manusia (Universal acces & Human Right)”
Makna dari tema peringatan adalah bahwa setiap masyarakat khususnya mereka yang memerlukan, mampu memperoleh akses terhadap informasi, pencegahan, dukungan dan pengobatan. Kesehatan pada dasarnya merupakan Hak Asasi Manusia yang Utama (health is the first human right), dengan demikian setiap orang termasuk orang yang terinfeksi layak hidup sehat dan memperoleh fasilitas kesehatan. Dengan meningkatnya akses pelayanan dan pengobatan yang baik diharapkan akan dapat menurunkan resiko penularan dan mengurangi laju epidemi AIDS di Indonesia.
Sub-Tema
Berdasarkan tema internasional HAS 2009, maka sub-tema yang ditetapkan di Indonesia adalah:
“Kerjasama masyarakat dan pemerintah mampu mempercepat  pemenuhan akses pencegahan, perawatan, dukungan dan pengobatan untuk semua”
Dalam rangka meningkatkan akses universal maka diperlukan kerjasama yang sinergis antara masyarakat dan pemerintah. Kerjasama tersebut diharapkan mampu mengarus-utamakan upaya penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia. Dengan demikian kerjasama tersebut diharapkan dapat mempercepat  pencapaian akses informasi, pencegahan, dukungan, dan pengobatan untuk mereka yang membutuhkan.
Slogan
Slogan Peringatan Hari AIDS Sedunia Tahun 2009 yaitu:
“Stop AIDS: Akses untuk Semua !”
Slogan kampanye ini dimaksudkan agar setiap manusia Indonesia mempunyai rasa kepedulian yang tinggi dalam penanggulangan HIV dan AIDS. Kasus HIV dan AIDS di Indonesia saat ini tidak hanya pada kelompok berisiko saja, akan tetapi sudah berada pada populasi umum, seperti ibu rumah tangga dan anak-anak. Kini saatnya pemerintah dan masyarakat madani bersatu, membuat suatu karya nyata untuk mencegah laju epidemi HIV yang sangat cepat. Selain itu, perlu dilakukan upaya bersama untuk menyediakan akses informasi HIV dan AIDS, pencegahan, dukungan dan pengobatan bagi seluruh masyarakat yang membutuhkan.

Latar Belakang
Tanggal 17 Mei merupakan Hari internasional Menentang Homophobia. Tanggal ini disesuaikan dengan tanggal dimana WHO secara sah menyatakan homoseksual bukanlah suatu penyakit kejiwaan pada tahun 1990 silam.
Homoseksual tidak dapat dikatakan sebagai pilihan. karena jikalau memang sebuah opsi, tentunya orang tidak akan memilih hidup sebagai homoseksual dan menjalani kehidupan yang sedemikian sulit untuk mencari cinta.
Informasi lebih lanjut mengenai International Day Against Homophobia dapat dilihat di www.homophobiaday.org
Misi
Kali ini, saya bukannya ingin membentuk aksi melawan para homophobia, baik yang menjadi homophobia karena ketakutannya sendiri, atas dasar pendidikan formal, atas dasar pendidikan tradisional, ataupun pendidikan agama.
Tujuan
Saya hanya ingin mencari dukungan dari teman-teman untuk memberikan gambaran lebih baik tentang homoseksual di lingkungan masyarakat sehari-hari. Dengan harapan semoga, dapat menjadi pengertian bagi masyarakat yang selama ini mengalami homophobia. Bahwa sebenarnya homoseksual hanyalah masalah orientasi seksual, bukan sebuah kepercayaan, bukan sebuah prinsip atau bahkan pandangan hidup yang penting untuk dibantahkan. 
Seseorang menjadi baik dan jahat, melulu karena pribadi orang tersebut. dan bukan karena orientasi seksualnya. Kalaupun ada kasus atau hal negatif yang muncul dari kalangan homoseksual di lingkungan sekitarnya, lebih sering itu terjadi karena reaksi pribadi homoseksual yang mengalami tekanan luar biasa dari lingkungannya. dan saya percaya, bahkan heteropun bisa melakukan kesalahan yang sama.
Bentuk Kegiatan
Bagi teman-teman yang ingin berpartisipasi dalam kegiatan ini, dapat menceritakan pengalamannya yang menggambarkan bahwa seorang homoseksual dapat diterima dengan baik di lingkungannya. Saya akan bagi dalam dua kategori:
  1. bagi kelompok homoseksual (gay / lesbi) - menceritakan pengalaman sehari-hari mengenai kehidupan pribadi sebagai gay di lingkungannya (keluarga / sekolah / kerja / masyarakat)
  2. bagi kelompok heteroseksual - menceritakan pengalamannya berteman / bersahabat / memiliki anggota keluarga sebagai homoseksual.
ketentuan penulisan:
  1. Nama / tempat kejadian dapat disamarkan (kalau bisa, lebih asik kalo tidak disamarkan). 
  2. Panjang tulisan bebas. Satu tema / pokok masalah untuk satu judul.
  3. Boleh mengirimkan sebanyak-banyaknya.
  4. Boleh dilampirkan foto / ilustrasi yang tidak eksplisit.
Kirimkan ke queercurious@gmail.com paling lambat 16 Mei 2009. Hasilnya akan dipublikasikan di blog ini.

Dukung kegiatan ini dengan menyertakan trackback ke halaman ini di blog kamu



Teirmakasih



Pertemuan lanjutan komunitas gay (homoseksual, lelaki penyuka sesama jenis) se-Indonesia yang sedianya akan digelar di sebuah hotel di Palembang, Sumatera Selatan, hari ini Minggu (1/3, ditentang keras oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumsel.

MUI Sumatera Selatan menolak rencana pertemuan gay dan meminta penyelenggara membatalkannya serta meminta aparat atau pihak berwenang mencabut izin penyelenggaraan kegiatan tersebut, dengan tegas Ketua MUI Sumatera Selatan KHM Sodikun kepada wartawan di ruang kerjanya, Jumat (27/2).

Menurut Sodikun, gay maupun lesbi (perempuan penyuka sesama jenis) hukumnya haram sebagaimana tercantum dalam Al Quran Surat Al’Araf 80-84 yang mengharamkan hubungan sesama jenis, baik sesama lelaki dan perempuan. Selain itu, juga dikuatkan dengan fatwa haram dari MUI maka semua pihak diimbau agar sama-sama berpikir cerdas dengan mengutamakan landasan berpikir moral.


Apalagi, lanjut Sodikun, bila dikaitkan dengan misi Palembang menuju Kota Internasional, Berbudaya dan Religi pertemuan tersebut tidak mencerminkannya malah sangat bertentangan.

“Ini haram, haram dan sangat haram, kami minta Pemerintah Kota Palembang mengambil sikap tegas jangan biarkan budaya haram yang bertentangan dengan misi Palembang,” tegas Sodikun yang saat menggelar pertemuan didampingi Ketua Komisi Fatwa MUI Sumsel KHM Luthfi Izzuddin, MA serta sekretaris Komisi Pengkajian Mahmud Jamhur.

Pelarangan kegiatan tersebut muncul, lanjut Sodikun, karena ada laporan warga bahwa di salah satu hotel sudah berlangsung pertemuan komunitas sesama jenis, 28 Januari lalu. Dalam laporan itu disebutkan bahwa komunitas yang hadir lebih dari 50 orang berasal dari gay se-Indonesia di mana komunitas gay di Palembang ditunjuk sebagai tuan rumah.

Berdasarkan laporan tersebut, MUI langsung menurunkan tim mengecek kebenaran itu dan hasilnya malah mengejutkan, tak hanya hura-hura sambil berjoget, mereka juga menampilkan atraksi tari yang dilakukan lelaki bertubuh seksi dengan pakaian minim di hadapan para penonton yang sebagian lelaki.

Tak cukup sampai disitu, komunitas tersebut, lanjut Sodikun, berencana kembali menggelar pertemuan lanjutan dua kali, yakni Minggu (1/3) besok.

“Kami sudah mengecek kebenaran, kalau Anda rekan-rekan pers tidak percaya silakan dikroscek ke hotel tersebut, ini acara haram dan wajib dibubarkan sebelum membawa kemaslahatan umat,” tegas Sodikun.

Dalam pertemuan tersebut, Sodikun juga mengimbau para pelaku dan peminat homoseksual (gay dan lesbian) untuk bertobat nasuha dan kembali ke jalan yang benar. Para ulama dan ustaz di Sumsel siap membimbing dan membantu kesembuhan para pelaku.

Selaku pihak pengawas dan pengontrol kemaslahatan umat, MUI Sumsel juga mengimbau agar ormas Islam dan masyarakat yang akan melakukan aksi demonstrasi menolak pertemuan tersebut agar menyampaikan aspirasi secara santun dan tidak mengandalkan anarkisme.

“Ini sudah jadi permasalahan umat tidak terkotak bagi umat Islam saja bahkan umat beragama lainnya, kita tidak mengakui hubungan homoseksual dalam bentuk apa pun terlebih acara ini berlangsung di Palembang yang menuju kota religius,” ucap Sodikun.(sriwijaya post/kompas)


tria22 wrote:


Berdasarkan data Departemen Kesehatan per 31 Desember 2008 angka kasus AIDS di Jawa Barat menempati posisi tertinggi di Indonesia dengan jumlah 2888 kasus sedangkan posisi kedua ditempati oleh DKI Jakarta dengan jumlah 2781, Jawa Timur 2591 kasus dan Papua 2382 kasus.

Urutan pertama kasus AIDS yang paling banyak ditemukan berasal dari Kota Bandung dengan 1.856 kasus, Kota Bekasi sebanyak 421 kasus, Kota Bogor 300 kasus, Kota Sukabumi 139 kasus, Kota Cirebon 76 kasus dan Kabupaten Subang 42 kasus.

Sumber : antara.co.id

Harus lebih aware neh semua teman-teman.



kalo ditanya kenapa aku bisa jadi Gay, jawabannya yang aku rasa paling tepat dan tentunya aku yakin bener juga adalah karena sikap hidup Mama yang super cerewet, super disiplin, plus caranya yang super ngatur dalam kehidupan rumah tangga. Nggak cuma aku dan adikku aja yang kehidupannya di atur oleh Mama, tapi kehidupan Papa akupun juga ikut di atur oleh Mama, sehingga ribut mulut antara Mama dan Papa udah terlalu sering aku lihat dan kesannyapun juga udah biasa sampai sekarang. Artinya aku itu nggak kaget banget kalo ngelihat Mama ngebentak Papa sampe sekarang ini.

Rasa tanggung jawab dan disiplin yang diajarkan Mama dalam kehidupan aku itu menurut aku ato orang lain yang ngelihat bisa dianggap sebagai suatu tindakan kekerasan yang rada kelewatan, ato mungkin istilahnya sekarang yang lebih tepat adalah child abuse, masalahnya nggak jarang mama aku itu mukul aku dengan gagang sapu, rotan ato sapu lidi yang membuat sekujur tubuhku jadi luka karena memar …..

tapi, yang perlu dimengerti adalah aku menerima semua hukuman dari mama tersebut karena akunya yang tidak disiplin, nakal, ato ngelakuin sesuatu tindakan yang udah sepatutnya dihukum, cuma mungkin hukuman yang aku terima itu kesannya sangat berat buat anak seumuran aku.

Jadi kalau aku ditanya apakah aku benci dengan mama aku saat ini? Jawabannya adalah TIDAK …….. karena aku sekarang menjadi orang sebagaimana aku ada dengan segala karakter ato kebiasaan hidup yang menurut aku baik adalah karena didikan mama, cuma mungkin sikap disiplin yang ditanamkan dalam kehidupan aku itu terlampau keras, sehingga akhirnya aku tumbuh menjadi seorang pria yang tidak bisa terbuka / dekat dengan seorang wanita, karena menurut pemikiran / kesan aku terhadap wanita itu adalah seorang diktator, cerewet dan selalu berusaha mengatur kehidupan sang pria menjadi seperti yang diinginkannya.

Setelah dewasa, akupun akhirnya sadar kalau aku menjadi seorang yang LEBIH SUKA menjalin hubungan dengan sesama jenis alias Gay karena aku nggak bisa bersikap terbuka dan menerima kehadiran seorang wanita dalam kehidupan aku. Aku katakan "lebih suka" karena aku sudah mencoba melakukan hubungan sex dengan wanita, dan ternyata aku bisa melakukannya, tapi aku tidak bisa berbagi perasaan aku bersama wanita seperti misalnya curhat, sayang, perhatian, mesra dan sebagainya seperti layaknya seorang pria straight mencurahkan kasih sayangnya kepada wanita yang dicintainya.

Sebelum aku tahu kenapa aku bisa menjadi Gay …….. aku sering menyalahkan diri sendiri, khususnya pemikiran yang ada dalam diri ini, kenapa ….kenapa dan kenapa?

Setelah aku tahu jawabannya kenapa aku bisa menjadi Gay, aku berusaha berdamai dengan diri aku sendiri, memaafkan lingkungan yang membuat aku menjadi Gay khususnya sikap mama dalam mendidik anak anaknya menjadi orang yang sukses dan berguna, serta mulai memotivasi hidup aku yang Gay ini untuk bisa menjadi orang yang berguna bagi orang lain juga khususnya bagi People Like Us ( PLU ), karena dalam hidup ini yang paling penting menurut aku adalah memikirkan BAGAIMANA HIDUP KITA SELANJUTNYA bukan memikirkan KENAPA AKU HARUS HIDUP SEPERTI INI.

Yes, I am gay, so …….. what should I do for being a good Gay as a good people for other people! jadi orang yang berguna bagi orang lain juga khususnya bagi People Like Us ( PLU ), karena dalam hidup ini yang paling penting menurut aku adalah memikirkan BAGAIMANA HIDUP KITA SELANJUTNYA bukan memikirkan KENAPA AKU HARUS HIDUP SEPERTI INI.


barudak kasep wrote:
dikutip dari kompas
http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2008/08/09/ 01204516/ ryan.dan. kita

untunglah ada yg mau susah susah nulis ttg ryan dan gay

Menjernihkan air keruh
Ada begitu banyak gay yang melatih kebugaran tubuh, tetapi banyak di antara mereka tidak membunuh. Jadi, latihan kebugaran tubuh semata bukan penyebab pembunuhan. Ada banyak gay yang cemburu pada pacarnya, tetapi banyak gay pencemburu masih menghargai kehidupan. Jadi, kecemburuan semata bukan penyebab pembunuhan.

Apa yang dilakukan Ryan adalah cermin gejolak kejiwaan yang kompleks, yang mencerminkan dinamika internal kejiwaannya dan pengalaman sosial yang traumatis. Dinamika internal yang dimaksud di sini adalah gejolak subyektif Ryan; sementara interaksi traumatis adalah hubungan sosial Ryan dengan orang-orang penting dalam hidupnya (significant others) yang menyisakan pengalaman pahit.

Filsuf Perancis, Paul Ricoeur, pernah mengemukakan, setiap orang memiliki rasa keadilan (sens de la justice). Perasaan pribadi inilah yang membuat kita mendambakan keadilan. Buah dari keadilan itu adalah kedamaian yang dicapai lewat rute panjang di mana kita harus belajar menghargai diri sendiri (self-esteem) sambil menerima penghargaan dari orang lain (self-respect) .

Dalam interaksi sosial, aliran rasa keadilan itu bisa terhambat. Apa yang dianggap adil oleh satu orang bisa dipaksakan kepada orang lain. Dengan demikian, suara keadilan dari orang lain diabaikan dan egoisme menjadi dominan. Efeknya, hak-hak orang lain dicederai sehingga
terjadi transgression (pelanggaran hak). Dari situ menetas aneka kejahatan, seperti dilakukan Ryan.

Ada satu kasus. Seorang transjender pernah berkeluh kesah pada saya tentang bagaimana orang-orang di sekitarnya tidak memahami dirinya. Ia mengaku sering ditolak, dicemooh, dan diasingkan dalam pergaulan sosial. Di akhir keluh kesahnya itu, ia berkata, "Saya ingin membunuh mereka semua". Meski tidak sepakat, saya bisa memahami letupan emosional itu.

Saya percaya, setiap orang bisa mengalirkan kebaikan dalam iklim cinta (love) dan perhatian (caring). Tanpa kehadiran dua kekuatan ini, kebaikan ditenggelamkan oleh kebencian. Bila kebencian telanjur dominan, cinta harus kembali dihidupkan. Ini disebut homeostasis, yaitu upaya menciptakan keseimbangan yang sehat. Situasi sosial berperan besar membantunya.



Oleh: Wahyu Awaludin

Homoseksual berasal dari bahasa Yunani, “homo” berarti “sama” dan bahasa Latin “sex” berarti “seks”. Istilah homoseksual diciptakan tahun 1869 oleh Dr Karl Maria Kertbeny, seorang dokter berkebangsaan Jerman-Hongaria. Istilah ini disebarluaskan pertama kali di Jerman melalui pamflet tanpa nama. Kemudian penyebarannya ke seluruh dunia dilakukan oleh Richard Freiher Von Krafft-Ebing di bukunya “Psychopathia Sexualis”.[1]. Menurut para ahli, homoseksualitas bukanlah suatu penyakit, melainkan suatu kelainan seksual.[2]

Berapakah jumlah kaum gay? Menurut penelitian Alfred Kinsey (1948, 1953) di Amerika Serikat, jumlah persentase gay dan lesbian (waria tidak dihitung) adalah sebanyak 10% dari total penduduk negara tersebut.[3]

Bagaimana di Indonesia? Apabila kita pakai rumus ini, maka jumlah gay dan lesbian di Indonesia sekitar 20 juta orang. Tetapi untuk masyarakat di Indonesia, problemnya adalah identitas: tidak semua orang yang melakukan hubungan sesama gender atau dengan waria mengidentifikasi diri sebagai gay atau lesbian (bahkan yang berhubungan dengan waria tidak beridentitas apa-apa). Kalau identitas radar-penuh gay/lesbian/waria dipakai sebagai dasar perhitungan, menurut perkiraan sekitar 1% penduduk yang demikian: jadi jumlahnya sekitar 2 juta orang.

Namun kalau kita pakai perhitungan cara Kinsey (pernah melakukan hubungan seksual dengan sesama lelaki, setidak-tidaknya sekali), maka jumlahnya bisa mencapai 53%. Untuk Indonesia, ini berarti angkanya sekitar 53 juta lelaki. Kaum waria biasanya mengatakan, kalau perilaku seksual lelaki-waria yang dipakai sebagai dasar perhitungan, persentasenya bisa mencapai 90%, khususnya pada kelas pekerja. Ini berarti dari sekitar 190-an juta kelas pekerja, dengan asumsi separuhnya adalah perempuan (95 juta), maka 85,5 juta lelaki Indonesia pernah atau akan pernah melakukan hubungan seks dengan waria atau yang dianggap waria (termasuk di sini gay atau lelaki biasa).[4]

Menurut www.manjam.com, sebuah situs khusus gay, jumlah gay yang terdaftar di web tersebut di kota Jakarta saja sebanyak 3000 orang.[5] Sedangkan hasil survey YPKN (Yayasan Pelangi Kasih Nusantara) menunjukkan, ada 4.000 hingga 5.000 penyuka sesama jenis di Jakarta. Menurut Ridho Triawan, pengurus LSM Arus Pelangi, sebuah yayasan yang menaungi lesbian, gay, waria dan transjender, setidaknya ada 5000 gay serta lesbian yang hidup di Jakarta[6]. Secara kalkulasi, pakar seksualitas Dr Boyke Dian Nugraha sempat mencatat bahwa frekuensi kaum gay yang murni adalah satu dari 10 pria.[7] Sedangkan Gaya Nusantara[8] memperkirakan, 260.000 dari enam juta penduduk Jawa Timur adalah homo. Angka-angka itu belum termasuk kaum homo di kota-kota besar. Dr. Dede Oetomo memperkirakan, secara nasional jumlahnya mencapai sekitar 1% dari total penduduk Indonesia. Kalau asumsi Dr Dede Oetomo benar, tentunya itu sebuah angka yang membelalakkan mata.[9]

Jika kita berasumsi bahwa data di atas adalah benar, berarti kita selama ini sudah hidup dan bermasyarakat cukup lama dengan kaum gay di Indonesia. Mereka ada di tengah-tengah kita.

Pertanyaan selanjutnya muncul, bagaimana sebenarnya eksistensi mereka di kota-kota besar, seperti di Jakarta, Bandung, Surabaya dan lainnya? Bagaimana seluk-beluk kehidupan mereka? Bagaimana sikap masyarakat di sekitar mereka ketika menyadari bahwa mereka adalah seorang gay?

Sejarah Singkat

Keberadaan kaum gay adalah fakta. Mereka adalah sebuah realita abad 21. Kini mereka mulai berani memunculkan diri di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia.

Sebenarnya, kemunculan mereka di Indonesia dimulai sekitar tahun1920-an[10]. Pada tahun itu, komunitas homoseks mulai muncul di kota kota besar Hindia Belanda.[11] Sayang penulis tidak mempunyai info lebih detail mengenai nama-nama komunitasnya. [12]

Waktu pun berlanjut. Di Jakarta pada tahun 1969, organisasi wadam (baca: gay) pertama, Himpunan Wadam Djakarta (HIWAD) berdiri difasilitasi oleh Gubernur DKI Jakarta Raya, Ali Sadikin.[13]

Tanggal 1 Maret 1982, organisasi gay terbuka pertama di Indonesia dan Asia, Lambda Indonesia, berdiri, dengan sekretariat di Solo. Dalam waktu singkat terbentuklah cabang-cabangnya di Yogyakarta, Surabaya, Jakarta dan tempat tempat lain. Terbit juga buletin G: gaya hidup ceria (1982-1984).[14] Akibat dari munculnya organisasi Lambda Indonesia, di tahun1992, terjadi ledakan berdirinya organisasi-organisasi gay di Jakarta, Pekanbaru, Bandung dan Denpasar. Juga di tahun 1993 Malang dan Ujungpandang menyusul.[15]

Pada tahun-tahun selanjutnya, kaum gay makin banyak mendirikan organisasi dan komunitas, hanyasaja belum berani unjuk diri secara terang-terangan ke masyarakat Indonesia. Namun, akhir-akhir ini fakta itu bergeser. Pasalnya, acara-acara TV yang menampilkan sosok gay semakin banyak. Kebanyakan dari mereka muncul untuk “menginformasikan” kehidupan kaum gay kepada masyarakat.

Salah satunya acara Empat Mata yang dibintangi oleh komedian Tukul Arwana. Pada tanggal 16 Mei 2007, Empat Mata menghadirkan seorang gay yang bernama Dede.[16] Dede hadir menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar dunia gay.[17]

Pemunculan Dede ini dinilai oleh sebagian pihak sebagai tanda-tanda bahwa masyarakat Indonesia mulai menerima kehadiran kaum gay, atau setidaknya mulai tumbuh rasa ingin tahu tentang kehidupan kaum gay.[18]



2.2 Kehidupan Kaum Gay Jakarta

Jakarta sebagai kota metropolitan menawarkan kehidupan yang sangat menarik. Mulai dari narkoba sampai buku-buku agama, mulai dari mal-mal megah sampai perhiasan berharga jutaan rupiah. Beragam komunitas pun ada disini, mulai dari aktivis lingkungan sampai mafia internasional. Begitu pula dengan kaum gay, mereka pun “mengambil tempat” di Jakarta. Mereka membuat komunitas sendiri yang ekslusif (dalam arti hanya khusus kaum gay).

Sebenarnya, kehidupan kaum gay tidak berbeda dengan apa yang biasa kita sebut “kaum normal”. Mereka makan, minum dan kadang terluka. Yang membedakan kaum gay dengan kaum heteroseks hanya orientasi seksualnya. Selebihnya, tidak ada perbedaan.[19]

Seperti masyarakat umumnya, kaum gay pun mempunyai strata sosial, apalagi di Jakarta, strata sosial ini terlihat lumayan jelas. Khusus di kalangan gay, pembagian kelas tampak pada tempat ngeber[20], cara berpakaian dan berasesoris, yang semuanya berawal pada kombinasi tingkat penghasilan dan aspirasi kelas mereka.[21]



Kaum gay yang low class biasanya ngeber di diskotik-diskotik murah dan tidak terkenal. Sedangkan kaum gay yang high class biasanya lebih menginginkan sutu private party. Dengan private party itu mereka bisa membuat acara sebandel mungkin, sebebas mungkin, dan tentunya sesuai dengan keinginan mereka.



Bahkan saat ini ada Event Organizer (EO) yg khusus membuat konsep acara seperti apa yang menjadi keinginan konsep pesta “gila” mereka. EO ini melayani jasa membuat konsep pesta untuk kaum gay. Bahkan EO ini juga melayani jasa resmi dan formal seperti gathering, wedding dan exhibition.[22]



Walau pasti menelan biaya mahal, mereka seolah tidak peduli. Yang mereka cari adalah kesenangan, kenikmatan diri sendiri, mencari arti dari kesenangan untuk dirinya. Karena bagi kaum homo seolah sulit untuk mendapatkan kenikmatan dan kepuasan diri yang notebene adalah kepuasan seksual dengan sejenis mereka. Sebebas apapun tetap saja mereka harus sembunyi-sembunyi untuk memperolehnya.



Lagipula, alasan mereka membuat pesta dan dugem sendiri adalah karena di tempat umum, belum tentu semua orang menerima kaum gay. Ada beberapa orang yang ketika kaum gay datang ke diskotik, mereka akan membuang muka atau mendengus jijik. Walau kaum gay berprinsip “nggak usah peduli apa kata orang”, hal ini tetap saja membuat membuat mereka tidak nyaman. Dari situlah, kemudian mereka membuat tempat dugem khusus kaum gay.[23]



Di Jakarta sendiri, ada beberapa tempat ngeber dan dugem khusus kaum gay[24]. Yaitu diantaranya:

1. Lap.Banteng (BT), campur, malam, komersial.

2. Tugu/Gelanggang Senen, campur, malam, komersial.

3. Bioskop Grand Duta/Mulya Agung (Grand/MA), persimpangan Jln Kramat Raya-Kwitang, campur, siang & malam.

4. Terminal Bus Senen (kamar mandi 'Si Unyil'), campur, komersial.

5. Dangdut Senen. sebelah gelanggang Senen/seberang terminal bus, campur, komersial.

6. Cililitan (Cili-terminal lama), di sekitar terminal lama, campur, malam Minggu.[25]

7. Gedung Bioskop Cinere, di lobi, mayoritas brondong, malam.

8. Ciputat-Gedung bioskop Sahara, di pelataran, mayoritas brondong, malam.
Kolam renang Ancol (di bawah 'Air Terjun'). Minggu sore.

9. Sogo. Plaza Indonesia. Hotel Grand Hyatt, bundaran HI, mayoritas brondong, siang & malam.

10. Pasaraya Big & Beautiful Blok M, toilet lantai dasar/pintu masuk parkir, campur, siang & malam.

11. Blok M Plasa/Terminal Kebayoran Baru, mayoritas brondong, siang & malam.

12. Atrium/Segitiga Senen,. depan Studio 21, mayoritas brondong, siang & malam.

13. Metro Kafe, Puri Indah Mal Lt.1, 10.00-21.00 WIB.

14. Kebanyakan Disko di Jakarta adalah tempat mangkal gay.

15. Tanamur (disko), Jln Tanah Abang,Kamis malam banyak gay, Minggu malam lines, campur, komersial.

16. The New Moonlight (ML), persimpangan Hayam Wuruk-Mangga Besar, Rabu malam & Sabtu malam Minggu, gay & lines.

17. Kasturi Diskotik, Jln Mangga Besar Raya 10 E, Senen malam Selasa, Gay Night, 22.00 WIB-selesai.

18. Furama Pub & Diskotik, Jln Hayam Wuruk Raya 75 (sebelah Holland Bakery), Selasa malam Rabu, Gay Night, 22.00 WIB-selesai.



Mereka kadang janjian lewat telepon, lalu ketemuan di tempat-tempat di atas. Setelah mengobrol beberapa jam, kadang mereka menyewa hotel untuk melakukan hubungan intim. Dalam hal ini, tempat ngeber mereka berfungsi sebagai tempat janjian. Namun, sering juga tempat ngeber mereka dijadikan tempat untuk berbagai perlombaan/kontes.[26]

Biasanya, kalau mereka ingin ngeber, mereka akan datang dengan baju necis, mahal, membawa mobil pribadi dan berpenampilan bak selebritis. Biasanya mereka yang seperti ini berarti sudah saling mengenal.[27]



Namun bagi kaum gay yang malu-malu, dunia maya menjadi salah satu alternatif untuk mencari pasangan. Ferdi, sapaan karib Ferdinand, salah satu gay Jakarta, tak memungkiri bahwa www.friendster.com sudah menjadi ajang mencari jodoh. Ferdi mengaku, dari kenal di Friendster, kemudian dilanjutkan dengan E-Mail (surat elektronik). "Akhirnya telpon-telpon dan ketemuan deh," kata Ferdi.[28] Selain Friendster, situs lain yang sering dijadikan tempat chatting kaum gay adalah Yahoo! Messenger[29]. Selain itu, kaum gay juga membuat situs pertemanan sendiri (khusus kaum gay), diantaranya adalah www.gayanusantara.org, www.sobatan.com, dan www.manjam.com.[30]



Memang kehidupan kaum gay Jakarta identik dengan kehidupan malam. Hal ini karena di kehidupan siang hari, di Indonesia, mereka masih belum bisa menemukan kebebasan. Sebagian masyarakat masih ada yang membenci mereka sehingga membuat mereka tidak bisa bergerak leluasa.



2.3 Bahasa Gaul Kaum Gay Jakarta

Kaum gay Jakarta –seperti masyarakat umumnya- mempunyai istilah-istilah tersendiri dalam percakapan, atau bisa disebut bahasa gaul (baca: khusus untuk kaum gay). Bahasa ini umumnya mereka pakai ketika mereka sendiri beridentitas sebagai gay, atau ketika bertemu dengan kaum gay lain dan sedang ngeber.

Dalam menciptakan bahasa gaul ini, kaum gay tidak terikat satu aturan tertentu. Bagi mereka yang penting adalah nikmat dan jadi. Di bawah ini adalah penjelasan singkat bagaimana kreativitas bahasa itu diekspresikan dalam keberagaman cara dan metode modifikasi, [31] diantaranya yang disebut sebagai bahasa "binan".[32]

1. Bentuk modifikasi regular

o Tambahan awalan "si"
Awalan "si" biasanya digunakan oleh waria di Jawa Timur. Cara pengunaannya dengan menambahkan kata "si" pada setiap kata yang digunakan dengan terlebih dahulu memenggal suku kata pertama dari suku kata belakang, sehingga menghasilkan bunyi baru. Syaratnya, setiap kata modifikasi tesebut harus berakhir dengan huruf konsonan.
Cara pembentukan: lanang (jw. laki-laki) dipenggal menjadi lan + ang. Kemudian pada kata lan di depannya diberi awalan "si", sehingga menjadi kata silan, yaitu "si" + lan.
Contoh lain:
wedhok (jw. Perempuan) -> siwed ("si"+wed)
Makan -> simak("si" + mak)
Pergi -> siper("si" + per)

o Tambahan akhiran "ong"
Penambahan akhiran "ong" adalah modifikasi sederhana lain yang Bering juga digunakan. Penggunaannya dengan menyesuaikan/mengasimilasi setiap suku kata terakhir dalam bahasa keseharian dengan bunyi "ong" dan setiap huruf vokal suku kata pertama menjadi bunyi e.
Cara pembentukan: Kata "banci", suku kata ban- dirubah bunyinya menjadi "ben", sedangkan suku kata akhir (ci) diasimilasikan dengan akhiran "ong" sehingga menjadi kata "cong". Jika kedua suku kata digabung (ben + cong) berubah menjadi kata "bencong".
Contoh lain:
laki -> lekong (la+ ki -> le +kong)
Makan -> mekong (ma + kan -> me + kong)
Homo -> hemong (ho + mo -> he + mong)

o Tambahan akhiran "es" atau 'i'
Kaidah yang berlaku dalam penambahan akhiran "es" hampir sama dengan modifikasi dengan akhiran "ong", kecuali pada penambahan suku kata akhir disesuaikan dengan bunyi "es" atau "i". Sehingga kata "band" bisa dimodifikasi menjadi kata "bences" atau "benci".
Contoh lain: lekes atau leki (la+ ki -> Le + kes atau ki) jalan -> jeles atau jeli (Ja+ lan -> je + les atau li)

o Tambahan sisipan "in"
Dibanding dengan modifikasi regular lainnya, sisipan "in" sedikit lebih sulit dalam penerapannya. Dalam modifikasi dengan sisipan "in", setiap suku kata dibagi diasimiliasikan dengan sisipan bunyi "in".
Cara pembentukan:
Misalnya kata "banci", suku kata awal ban dipisahkan dengan suku kata akhir ci, sehingga menjadi dua bunyi yang benar-benar terpisah. Kata ban dan ci disisipi dengan kata "in" sehingga berbunyi "binan cini'.
Contoh lain:
lesbi -> lines bini (les+ bi -> lines+ bini) homo -> hino mino (ho+ mo -> hino+ mino)



2. Bentuk modifikasi irregural

o Dengan memberi makna beda pada istilah kata umum. Jenis kata plesetan ini dibentuk dengan berbagai alasan antara lain bisa dikarenakan kesamaan sifat atau karakter antara dua kata atau bisa dikarenakan semata-mata oleh kesamaan bunyi. Untuk yang kata ganti yang digunakan karena analogi karakter bisa ditemui antara lain pada kata-kata berikut ini; "jeruk" (pemeras), "idealisme" (idiot), "bawang" (bau), "cuci WC" (menjilati dubur, analingus), "madonna° (matre), dll. Sedangkan plesetan kesamaan bunyi antara lain; "sandang" (sana), " "bandana" (bandit), "cumi-cumi" (berciuman) dll.

o Plesetan Singkatan kata-kata umum
Misalnya:
"BBC" atau "bibisi" (becak, tukang becak)
"mojokerto" (mojok)
"texas" (terminal)
"California" (pinggir kali)
dll.

o Kata-kata yang khusus, istilah yang hanya ditemukan dalam kalangan gay. Kata-kata yang dalam pengertian bahasa lain terdengar tidak ada makna.
Misal; "akika" (aku)
"diana" (dia)
"amir" (amat, sangat)
"cik pin" (pincang)
"la nina" (lanang)
"habibah" (habis)
"lucy-lucy" (elus-elus)
"metelek" (gay yang baru bercinta)
dll.

o Istilah=Istilah atau Singkatan
Misal:
"ADIIYA" (Adu titit saja)
"BAKSO" (Badannya seksi sekali bo!)
"HANDOKO" (Hanya doyan kontol)
"P&G" (Penjong & gedong), "UMNO" (Urusan Meong Number One) dll.

(Catatan: Aturan-aturan tersebut tidak selalu berlaku secara terpilah-pilah, kadang-kadang dalam satu kata bisa terjadi merupakan dua cara plesetan sekaligus).

2.4 Tanggapan Masyarakat dan Pemerintah serta Diskriminasi Terhadap Kaum Gay

Secara umum, perubahan nilai sosial dan cara pandang masyarakat saat ini cukup bisa menerima komunitas kaum gay. Walaupun baru hanya sebagian lapisan masyarakat saja.[33] Bahkan, ada juga kaum heteroseksual yang bergiat di LSM gay. Mereka bukan gay, tapi mereka peduli terhadap gerakan gay.[34] Direktur Arus Pelangi Jakarta, Rido Triawan, mengatakan, sebanyak 30% anggota Arus Pelangi merupakan kaum heteroseksual.[35] Padahal Arus Pelangi adalah LSM khusus gay.



Walau begitu, masyarakat yang menolak kaum gay juga ada, bahkan itulah yang mayoritas. Mereka terdiri dari beragam latar belakang, mulai dari organisasi agama, sosial, sampai pendidikan.[36]



Orang yang membenci kaum gay biasa disebut Homophobia.[37] Reaksi kaum Homophobia apabila bertemu gay ataupun berada di lingkungan gay adalah merasa tidak tenang, gelisah, khawatir, takut tertular “penyakit homoseksual”[38], merinding dan tidak sedikit yang langsung kabur dan menjauh[39]. Namun ada juga kaum Homophobia yang sampai mengisolasi dan memprovokasi masyarakat untuk menjauhi kaum gay.



Berbeda dengan kaum waria yang merasa sangat didiskriminasikan oleh pemerintah, pada umumnya pemerintah jarang sekali membuat pernyataan melecehkan atau mendiskriminasi kaum gay, walau tetap ada beberapa pengecualian, salah satunya adalah perkawinan sejenis.[40] Namun, untuk masalah yang satu ini, kaum gay terus melobi pemerintah supaya pemerintah mau melegalkan perkawinan sesama jenis. Seperti diketahui, Indonesia hanya memperbolehkan perkawinan antar lawan jenis. Demi terwujudnya tujuan itu, banyak hal yang mereka lakukan, seperti menggelar seminar sampai menerbitkan buku yang berjudul “Indahnya kawin sejenis”.[41]

ANALISIS DATA

Ketika membuat makalah ini, penulis sempat membuat sebuah kuisisoner yang bertujuan untuk mengetahui seluk-beluk kehidupan kaum gay Jakarta. Kami memberikan 4 pertanyaan kepada 20 orang dalam bentuk kuisioner.

Pertanyaan pertama adalah, “Darimana Anda mengenal istilah homoseksual?”. Mayoritas responden (13 orang), menjawab dari media elektronik atau cetak. Dilain pihak, hanya 4 orang yang menjawab dari buku dan hanya 3 orang yang menjawab dari teman. Ini menunjukkan bahwa media sangat berperan besar dalam penyebaran informasi tentang homoseks/gay.

Pertanyaan kedua, “Pernahkah Anda mengalami homoseks?” Mayoritas responden (12 orang) menjawab belum pernah, dan hanya 8 orang yang menjawab sudah pernah. Tampaknya fakta ini berkolerasi dengan analisa Kompas bahwa 8-10 juta pria pada satu waktu pernah mengalami perbuatan homoseksual.[42]

Pertanyaan ketiga, “Pernahkah Anda melihat adegan homoseksual sedang kontak fisik? Darimana Anda mengetahuinya?”. Mayoritas responden yang menjawab “Pernah, dari TV ataupun langsung” sebanyak 15 orang, sedangkan yang menjawab belum pernah hanya 5 orang.

Pertanyaan keempat, “Menurut Anda apakah factor yang mempengaruhi seseorang menjadi homoseksual?” Mayoritas responden (11 orang) menjawab “Lingkungan”, 6 orang yang menjawab “Genetik” dan 3 orang menjawab “Ragu-ragu”.

Dari data diatas, penulis menganalisa bahwa sebenarnya masyarakat kita masih kurang memahami hakikat homoseksualitas/gay. Contohnya pada pertanyaan keempat, masih ada 3 responden yang menjawab “Ragu-ragu” ketika ditanya penyebab seseorang menjadi homoseks.

Selain itu, penulis menyimpulkan bahwa media sangat berpengaruh dalam penyebaran informasi tentang dunia gay. Ini tentu bisa dimanfaatkan oleh pemerintah atau pihak yang berwenang menyosialisasikan eksistensi kaum gay. Media juga bisa digunakan oleh kaum gay sendiri untuk memperjuangkan diskriminasi dan kesewenang-wenangan yang ditujukan kepada mereka. Dan sebaliknya, bagi pihak-pihak yang “tidak menyetujui” adanya kaum gay, media juga bisa sangat berguna untuk mencapai tujuan mereka.


BIBLIOGRAFI

“Homoseksualitas” www.wikipedia.org. Diakses pada 25 Desember 2007.



Iwan Setiawan. “Homoseksualitas antara pilihan atau trend”.www.google.com. Diakses pada 25 Desember 2007.



“Pertanyaan yang Sering Diajukan dalam Kaitannya dengan Homoseksualitas” www.gayanusantara.org. Diakses pada 26 Desember 2007.



“Kaum Gay Dan Waria Satroni DPR “http://asia.geocities.com/arus_pelangi/. Diakses pada 28 Desember 2007.



“Kaum Gay Kehilangan Hak Publik”. http://asia.geocities.com/arus_pelangi. Diakses pada 28 Des 2007.



Hidayat Gunadi, Mujib Rahman, Sigit Indra dan Sujoko. “Jalan Berliku Kaum Homo Menuju Pelaminan”. Gatra Edisi 46. Beredar Jumat 26 September 2003.



“Realita GAY(homo) dan Rock an roll” www. disur.multiply.com. Diakses pada 24 Desember 2007.



Akbar A. Thalib, “Ada Gay di Empat Mata”. www.selalumuda.multiply.com. Diakses 26 Desember 2007.
Meneropong Kehidupan Kaum Homoseksual Ibukota”

http://lieagneshendra.blogs.friendster.com. Diakses 26 Desember 2007.



"Bukan Lelaki Biasa (Menguak Kehidupan Kaum gay Jakarta)” http://erlyandiaa.multiply.com. Diakses pada 26 Desember 2007



“Ngeber” www.gayanusantara.org. Diakses pada 26 Desember 2007



“Bahasa Gaul” www.gayanusantara.org. Diakses pada 26 Desember 2007



“Muhammadiyah dan NU Tolak Organisasi http://asia.geocities.com/arus_pelangi/ . Diakses pada 28 Desember 2007



“Homoseksual!”. www.kompas.co.id. Diakses pada 26 Desember 2007
[1] “Homoseksualitas” www.wikipedia.org. Diakses pada 25 Desember 2007



[2] Iwan Setiawan. “Homoseksualitas antara pilihan atau trend”.www.google.com. Diakses pada 25 Desember 2007

[3] “Pertanyaan yang Sering Diajukan dalam Kaitannya dengan Homoseksualitas” www.gayanusantara.org. 26 Desember 2007

[4] Ibid.



[5] www.manjam.com

[6] “Kaum Gay Dan Waria Satroni DPR “http://asia.geocities.com/arus_pelangi/. Diakses pada 28 Desember 2007

[7] “Kaum Gay Kehilangan Hak Publik”. http://asia.geocities.com/arus_pelangi. DIakses pada 28 Des 2007



[8] Gaya Nusantara adalah satu yayasan khusus untuk kaum gay yang sangat terkenal di Indonesia. Yayasan ini berdomisili di Surabaya. Mereka menerbitkan buku, bulletin, majalah dan mengadakan acara serta seminar khusus untuk kaum gay.



[9] Hidayat Gunadi, Mujib Rahman, Sigit Indra dan Sujoko. “Jalan Berliku Kaum Homo Menuju Pelaminan”. Gatra Edisi 46. Beredar Jumat 26 September 2003



[10] “Realita GAY(homo) dan Rock an roll” www. disur.multiply.com. Diakses pada 24 Desember 2007



[11] Nama Indonesia pada waktu itu
[12] Ibid.

[13] Ibid.



[14] Ibid.

[15] Ibid.



[16] Nama lengkapnya Dr. Dede Oetomo, lahir tanggal 6 Desember di Pasuruan. Dia adalah orang yang pertama kali mengumumkan bahwa dirinya adalah seorang gay di Indonesia. Berkat itu, sekarang dia mendapat julukan “Presiden Gay Indonesia”. Penerima penghargaan internasional Felipa De Souza Award 1998 di New York ini adalah pendiri Yayasan Gaya Nusantara dan dia sekarang menjadi Dewan Pembinanya. Penulis buku ‘Memberi Suara Pada Yang Bisu' ini juga laris sebagai narasumber untuk kegitan-kegiatan seminar di bidang gender, kesehatan seksual, sosial maupun politik. Bukan cuma di Indonesia saja, namun juga di mancanegara.



[17] Akbar A. Thalib, “Ada Gay di Empat Mata”. www.selalumuda.multiply.com. Diakses 26 Desember 2007



[18] Ibid.
[19]“ Meneropong Kehidupan Kaum Homoseksual Ibukota”

http://lieagneshendra.blogs.friendster.com. Diakses 26 Desember 2007



[20] Ngeber adalah istilah kaum gay untuk “tempat kumpul-kumpul”. Biasanya di diskotik.



[21] “Pertanyaan yang Sering Diajukan dalam Kaitannya dengan Homoseksualitas”

http://www.gayanusantara.org/. Diakses pada 26 Desember 2007



[22]"Bukan Lelaki Biasa (Menguak Kehidupan Kaum gay Jakarta)” http://erlyandiaa.multiply.com. Diakses pada 26 Desember 2007



[23] Ibid.



[24] “Ngeber” www.gayanusantara.org. Diakses pada 26 Desember 2007



[25] Untuk tempat no. 6 ini, penulis mendapat informasi agar kaum gay jangan datang selain malam Minggu, karena berbahaya.

[26] “Bukan Lelaki Biasa…” ibid.
[27]“Meneropong…” loc.cit



[28] “Meneropong…” loc.cit



[29] Ibid.



[30] Penulis mengambil kesimpulan ini setelah melakukan penelusuran di www.google.com

[31] “Bahasa Gaul” www.gayanusantara.org. Diakses pada 26 Desember 2007



[32] Mohon maaf sebelumnya jika ada kata-kata yang terkesan tidak senonoh. Kata tidak disensor untuk menjaga “keaslian” bahasa binan.

[33] “Bukan Lelaki Biasa…” loc.cit.
[34] “Muhammadiyah dan NU Tolak Organisasi http://asia.geocities.com/arus_pelangi/ . Diakses pada 28 Desember 2007



[35] Ibid

.

[36] Dari berbagai sumber.

[37] “Kaum Gay Kehilangan…” loc.cit.

[38] Kaum Homophobia biasanya menganggap bahwa homoseksual itu adalah semacam penyakit menular.



[39] “Kaum Gay Kehilangan…” loc.cit.



[40] “Pertanyaan yang Sering…” loc.cit.



[41] “Kaum Gay Kehilangan…” loc.cit. Kami tidak mengetahui siapa penulis buku ini.

[42] “Homoseksual!”. www.kompas.co.id. Diakses pada 26 Desember 2007
/span> “Homoseksual!”. www.kompas.co.id. Diakses pada 26 Desember 2007





anas_tino wrote:


Hi semua,....
Berita ini aku ambil dari forum.
ini pengalaman buat kita semua. Dan, PERJUANGAN yang dilakukan oleh KORBAN-dlm hal ini TOYO-sangatlah luar biasa. SEMOGA INI MENJADI TITIK AWAL PERJUANGAN KITA SEMUA...!!!

BERIKUT KISAHNYA :
teman - teman saya baru saja mengalami hal yang berat sekali dalam hidup saya. Pada saat saya di banda aceh sekitar akhir bulan januari 07. saya dengan pasangan cowok saya mendapat perlakuan yang sangat mengerikan sekali dalam hidup saya.

Kamar pribadi saya didobrak oleh teman saya sendiri dan saya mendapat pemukulan dari massa. sampai sekitar 2 jam kemudian saya di bawah kekantor polsek di banda aceh. kemudian saya malah mendapat penyiksaan yang lebih berat lagi dengan cara pemukulan, penghinaan hanya karena saya gay serta pelecehan seksual.

Salah satu pelecehan yang saya terima adalah saya ditelanjngi dan kemudian pasangan saya dipaksa untuk mengoral penis saya. dan itu disaksikan oleh banyak polisi yang bertugas pada malam itu (sekitar pukul 1.00 dini hari).

Selain itu juga kepala saya dikencingi dan dimandikan pada malam itu juga. pada saat saya bilang bahwa saya gay, saya malah mendapat penyiksaan lebih berat. bagi saya hak pribadi saya dan kemanusiaan saya sudah diinjak - injak oleh kepolisian banda aceh.

Terlepas dari kasus saya sebagai gay, tetapi saya tetap tidak terima penyiksaan yang saya terima tersebut. karena negara kita adalah negara hukum yang punya aturan main dan tidak main hakim sendiri. apalagi itu dilakukan oleh aparat negara (dalam hal ini pihak kepolisian).

Sehingga sekarang saya untuk sementara pindah ke jakarta dan akan melakukan tuntutan kepada pihak kepolisian. Saya akan tuntut isu penyiksaannya bukan pada isu seksualitasnya.
sekarang saya dibantu oleh teman - teman YLBHI Jakarta, Arus Pelangi (LSM yang fokus untuk perjuangan GAY, lesbian, bisek dan waria) dan kapal perempuan jakarta. Selain itu juga teman - teman dari komnas ham dan lsm lainnya dijakarta, aceh, padang dan medan.

Terlepas dari itu semua, ternyata saya juga baru tahu bahwa sebenarnya saya melakukan ML itu tidak ada hukum yang saya langgar. karena hubungan gay di KUHP dan Qanun di aceh tidak diatur. Jadi secara hukum sebenarnya saya tidak bisa dijerat dengan pasal apapun.

Tapi sekarang teman - teman ada perda - perda didaerah spti palembang sudah mengkriminalkan gay , waria dan lesbian. Ini yang mesti kita perjuangkan. karena kita menjadi gay saja sudah dianggap pelacur dan sudah layak untuk di hukum dalam isi perda tersebut. walaupun dia (gay)itu seorang ulama misalnya. Ini kan mengerikan sekali, menjadi gay langsung dimasukan dalam kategori pelacur dan wajib ditangkap.

Kembali lagi ke persoalan saya tadi, saya cuma ingin mulai kita memikirkan strategy dan mulai mendiskusikan hak - hak kita sebagai gay. karena saya yakin bahwa kejadian yang saya terima bukan cuma saya saja tetapi teman - teman yang lain di forum ini pasti ada yang pernah mengalami itu. Atau mungkin teman - teman yang lainnya...

Jadi saya akan advokasi dan tuntut kepolisian tersebut. saya mohon dukungan teman - teman semua ya.. karena selain itu juga saya berjuangan, bahwa kita (gay) itu ada dan tidak bisa diingkari kenyataan tersebut. Persoalan kita setuju atau tidak saya pikir itu perlu didiskusikan
dan saling mendengar argumentasi masing - masing tentang dunia gay. Tapi maksud saya mari kita bergandengan tangan untuk menguatkan teman - teman gay. Mungkin saja banyak teman mengalami hal yang sama seperti saya tetapi teman - teman menutup diri dan menajdi persoalan pribadi saja. Mungkin saya lebih kuat dan berani untuk menuntut tapi gimana dengan
teman - teman kita yang lainnya??? Apah kita cuma diam dan cukup kasihan saja??? tanpa melakukan dan memberikan dukungan apapun??

Saya yakin akan berat dan takut kita semua kalau mau menuntut polisi karena gay misalnya. Kita semua akan takut malu dan klga nanti tahu semua dan dan banyak alasan sosial yang lainnya. tapi lagi kalau dihadapkan pada agama, ya kita pasti akan mundur secara cepat dan
mengatakan bahwa ini berdosa dan memang pantas mendapatkan penyiksaan dari massa dan pihak kepolisian. Ini kan Ironis sekali teman - teman....... ...

Tapi minimal kita sesama gay atau biseksual mulai empati dengan teman - teman kita yang mangalami kasus spti saya ini misalnya. saya akan maju kan kasus saya ini sebagai strategy advokasi bagi kita sebagai gay. bahwa kita manusia biasa juga yang sama dengan orang lain. yang membedakan hanya orientasi sex saja (hetero dan homo). jadi sekalian bisa memberikan gambaran bahwa kita ada dan sampai kapan pun kita ada. Apakah menjadi gay sebuah hal yang salah??? ini yang mesti kita diskusikan.. Dan saya sudah siap untuk maju dengan resiko yang berat yang akan saya hadapi (termasuk sanksi sosial). saya harus berani dan tidak boleh menyerah dan diam saja terhadap perlakuan diskriminasi yang selama kita (gay) terima.

Mungkin itu saja teman - teman, kalau mau diskusi lebih dalam bisa lewat email jam_gadang2003@ yahoo.com

cat ; saya butuh dukungan teman - teman tapi bukan menyalahkan ya...

salam

Toyo

Emanil_anil wrote:

Pak Toyo.

Kalo polisi itu menyuruh kita beroral kelamin dia menyaksikan adegan itu berarti dia dg sengaja menonton film gratis (menikmatinya) ? itu berarti dia juga bisa dituduh sbg pihak yg melakukan pelecehan, kalo mreka bukan anti tgd Gay ngapain mreka menonton adegan itu

malah dg sengaja menciptakan adegan seru yg ingin mreka lihat di mana penmandanag itu kan jarang ada? belum lagi tuduhan penyiksaan lainnya yg tak manusiawi.polisi tak berhak menghakimi kesalahan a moral. hukuman harus mlalui pengadilan trlebih dahulu. itupun kalo terbukti bersalah, dikenakan hukuman yg setimpal oleh jaksa di pengadilan sesuai dg UU yg berlaku. kesalahan a moral saratnya harus tertangkap tangan pd saat melalukan ML dan ada saksinya. dikelompokan kpd tindak asusila/perzinahan. Kalo dilakukan thd anak kecil/di ba-
wah umur dikenakan pasal uu ttg perlindungan anak.

Tapi kalo tidak sedang mlakukan ML. tidak tekena sanksi apa2 sebab tidak ada kejadian apa2. cuma sekedar di tuduh Sbg Gay, Yg menuduh malah bersalah, menuduh sembarangan tak ada ada kejadian apa2 berarti ia mempitnah (bisa dikenakan hukuman), apalagi mreka menyuruh anda beroral dg paksa ?

Penyiksan bukan hanya terjadi pada pak Toyo saja kpd yg lain juga bnyak, saya sendiri juga pernah dapet perlakuan itu cuma bukan oleh polisi dan bukan disuruh oral tp. siksaan pisik lainnya dan pemerasan. Ada kejadian serupa skitar belesan tahun yl konon kabarnya ybs. disuruh oral lebih keji lagi karna sebelum oral kelamin diolesin rheumason, bisa dibayangkan gimana rasanya tersiksa spt itu.

Nah pak Toyo lanjutkan berjuang saya dan mungkin teman2 sehati lainnya mendukung minimal secara moril dan kasih masukan. smoga berhasil, slamat berjuang...bung.

Andre winarta wrote:

Ini cukup membanggakan karena ternyata diberapa kota sudah berani melakukan perlawanan akan sesuatu yang sifatnya diskriminatif. Saya salut karena memang yang perlu diperjuangkan bukan permasalahan status kita sebagi "Gay" tetapi perlakuan hukum terhadap kita.

DiSemarang sendiri saat ini rekan-rekan juga sudah mulai mendapatkan perlakuan yang cukup mendiskriminasikan "Status" kita sebagai Gay, dari laporan lapangan menyebutkan rekan-rekan mulai dirazia (Hampir tiap malam) dan "dipalak" hingga 100rb rupiah. Saya sendiri masih terus melakukan pengumpulan data untuk memperkuat laporan.

Lebih Parah lagi, di Jogja. Teman-teman yang hendak melakukan VCT (Voluntary Consultingand Testing) HIV & AIDS sudah mengalami diskriminasi saat pengambilan darah -Hal ini sudah dilaporkan- an diSemarang, rekan-rekan yang hendak VCT juga dimintai dana dengan alasan sebagai 'pendaftaran' padahal sebagaimana kita ketahui bahwa sampai saat ii seharusny VCT bersifat GRATIS dan RAHASIA.

Yang jelas kita juga harus secara bersama-sama memperjuangkan 'Hak Sipil' Gay di Indonesia. Tidak harus diakui secara hukum (dalam hal hubunganya or pernikahanya) , minimal dalam konsep 'Hak Sipil' sebagai perjuangan jangka pendek.

Semoga ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi hukum di Indonesia dan juga rekan-rekan Gay iseluruh Indonesi. Kita harus bisa memulai memberikan pelajaran sosial bagi masyarakat Indonesia

HEDONA Semarang



Posted by arifkurniawan
(diambil dari http://arifkurniawan.wordpress.com/2006/12/14/gaymilid/)

Tulisan ini, dipengaruhi oleh komentar saya sendiri di situs kelola, sebuah situs yang berhubungan dengan nama-nama domain di internet.

Judul pada sebuah artikel di kelola amat jelas. “Jangan Remehkan Gay!”

Artinya cuma satu: “Ada yang meremehkan Gay”

Setelah itu, muncul pertanyaan di benak saya?
1. Siapa yang meremehkan Gay?
2. Kenapa Gay diremehkan?

Dua pertanyaan diatas ga bisa saya jawab. Kalau rocker boleh jadi manusia, boleh punya harga diri, boleh punya pride about themself. Kenapa Gay tidak?

Hari ini saya baca koran SPITS, salah satu koran terbesar, gratis pula, di negeri antah berantah yang saya tinggali saat ini. Bahwa tiga organisasi gay mendapat penghargaan dari salah satu organisasi PBB yang mengatur sosial dan ekonomi, Economic and Social Council (ECOSOC). Mereka adalah Ilga Europe, Deense LBL dan Duitse LSVD.

Kenapa dapat penghargaan? Karena tiga organisasi ini berjuang keras untuk mengatakan “Hei, GAY juga manusia! Punya hak untuk hidup!”. Mereka berjuang agar kaum gay tidak disisihkan dilingkungannya.
Emang benar, gay disisihkan dari lingkungannya?

Astaga man! Coba sekarang kalo gue bilang gue gay… apa koment lo pada tulisan ini?
Terus coba kalo gue bilang yang baca tulisan ini adalah gay… apa koment lo pada tulisan ini?
Atau coba saat baca ini, lo bilang pada bapak lo bahwa lo gay?

Kontraversi?
PASTI!

Gay adalah kaum yang tersisihkan di Indonesia. Atau di beberapa negara-negara yang mayoritas penduduknya religius. Saya ingat, dulu waktu kecil, ketika mengaji di rumah Wak Haji Tile (serius man, guru ngaji gue dulu namanya Pak Tile. Betawi aseli. putera Cilincing 100%, sama kayak gue). Beliau menceritakan mengenai sebuah kisah dalam kitab suci bertema Sodom Gomorah. Ahh, begitu pedihnya kisah tersebut. Satu kaum yang dilaknat Tuhan. Begitu mengerikan…
Toh, cerita Sodom Gomorah begitu menakutkan di setiap telinga anak kecil… bahkan ketika sudah dewasa pun cerita itu masih menakutkan.

Lantas apa yang terjadi?
Yang saya tahu, sejak saya kecil… julukan “bencong” adalah julukan yang paling hina yang pernah ditujukan buat laki-laki!
Setiap anak laki-laki… selalu pantang disebut banci!
Setiap anak laki-laki, terlahir sebagai pemberani?

Loh bagaimana kalau dia cengeng?
Bagaimana kalau dia lebih suka main boneka-bonekaan ketimbang pistol-pistolan?

Lebih jauh lagi…,
Bagaimana kalau dia ternyata suka laki-laki?

Pasti dianggap “sakit”!
Lalu, Hetero dianggap sehat?
Astaga!
Loh terus bagaimana yang menganggap Gay itu juga manusia?
Pasti dianggap… “Ahh dasar lo banci!”
Terus bagaimana dengan orang-orang yang menganggap gay adalah sebuah penyakit?
Hah, masak lo ga tau… itu penyakit juga man… namanya Homophobic!

Terus apa hubungannya dengan Gay.Mil.Id?

Hubungannya adalah…
“Coba bayangkan, apabila semua orang di Indonesia menyisihkan kaum Gay. Dan ternyata, dalam lingkungan militer (yang kebanyakan cowok dan jarang ceweknya) ternyata banyak gaynya. Dan suatu ketika mereka kesal. Dan marah, tersisihkan dari lingkungan. Lalu, mulai mengangkat senjata membuat perekrutan melalui website gay.mil.id… Dan lalu mempunyai misi suci…, membunuhi semua hetero di Indonesia. Apa yang terjadi? Balkanisasi episode 2 atau Timorisasi versi baru? Tinggal pilih”

Ahh… itu mah paranoia yang nulis aja…

Hahaha… lo ga tau yee. Militer saja membantai PKI sampe habis. Apalagi cuma hetero!


  1. ricorea Says:

    “Hahaha… lo ga tau yee. PKI aja dibantai ama militer ampe abis. Apalagi cuma hetero!”

    Hahahahaaa… Nice quote.

    Gw juga pernah nulis artikel serupa di blog gw jg waktu gw ngomentarin film “Brokeback Mountain”.

    Intinya, klo masalah hak/asasi (sebagai manusia), gw pasti jamin dan gw ga akan/ga pernah menyisihkan kaum gay. Cuman hak asasi berkeluarga/menikah yg gw TOLAK KERAS! Bukan dgn latar belakang agama. Tp latar belakang manusia MESTI berketurunan sebagai ketentuan evolusi.

    Trus ada argumen “suatu saat manusia mempunyai hak utk tidak mempunyai keturunan”. Itu artinya ada aturan yg mesti diamandemen. Kta gw mah ENGGAK! Itu bunuh diri jek. Nah, siapa yg setuju dgn bunuh diri? Ini beda banget ame eutanasia. Hehehehe…

    Rukun yee…

  2. harry Says:

    Gay, sebagaimana makhluk hidup lainnya, tentu punya hak untuk hidup. Tapi kalau kemudian lantas dilanjutkan menjadi hak untuk mempromosikan gaya hidupnya, ini sudah tidak benar.

    Secara alami, homoseksualitas jelas adalah penyimpangan.

    Saya cerita sedikit; ada kawan saya yang gay. Tapi karena tekadnya kuat untuk berubah, maka dia bisa menikah dengan wanita. btw; kebetulan istrinya juga rada tomboy sih hehehe :)

    Saat ini anak-anak mereka justru sudah lebih banyak daripada kebanyakan pasangan lainnya. Alhamdulillah mereka, setahu saya dan pengamatan kawan2 yang lain, hidup dengan bahagia.

    Kalau gay dipromosikan, takutnya yang tidak gay pun jadi terjerumus.
    Lha yang gay saja bisa berubah jadi straight, tentu kebalikannya pun bisa saya kira.

    Tapi yang paling vital adalah agar kita dapat merangkul mereka. Jangan dimusuhi !
    Dalam kasus kawan saya diatas, walaupun terpergok basah oleh saya (kaget banget saya mas, hehehe), saya bertindak seperti biasa saja.
    Saya tetap menjadi kawannya, saya bantu jika dia ada masalah, saya beri saran kalau dia meminta, memberikan dukungan ketika dia sedang stress, dst. Sedikit2 juga memberikan nasehat2 seputar pernikahan jika sedang ada masalah.
    Alhamdulillah sampai sekarang perkembangannya terus semakin bagus (tendensi gay nya terus berkurang).

    Summary; gaya hidup gay please jangan dipromosikan. Nanti malah jadi menjerumuskan yang sebetulnya bukan gay.
    Dan jika kita tahu ada kenalan kita yang gay - jangan dikucilkan ! Rangkul dan dukung mereka dalam usahanya untuk menjadi semakin baik.

    btw; nice blog, artikel2nya walaupun baru sedikit tapi bagus-bagus ! saya paling suka yang tentang free-pitch, good stuff.
    Salam kenal dari saya.

  3. bram Says:

    halo..
    salam kenal

    ada benernya juga sih untuk ga mempromosikan gaya hidup gay.

    kadang gw juga males gaya penyiar radio jaman skg, yang malah gayish.. atau presenter di tivi-tivi yang dipikirnya makin centil makin banyak job..

    tapi sebenernya buat kalangan gay sendiri. terutama temen-temen gay yang udah bisa menrima diri bahwa, “yess, i’m gay, and there’s nothing i (nor u) could do about it,”

    bukan status orientasi mereka sebagay gay yang ingin mereka tunjukkan pada masyarakat. tapi, gay people lebih ingin membuktikan, “i’ve got something more for u to see, despite my sexual orientation. so please don’t you close your eyes on that”

    maka di sana kaum gay butuh kesempatan yang sama. dalam bidang apapun, untuk bisa menunjukkan prestasi mereka.

    saya bersyukur sebenernya sistem kita sudah mendukung persamaan hak itu. (atau mungkin sebenarnya belum pernah menyentuh pengaturan hak kaum gay)sehingga gay people masih bisa menunjukkan kebiasaanya di berbagai kesempatan.

    sayang pandangan negatif masyarakat terasa lebih kuat, sehingga banyak gay people malah menutup diri, dan tidak bisa berkembang karena alasan takut tidak diterima masyarakat.

    hampir sama kaya manusia sama ular. semua punya cara masing2 untuk mempertahankan diri. manusia takut dengan ular terus bilang ular itu jahat karena bisa melukai. sementara ular cenderung malas bertemu dengan manusia.

    sayangnya setiap manusia bertemu dengan ular, selalu berusaha membunuh ular. atau kabur sejauh mungkin. hal ini karena pemahaman yang sudah lama ditanamkan pada diri manusia. bahwa ular adalah musuh.

    sehingga ular terpaksa selalu bersikap agresif. meski hanya untuk mempertahankan diri.

    padahal kalo manusia bisa menyesuaikan diri dengan ular tersebut. atau setidaknya tidak saling mengganggu. kontak yang disertai dengan kekerasan antara ular dan manusia, akan lebih sedikit terjadi.

    well cukup dengan cerita manusia ularnya

    yang sekali lagi pengen saya tekankan. ngga pernah ada niat gay people untuk menyebarkan orientasi seksualnya. atau juga promosi. mereka ngga pernah sampai minta diadakan pride parade kaya di luar2 sana kok.

    gay people cuman ingin lebih diterima. lebih bisa saling menyesuaikan. dan tidak dipandang sebelah mata ketika kamu tau orientasi seksualnya

    they have more than that..
    and it’s good

    more about gay life
    www.queercurious.blogspot.com
    (bukan promosi, sekali lagi. hanya sekedar berbagi pendapat)


This summary is not available. Please click here to view the post.



From Ramone Johnson, Your Guide to Gay Life.

Patience is one of the hardest things to learn in life, especially while building relationships. It's known that gay relationships mature at an accelerated rate, often much faster than relationships between straight couples. Nonetheless, one thing heteros and homos have in common is the time it takes to find the right mate.

If you've fallen head over heels for a guy you had a date with, met online or in any other situation, just be patient! Take your time getting to know him. Be sure not to panic if he doesn't call you on a daily basis or if you two aren't picking out china patterns after a week of romance. If you guys hit it off, chances are he's into you as much as you are into him, but any potential relationship will be much better off if you take it slow and get to know him.

First impressions are great, but you can only get to know a person well after spending time with them. Who knows, he may turn out not to be the person you thought he was. On the other hand, he might just be the man of your dreams. Only time will tell!



Sumber Kompas Cyber Media

BENARKAH Mbak Dorce Gamalama melawan kodrat? Pertanyaan ini mungkin timbul dalam hati saat membaca wawancara Kompas dengan artis Dorce (Kompas, 27/7/2003). Pada tanggal yang sama, Suara Pembaruan Minggu mengetengahkan kisah Liz Riley, seorang ayah yang berubah menjadi ibu.

ADA orang yang terlahir lelaki namun sejak kecil merasa dirinya perempuan sehingga mereka hidup layaknya perempuan. Contohnya, dalam wawancara dengan Kompas, Mbak Dorce mengungkapkan bahwa ia sejak kecil merasa dirinya perempuan. Liz Riley terlahir lelaki, bahkan ia sempat kawin dan memiliki anak, namun ia selalu merasa dirinya perempuan, sehingga akhirnya memutuskan untuk hidup sebagai ibu.

Sebaliknya, ada juga orang yang terlahir perempuan tetapi merasa dirinya lelaki sehingga mereka hidup sebagai laki-laki. Contohnya Brandon Teena, yang hidupnya dikisahkan dalam film pemenang Oscar, Boys Don’t Cry. Contoh lainnya Billy Tipton, musisi jazz Amerika, yang dikenal sebagai lelaki ramah, suami dari empat istri, dan ayah bagi sejumlah anak. Namun, ketika ia meninggal, petugas jenazah mendapati ia memiliki alat genital wanita.

Mereka merupakan contoh kaum transseksual. Ada yang disebut male-to-female transsexual (MFT), yaitu transseksual dari lelaki ke perempuan. Sebaliknya, Brandon Teena dan Billy Tipton disebut female-to-male transsexual (FMT), yaitu transseksual dari perempuan ke lelaki.


Hakikat transseksual

Selama ini alat kelamin fisik, berupa alat reproduksi, sering dianggap satu-satunya penentu perilaku jenis seseorang. Padahal, masih ada variabel lain, yaitu identitas jenis kelamin (sex identity) atau identitas jender, yang ditemukan pada tahun 1972 oleh Money dan Erhardt setelah meneliti ratusan individu. Menurut Kessler dan McKeena, dalam Gender: An Ethnomethodological Approach (1978), identitas jenis kelamin adalah perasaan mendalam atau keyakinan dalam batin seseorang yang membuatnya merasa sebagai lelaki atau perempuan. Dengan kata lain, identitas jenis kelamin adalah keyakinan mendalam pada seseorang tentang apakah dia itu pria atau wanita.

Sex identity, yang dapat disebut jenis kelamin jiwa, semata-mata tergantung dari perasaan orang bersangkutan dan tidak selalu sejalan dengan penilaian orang, pakar sekalipun. Jenis kelamin jiwa merupakan variabel mandiri terhadap seks fisik, artinya dapat sejalan atau bertolak belakang dengan kelamin fisik. Jenis kelamin jiwa mulai tertanam pada usia dua tahun, namun biasanya mulai disadari dengan kuat menjelang remaja.

Mayoritas warga memiliki sex identity sesuai dengan jenis kelamin fisiknya. Namun, transseksual memiliki sex identity berbeda dari seks fisiknya. Jadi, MFT bertubuh lelaki tetapi merasa dirinya perempuan. Sebaliknya, FMT bertubuh perempuan namun merasa dirinya lelaki (bukan sekadar tomboi, karena seseorang yang tomboi, sekalipun berperilaku kelaki-lakian, masih tetap merasa perempuan). Karena itulah, MFT berperilaku sebagai perempuan. Masalahnya, masyarakat sering menyalahkan, mengapa orang yang terlahir laki-laki sampai merasa dan berperilaku sebagai perempuan dan sebaliknya pada FMT.

Sebelum sex identity ditemukan, para pakar menganggap transseksual merupakan orang abnormal yang perlu disembuhkan dengan aneka terapi, termasuk kejutan listrik. Namun, kini disadari bahwa sex identity lebih kuat daripada kelamin fisik. Karena itu, jika seorang transseksual diminta menyelaraskan perilaku dengan bentuk fisiknya, yang lebih banyak terjadi bukan perubahan perilaku, melainkan perubahan fisik.

Penyebab transseksual belum dapat ditentukan secara pasti. Sebagian menduga pengaruh hormon dalam kandungan. Misalnya, kekurangan testosteron pada janin dengan kelamin fisik lelaki dapat menyebabkannya memiliki kelamin jiwa perempuan. Sebaliknya, kelebihan testosteron pada janin dengan kelamin fisik perempuan dapat menyebabkannya memiliki seks jiwa lelaki. Namun, sebab sebenarnya masih merupakan misteri.

Variabel yang juga menentukan perilaku adalah orientasi seks, kecenderungan mencari pasangan. Umumnya, transseksual tertarik terhadap lawan jenis sehingga mirip warga masyarakat umumnya. Namun, ada juga transseksual yang tertarik kepada kaum sejenis. Contohnya Julie Peters, politisi Australia, yang terlahir sebagai lelaki tetapi memiliki sex identity perempuan. Setelah usia 40 tahun Julie memutuskan menjalani operasi dan menjadi perempuan. Namun, Julie mengaku tetap tertarik kepada perempuan.


Lorong kegelapan?

Seorang bijak pernah mengatakan, "Apakah gunanya seseorang mendapatkan seluruh dunia tetapi kehilangan dirinya sendiri?" Banyak orang mengamini sabda tersebut, tetapi tidak mau menerima bahwa bagi transseksual, diri sendiri itu adalah jati dirinya sesuai dengan sex identity yang dimiliki. Dengan demikian, transseksual yang terpaksa menutupi atau mengingkari jati dirinya bisa saja kelihatan sukses, tetapi dari hari ke hari ia hidup dalam kehampaan, karena mendapatkan dunia tetapi kehilangan dirinya sendiri.

Sungguh beruntung jika seorang transseksual diterima lingkungannya, baik keluarga, sekolah, pekerjaan, maupun masyarakat. Namun, sebagian besar transseksual masih belum diterima lingkungannya, bahkan oleh keluarganya sendiri. Para transseksual ini terpaksa memilih satu di antara dua pilihan yang sama pahitnya, yaitu terbuang dari lingkungannya atau berpura-pura menutupi jati dirinya.

Pada pilihan kedua, seorang MFT, yang memiliki jati diri perempuan, akan berpura-pura menjadi "lelaki biasa", agar diterima lingkungannya. Namun, ia akan hidup dalam tekanan batin yang luar biasa dan tiada hentinya. Selagi mayoritas warga bangsanya mensyukuri nikmatnya hidup di alam kemerdekaan, banyak transseksual belum dapat merasakan apa makna kemerdekaan itu sesungguhnya. Jutaan transseksual hidup dalam lorong kegelapan, menunggu kapan sinar terang akan muncul pada akhir lorong tersebut.

Masyarakat demokratis mensyaratkan asas pluralisme dan egalitarianisme. Setiap orang, sekalipun berbeda, mendapat perlakuan sederajat, sejauh yang bersangkutan tidak melakukan hal-hal yang merugikan orang lain. Kaum transseksual hanyalah orang yang berbeda, yaitu pada identitas seksualnya. Seyogianya, perbedaan ini tidak dijadikan dasar untuk meminggirkan atau mendiskriminasikan mereka, sebagaimana masyarakat juga tidak boleh mendiskriminasi orang yang berbeda warna kulit, keyakinan, atau status sosialnya.

Di lain pihak, kaum transseksual perlu menghindari perilaku yang menimbulkan citra negatif, seperti berdandan terlalu mencolok, memperlihatkan obsesi berlebihan terhadap lelaki, dan menjadi pekerja seks komersial. Penting sekali agar para transseksual dapat membangun citra yang positif, di antaranya lewat prestasi, seperti telah diperlihatkan Mbak Dorce dan mendiang Billy Tipton.

Semoga seiring dengan meningkatnya pemahaman, masyarakat dapat menerima dengan wajar kaum transseksual, baik yang telah operasi maupun belum, sesuai jati diri yang mereka miliki, agar mereka dapat berdarma bakti secara optimal. Negeri ini sedang dilanda krisis multidimensi dan untuk mengatasinya diperlukan kerja sama seluruh komponen bangsa. Lebih dari itu, Prof Vern Bullough dari California State University, dalam "Transgenderism and the Concept of Gender" (International Journal of Transgenderism, Special Issue, tahun 2000), menyatakan pemahaman terhadap kaum transseksual akan bermanfaat besar untuk memahami konsep jender secara lebih komprehensif, hal yang sangat diperlukan guna membangun masyarakat dunia yang lebih manusiawi.

Bambang Suwarno Aktivis Perempuan dan Relasi Jender, Tinggal di Bengkulu

Excerpted from "The Complex Interaction of Genes and Environment: A Model for Homosexuality" by Jeffrey Satinover,M.D.

It may be difficult to grasp how genes, environment, and other influences interrelate to one another, how a certain factor may "influence" an outcome but not cause it, and how faith enters in. The scenario below is condensed and hypothetical, but is drawn from the lives of actual people, illustrating how many different factors influence behavior.

Note that the following is just one of the many developmental pathways that can lead to homosexuality, but a common one. In reality, every person's "road" to sexual expression is individual, however many common lengths it may share with those of others.

(1) Our scenario starts with birth. The boy (for example) who one day may go on to struggle with homosexuality is born with certain features that are somewhat more common among homosexuals than in the population at large. Some of these traits might be inherited (genetic), while others might have been caused by the "intrauterine environment" (hormones). What this means is that a youngster without these traits will be somewhat less likely to become homosexual later than someone with them.

What are these traits? If we could identify them precisely, many of them would turn out to be gifts rather than "problems," for example a "sensitive" disposition, a strong creative drive, a keen aesthetic sense. Some of these, such as greater sensitivity, could be related to - or even the same as - physiological traits that also cause trouble, such as a greater-than-average anxiety response to any given stimulus.

No one knows with certainty just what these heritable characteristics are; at present we only have hints. Were we free to study homosexuality properly (uninfluenced by political agendas) we would certainly soon clarify these factors - just as we are doing in less contentious areas. In any case, there is absolutely no evidence whatsoever that the behavior "homosexuality" is itself directly inherited.

(2) From a very early age potentially heritable characteristics mark the boy as "different." He finds himself somewhat shy and uncomfortable with the typical "rough and tumble" of his peers. Perhaps he is more interested in art or in reading - simply because he's smart. But when he later thinks about his early life, he will find it difficult to separate out what in these early behavioral differences came from an inherited temperament and what from the next factor, namely:

(3) That for whatever reason, he recalls a painful "mismatch" between what he needed and longed for and what his father offered him. Perhaps most people would agree that his father was distinctly distant and ineffective; maybe it was just that his own needs were unique enough that his father, a decent man, could never quite find the right way to relate to him. Or perhaps his father really disliked and rejected his son's sensitivity. In any event, the absence of a happy, warm, and intimate closeness with his father led to the boy's pulling away in disappointment, "defensively detaching" in order to protect himself.

But sadly, this pulling away from his father, and from the "masculine" role model he needed, also left him even less able to relate to his male peers. We may contrast this to the boy whose loving father dies, for instance, but who is less vulnerable to later homosexuality. This is because the commonplace dynamic in the pre-homosexual boy is not merely the absence of a father - literally or psychologically - but the psychological defense of the boy against his repeatedly disappointing father. In fact, a youngster who does not form this defense (perhaps because of early-enough therapy, or because there is another important male figure in his life, or due to temperament) is much less likely to become homosexual.

Complementary dynamics involving the boy's mother are also likely to have played an important role. Because people tend to marry partners with "interlocking neuroses," the boy probably found himself in a problematic relationship with both parents.

For all these reasons, when as an adult he looked back on his childhood, the now-homosexual man recalls, "From the beginning I was always different. I never got along well with the boys my age and felt more comfortable around girls." This accurate memory makes his later homosexuality feel convincingly to him as though it was "preprogrammed" from the start.

(4) Although he has "defensively detached" from his father, the young boy still carries silently within him a terrible longing for the warmth, love, and encircling arms of the father he never did nor could have. Early on, he develops intense, nonsexual attachments to older boys he admires - but at a distance, repeating with them the same experience of longing and unavailability. When puberty sets in, sexual urges - which can attach themselves to any object, especially in males - rise to the surface and combine with his already intense need for masculine intimacy and warmth. He begins to develop homosexual crushes. Later he recalls, "My first sexual longings were directed not at girls but at boys. I was never interested in girls."

Psychotherapeutic intervention at this point and earlier can be successful in preventing the development of later homosexuality. Such intervention is aimed in part at helping the boy change his developing effeminate patterns (which derive from a "refusal" to identify with the rejected father), but more critically, it is aimed at teaching his father - if only he will learn - how to become appropriately involved with and related to his son.

(5) As he matures (especially in our culture where early, extramarital sexual experiences are sanctioned and even encouraged), the youngster, now a teen, begins to experiment with homosexual activity. Or alternatively his needs for same-sex closeness may already have been taken advantage of by an older boy or man, who preyed upon him sexually when he was still a child. (Recall the studies that demonstrate the high incidence of sexual abuse in the childhood histories of homosexual men.) Or oppositely, he may avoid such activities out of fear and shame in spite of his attraction to them. In any event, his now-sexualized longings cannot merely be denied, however much he may struggle against them. It would be cruel for us at this point to imply that these longings are a simple matter of "choice."

Indeed, he remembers having spent agonizing months and years trying to deny their existence altogether or pushing them away, to no avail. One can easily imagine how justifiably angry he will later be when someone casually and thoughtlessly accuses him of "choosing" to be homosexual. When he seeks help, he hears one of two messages, and both terrify him; either, "Homosexuals are bad people and you are a bad person for choosing to be homosexual. There is no place for you here and God is going to see to it that you suffer for being so bad;" or "Homosexuality is inborn and unchangeable. You were born that way. Forget about your fairytale picture of getting married and having children and living in a little house with a white picket fence. God made you who you are and he/she destined you for the gay life. Learn to enjoy it."

(6) At some point, he gives in to his deep longings for love and begins to have voluntary homosexual experiences. He finds - possibly to his horror - that these old, deep, painful longings are at least temporarily, and for the first time ever, assuaged.

Although he may also therefore feel intense conflict, he cannot help admit that the relief is immense. This temporary feeling of comfort is so profound - going well beyond the simple sexual pleasure that anyone feels in a less fraught situation - that the experience is powerfully reinforced. However much he may struggle, he finds himself powerfully driven to repeat the experience. And the more he does, the more it is reinforced and the more likely it is he will repeat it yet again, though often with a sense of diminishing returns.

(7) He also discovers that, as for anyone, sexual orgasm is a powerful reliever of distress of all sorts. By engaging in homosexual activities he has already crossed one of the most critical and strongly enforced boundaries of sexual taboo. It is now easy for him to cross other taboo boundaries as well, especially the significantly less severe taboo pertaining to promiscuity. Soon homosexual activity becomes the central organizing factor in his life as he slowly acquires the habit of turning to it regularly - not just because of his original need for fatherly warmth of love, but to relieve anxiety of any sort.

(8) In time, his life becomes even more distressing than for most. Some of this is in fact, as activists claim, because all-too-often he experiences from others a cold lack of sympathy or even open hostility. The only people who seem really to accept him are other gays, and so he forms an even stronger bond with them as a "community." But it is not true, as activists claim, that these are the only or even the major stresses. Much distress is caused simply by his way of life - for example, the medical consequences, AIDS being just one of many (if also the worst). He also lives with the guilt and shame that he inevitably feels over his compulsive, promiscuous behavior; and too over the knowledge that he cannot relate effectively to the opposite sex and is less likely to have a family (a psychological loss for which political campaigns for homosexual marriage, adoption, and inheritance rights can never adequately compensate).

However much activists try to normalize for him these patterns of behavior and the losses they cause, and however expedient it may be for political purposes to hide them from the public-at-large, unless he shuts down huge areas of his emotional life he simply cannot honestly look at himself in this situation and feel content.

And no one - not even a genuine, dyed-in-the-wool, sexually insecure "homophobe" - is nearly so hard on him as he is on himself. Furthermore, the self-condemning messages that he struggles with on a daily basis are in fact only reinforced by the bitter self-derogating wit of the very gay culture he has embraced. The activists around him keep saying that it is all caused by the "internalized homophobia" of the surrounding culture, but he knows that it is not.

The stresses of "being gay" lead to more, not less, homosexual behavior. This principle, perhaps surprising to the layman (at least to the layman who has not himself gotten caught up in some pattern, of whatever type) is typical of the compulsive or addictive cycle of self-destructive behavior; wracking guilt, shame, and self-condemnation only causes it to increase. It is not surprising that people therefore turn to denial to rid themselves of these feelings, and he does too. He tells himself, "It is not a problem, therefore there is no reason for me to feel so bad about it."

(9) After wrestling with such guilt and shame for so many years, the boy, now an adult, comes to believe, quite understandably - and because of his denial, needs to believe - "I can't change anyway because the condition is unchangeable." If even for a moment he considers otherwise, immediately arises the painful query, "Then why haven't I...?" and with it returns all the shame and guilt.

Thus, by the time the boy becomes a man, he has pieced together this point of view: "I was always different, always an outsider. I developed crushes on boys from as long as I can remember and the first time I fell in love it was with a boy, not a girl. I had no real interest in members of the opposite sex. Oh, I tried all right - desperately. But my sexual experiences with girls were nothing special. But the first time I had homosexual sex it just 'felt right.' So it makes perfect sense to me that homosexuality is genetic. I've tried to change - God knows how long I struggled - and I just can't. That's because it's not changeable. Finally, I stopped struggling and just accepted myself the way I am."

(10) Social attitudes toward homosexuality will play a role in making it more or less likely that the man will adopt an "inborn and unchangeable" perspective, and at what point in his development. It is obvious that a widely shared and propagated worldview that normalizes homosexuality will increase the likelihood of his adopting such beliefs, and at an earlier age. But it is perhaps less obvious - it follows from what we have discussed above - that ridicule, rejection, and harshly punitive condemnation of him as a person will be just as likely (if not more likely) to drive him into the same position.

(11) If he maintains his desire for a traditional family life, the man may continue to struggle against his "second nature." Depending on whom he meets, he may remain trapped between straight condemnation and gay activism, both in secular institutions and in religious ones. The most important message he needs to hear is that "healing is possible."

(12) If he enters the path to healing, he will find that the road is long and difficult - but extraordinarily fulfilling. The course to full restoration of heterosexuality typically lasts longer than the average American marriage - which should be understood as an index of how broken all relationships are today.

From the secular therapies he will come to understand what the true nature of his longings are, that they are not really about sex, and that he is not defined by his sexual appetites. In such a setting, he will very possibly learn how to turn aright to other men to gain from them a genuine, nonsexualized masculine comradeship and intimacy; and how to relate aright to woman, as friend, lover, life's companion, and, God willing, mother of his children.

Of course the old wounds will not simply disappear, and later in times of great distress the old paths of escape will beckon. But the claim that this means he is therefore "really" a homosexual and unchanged is a lie. For as he lives a new life of ever-growing honesty, and cultivates genuine intimacy with the woman of his heart, the new patterns will grow ever stronger and the old ones engraved in the synapses of his brain ever weaker.

In time, knowing that they really have little to do with sex, he will even come to respect and put to good use what faint stirrings remain of the old urges. They will be for him a kind of storm-warning, a signal that something is out of order in his house, that some old pattern of longing and rejection and defense is being activated. And he will find that no sooner does he set his house in order that indeed the old urges once again abate. In his relations to others - as friend, husband, professional - he will now have a special gift. What was once a curse will have become a blessing, to himself and to others.

Blog Widget by LinkWithin
10% Off All Fragrances
Get 10% off every item you purchase at FragranceX.com!